Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, November 12, 2009

Tari Hula-hula


Bagiamana mengatasi partner yang lagi ngambek? Ada banyak cara untuk membujuk partner. Bisa dengan pelukan, bunga, permohonan maaf atau ucapan sayang. Tapi berbeda dengan Mel. Kalau ngambek, perempuan gokil ini hanya mau ditaklukan dengan tarian. Setiap kali ngambek dia akan menyuruh aku menari ala Jacko dengan sentuhan-sentuhan khas di bagian itu loh... atau menari jaipong dengan goyangan dada yang aduhai atau menari hula-hula ala Hawaii dengan pakaian khasnya.

Kenapa mesti menari? Apakah karena De Ni jago menari? Jawabannya adalah justru karena aku tidak bisa menari sama sekali, sehingga dengan otomatis aku akan menghasilkan gerakan-gerakan tari yang kaku, aneh, ancur dan patut untuk diberikan timpukan. Nah ternyata tarian seperti inilah yang diharapkan oleh Mel, tarian yang bisa membangkitkan gelak tawanya. Tarian yang membuatnya terbahak-bahak. Mel terhibur bukan dari bagusnya tarian, namun justru dari amburadulnya tarian itu. Namun bagiku tarian itu adalah ngengat yang siap menggerogoti image dan gambar diriku yang keren, menarik, cool dan berwibawa. Tarian itu hanya akan membuat Om Deni yang macho menjadi seperti banci kaleng yang sedang kehilangan jepit rambut.

Seperti hari itu, saat Mel ngambek gara-gara aku nekat makan setoples kripik singkong, secara selama ini memang Mel mengharamkan aku untuk makan semua jenis gorengan lantaran penyakit radang tenggorokanku yang gampang kumat jika bersentuhan dengan gorengan. Waktu itu Mel marah berat dan meminta aku menari hula-hula. Ayolah sis! Jangan bayangkan aku menari dengan kemeja kerja dan baju tidur. Ini emang gokil, tapi nyata. Mel menyuruh aku menari dengan menggunakan atribut Hawaai yaitu bra, mahkota rumbai dan rok dalam. Kalau mencari bra seh gampang, secara aku sendiri kan punya banyak bra. Kalau mahkota biasanya aku buat dengan menggunakan hiasan pohon natal berbentuk rumbai yang dipotong hingga ukurannya sama dengan lingkaran kepala. Nah yang paling sulit adalah mencari rok dalam. Hm... aku nggak punya rok dalam, maka biasanya aku meminjam rok dalam Mami. Eh sebenernya bukan minjam seh tapi mengambil tanpa seijin pemiliknya. Kenapa aku nggak minta ijin ke mami? Please deh! Ini bukan masalah moral, tapi kalau seandainya mami tanya, "Buat apa?," entah jawaban apa yang bisa kuberi. Jadi pinjam secara diam-diam adalah pilihan paling tepat. Toh cuma sebentar kan?

Oke Beib semua udah lengkap. Ada Om De Ni, ada Bra, ada mahkota dan ada rok dalam. Sekarang tinggal putar musiknya dan saksikan Om menari. Seiring dengan tarian yang aku sajikan, Mel berguling-guling di kasur sambil tertawa tanda bahwa dia menikmati tarianku. Setelah beberapa menit menari tiba-tiba Mel terdiam sejenak. Aku jadi ikutan bengong. Tapi tiba-tiba dia tertawa lebih keras dari sebelumnya. Melihat Mel sangat bahagia, aku melah semakin hot menari. Pertanda baik neh, berarti ngambeknya akan cepat hilang. Namun dalam tawa Mel yang makin keras tiba-tiba aku mendengar samar-samar suara tawa asing yang ikut nimbrung. Aku terdiam, kusadari ada yang tidak beres. Ada audience ilegal yang tiba-tiba masuk ruang pertunjukan tanpa tiket. Ingin rasanya aku segera memanggil security untuk mengamankan ruang pentas. Tapi mana ada security??? Aku pasrah. Aku menengok perlahan untuk mengetahui siapa penonton yang tak bertiket itu. ASTAGA!!! Aku terbelalak bukan kepalang. MAMI??? Si Mami berdiri di belakangku sambil terus memperhatikan rok dalam coklat miliknya. Aku meremas rok itu menahan takut dan malu. Mampus deh, diomelin deh neh, aku pakai rok mami nggak bilang-bilang.

"Maaf tadi belum bilang... Pinjam Mi roknya yha, buat latihan main drama. Hehehehe..."

Si mami terdiam, keringat dingin mengucur. Mami berjalan berkeliling mengitari tubuhku sambil melihat dengan seksama dari ujung rambut hingga jempol kakiku yang seksi. Mel ikut terdiam dan tegang. Aduh gimana ini??? Aku dan Mel saling berpandang, wajah kami sungguh cemas. Suasana kamar hening saat itu. Sampai akhirnya mami berkata-kata,

"Udah lama Den?"

Aku menunduk, "Baru kali ini kok Mi, baru kali ini saya pinjam rok mami nggak bilang-bilang. Beneran deh Mi. Maaf yha Mi..."

"Nggak, mami bukan tanya soal rok. Maksudnya Mami mau tanya, kamu udah lama gila???" Pertanyaan Mami diiringi dengan tawanya yang besar. Mel yang saat itu bengong jadi ikutan tertawa. Kali ini tertawanya lebih besar dari sebelumnya. Ibu dan anak itu duduk di kasur berdampingan sambil tak putusnya menertawakan penari hula-hula, eh penari gila. Emang beneran kayak orang gila apa???

Huh!!! Mereka tertawa, dan tinggallah aku manyun sendiri dengan mahkota, bra dan rok dalam. Siallll betullll....


Kekuatiran terhadap hal-hal buruk hanya akan menekan jiwa yang mestinya gembira...

Selasa, Oktober 20, 2009

Aku dan Alam Ini


Mungkin matahari begitu marah pada bumi, hingga panas amarahnya terasa membakar tubuh. Meski hari itu masih jam tujuh pagi, namun sengatnya telah masuk ke celah-celah jaket dan membuat tubuhku banjir keringat. Global warming telah membuat kita tak mampu lagi menikmati kesejukan pagi. Ini adalah salah bumi yang seenaknya menebang serta membakar hutan tanpa henti dan tanpa regenerasi. Kemanakah kesejukan alamku pergi?

Mungkin burung, kodok dan jangkrik marah pada bumi, hingga mereka bersembunyi entah di mana. Tiap hari kucari suaranya bernyanyi, tapi yang kudapat hanya sunyi. Sejak persawahan berganti jadi perumahan, burung, kodok dan jangkrik menjadi makhluk yang susah ditemui, padahal aku sangat rindu pada suara mereka bersenandung. Kini alamku terasa begitu hampa. Ini adalah salah bumi yang merubah persawahan yang luas menjadi perumahan yang gersang. Kemanakah nyanyian alamku pergi?

Mungkin air marah pada bumi, sehingga berbondong-bondong mereka menyerang, menyergap dan membuat manusia panik pada bencana banjir. Bukan cuma harta benda yang lenyap, tapi nyawa orang tercinta pun ikut terenggut. Ini adalah salah bumi yang membuang sampah sembarangan dan menebang pepohonan penahan air tanpa henti. Kemanakah gemericik air sungai yang tenang di alamku pergi?

Mungkin anak-anak marah pada bumi, sehingga mereka mengurung diri di rumah dan bermain play station. Padahal dulu mereka berjingkrak, berkejaran dan meledak dalam tawa di lapangan rumput yang luas. Ada banyak permainan di sana, sepakbola, galaksin, kasti, enggrang, petak umpat, petak jongkok, petak batu, dampu gunung, taplak, lompat tali dan memanjat pohon. Tapi kini semua sibuk pada permainannya sendiri. Anak-anak menjadi individual, tak kenal permainan tradisional yang sebenarnya sangat bermanfaat mengajarkan anak menjadi kreatif dan mampu bersosialisasi dengan baik. Dalam permainan tradisional itu, anak-anak diajarkan bekerja sama dalam team, berjuang mencapai kemenangan dan menerima kekalahan. Dalam permainan modern seperti play station, maka pelajaran tentang arti bersosialisasi ini tidak akan didapat. Ini adalah salah bumi yang mengambil alih lapangan rumput yang hijau membentang, menebang pohon-pohon besar yang rindang dan merubah lahan itu menjadi pabrik kecap yang menambah polusi dan limbahnya mengotori bumi. Anak-anak tidak punya tempat bermain, kadang mereka harus menggunakan jalan raya untuk bermain bola dan layang-layang. Sungguh mengenaskan. Kemanakah gelak tawa alamku pergi?

Siapa yang patut disalahkan??? Semua orang merusak alam untuk kepentingannya sendiri. Mereka punya uang dan kekuasaan untuk merubah bumi menjadi apa yang mereka mau. Tinggalkah aku sendiri menangis dan merengkuk tanpa daya. Ingin rasanya aku mencegah mereka menebangi pohon-pohon di hutan atau memaksa mereka menanam kembali pohon-pohon baru, tapi apa dayaku??? Ingin rasanya aku berkacak pinggang mempertahankan hamparan sawah yang luas dengan kicauan burung, suara jangkrik dan nyanyian kodok, tapi apa dayaku??? Ingin rasanya aku menghajar mereka yang sembarangan melempar sampah ke kali dan memaksa mereka membersihkan sampah-sampah yang membendung, tapi apakah dayaku??? Ingin rasanya aku mempertahankan lapangan rumput tempat aku dan anak-anakku menghabiskan waktu sorenya dengan bermain gembira, tapi apakah dayaku??? Seandainya aku punya daya, maka akan kubeli bumi ini, kujadikan asri dan lestari demi kelangsungan hidup generasi di bawahku kelak.

Tapi apa dayaku????

Aku lemah tak berdaya. Aku pecundang, bodoh dan cacat. Aku hanya bisa menangisi kehancuran alamku pada tempat persembunyianku. Aku hanya berani mengungkapkan kepedihanku pada goresan naskah ini. Semoga suatu saat akan tampil orang-orang yang lebih berani untuk menyuarakan kepedihannya, untuk membangkitkan para pecundang bodoh seperti aku agar mampu berteriak lebih keras.

Selamatkan bumiku....

Kamis, September 03, 2009

Gempar Gempa


Siang itu aku ngantuk berat akibat kurang tidur. Selasa malam Mel sakit, jadi aku manja-manjain dia sampai larut malam. Kantor juga sepi banget, semua karyawan pada asik dengan komputernya masing-masing. Kecuali Tommy, temen kantorku yang paling gendut. Sudah beberapa kali lelaki itu bolak-balik ke ruanganku resah. "Aduh Den laper neh gue. Ada apa nggak gitu? biasanya lo bawa makanan."

"Mel lagi sakit, jadi hari ini gue nggak bawa makanan apa-apa. Lagian elo mah, asal dapat kerjaan dikit langsung lapar. Udah kelarin noh tumpukan uangnya. Ntar gue rampok loh!"

Tommy balik ke ruangannya lemas, nggak lama dia teriak, "Den, gue mau pesan Indomie. Lo mau nggak?"

"Gue lagi puasa. Hahahahaha."

"Ajegile lo puasa. Serius neh, kalau mau gue bayarin tapi nggak pake telor yha. Mahal!!!"

"Idiiiih dasar medit. Nggak ah..."

Tommy lanjut menyelesaikan tugasnya menaruh tumpukan uang ke beberapa amplof untuk dibagikan kepada para penulis jurnal. Nggak lama seorang perempuan datang dengan semangkuk mie goreng. Dan seperti biasa, Tommy langsung ngomel, "Kok lama banget seh Mbak? Saya udah laper neh! Kalau saya kurus gimana? Loh Kok nggak pake bawang goreng?"
"Ini bukannya saya udah kasih bawang goreng mas?"
"Iya kok dikit?"
"Dikit bukan berarti nggak ada kan?"
"Iya iya, bisa ditambah nggak bawang gorengnya?"
"Ya udah mangkoknya saya bawa lagi yha."
"Yaaaaaah. Udah deh nggak usah, saya udah laper."

Perempuan itu langsung pergi, kayaknya dia jengkel banget sama ulah si Tommy. Melewati ruanganku, perempuan itu sempet melirik dan bergumam pelan, "Bawel" sambil nunjuk ruangan si Tommy.

Aku nyahut pelan, "Embeeeerrr."

Baru saja perempuan itu berlalu, tiba-tiba ruang kerjaku terguncang. Awalnya aku kira itu ulah Tommy yang kebetulan emang sering loncat kesana kemari. Tapi ternyata guncangannya makin hebat. Si Tommy yang emang orangnya suka rada lebay, langsung teriak ke sekenceng-kencengnya, "TOLOOOOOOOONG!!! GEMPA!!! SEMBUNYI DI KOLONG MEJA!!!" Aku jadi ikutan panik dan pengen ikut sembunyi di kolong meja, tapi karena ruanganku berantakan dan amburadul, kolong mejaku penuh sesak dengan tumpukan dus, jadi hanya kepalaku aja yang bisa masuk ke kolong meja.

Si Tommy yang ngusulin sembunyi di bawah kolong meja malah kabur duluan. Sebelum turun dia sempet-sempetnya teriak, "DEN KALAU CUMA KEPALA LO DOANG YANG MASUK KOLONG MEJA, LO BISA TETEP MATI. DASAR OON. TURUNNNN TURUN SEMUAAAAA." (Hikh dasar congor lo Tom!!! Seluruh kantor jadi tahu deh kalau panik aku suka jadi OON).

Semua kacau deh, kak Santi salah satu teman kantorku jadi ikutan panik, dia langsung teriak "TAS MASUKIN KE DOMPET!!! TAS MASUKIN KE DOMPET." Padahal kan yang benar "Dompet masukin ke tas" Hehehehehe.

Pokoknya orang sekantor pada panik dan ngelakuin hal-hal yang nggak jelas. Mereka berebutan turun tangga. Aku juga ikutan lari, yang aku bawa saat itu hanya HP, secara yang ada di otakku cuma pengen menelepon Mel, keluarga dan temen-temen. Aku pusing dan limbung sampe-sampe nyusruk ke tembok.

Pas mau turun tangga aku baru sadar kalau aku mesti balik untuk mengambil tas secara banyak dokumen penting dalam tas itu. So, dengan tertatih Aku balik lagi ke ruanganku. Sesampainya kembali di ruangan, gempa sudah mulai reda, meski masih ada sedikit getaran. Tapi aku tetep kekeh mau turun karena takut ada gempa susulan. Pas mau turun lagi, niat itu aku batalkan saat melihat Mbak Tina, teman sekantorku yang lagi hamil tua cuma duduk diam sambil nangis. Aku menghampirinya, "Tenang Mbak. Jangan nangis. Ayo kita turun."

"Kaki Mbak lemas Den. Nggak bisa jalan."

"Ya udah ke ruanganku aja, di sini banyak kaca. Ngerri."

Aku menuntun Mbak Tina pelan. Aduh jujur aku pengen banget keluar dari gedung ini, tapi nggak mungkin aku tinggalin Mbak Tina sendirian. Aku tegang, meski akhirnya aku bisa menarik nafas panjang saat mendengar anak-anak disain masih kasak kusuk di ruangannya, berarti kami nggak sendiri. "Gedung ini kuat nahan gempa nggak seh?" Aku teriak kepada anak-anak disain.

"Tenang Den, ada Tuhan Yesus. Imannuel, Tuhan beserta kita."

Aku jadi tambah lega meski perutku terasa mual sekali. Kuambilkan segelas air hangat untuk mbak Tina. Aku langsung menelepon Mel dan memastikan dia baik-baik saja, memberi tahu teman chatku tentang terjadinya gempa ini. Lalu menghubungi Jo untuk memastikan dia juga dalam keadaan baik.

Mbak Tina masih gemetaran saat deringan HP berbunyi dari ruangan Tommy. Kulongok ruangnya. Semua barang-barangnya masih lengkap di mejanya. HP, laptop, tas, meski puluhan lembar uang seratus ribuan bercecer di lantai. Entah uang-uang itu tercecer karena gempa atau karena kepanikan Tommy yang akhirnya membuat dia nabrak sana sini.

"Si Tommy sakin paniknya keluar nggak bawa apa-apa loh mbak. Aku jadi malu sama dia. Aku masih bawa barang tadi."

Mbak Tina tersenyum. Aku melongok ke jendela. Di parkiran kulihat puluhan teman-temanku beserta para boss sudah berkumpul di sana. Tak sulit untuk menemukan Tommy yang tambun di antara kumpulan orang. Astaga... Si Tommy itu malu-maluin deh!!! Untung nggak ada stasiun TV yang meliput kantor kami saat kejadian gempa itu. Kalau ampe ada yang meliput, bisa rusak image kantorku di hadapan seantero Indonesia.

"Mbak Tina, liat deh apa yang diselamatkan si Tommy."

Mbak Tina ikut ngelongok ke jendela. Sepontan kami tertawa terbahak-bahak. Ayo tebak, apa yang Tommy selamatkan? Si Tommy itu hanya menyelamatkan semangkok mie goreng yang barusan dia pesan. Yang lebih geblek lagi, di parkiran dia malah mondar mandir kebingungan sambil terus menyuap mie ke dalam mulutnya sampai mienya habis.

"Tommy emang rada-rada kali yha mbak, orang panik gini dia masih sempet-sempetnya ngabisin mie."

"Otaknya nggak jauh-jauh dari makan. Hahhahaha" kami ketawa lagi

"Sekarang masih lemes Mbak?"

"Nggak. Thanks yha Den. Tuhan emang baik, Dia kirim Tommy untuk bikin kita jadi nggak tegang lagi. Heheheheh. O iya Den, tadi pas turun kamu bawa apa?"

"HP, kenapa Mbak?"

"Hm... Saat panik orang akan membawa hal yang dianggapnya sangat penting. Dan menurut Mbak, yang terpenting dalam hidupmu adalah keluarga dan sahabat, makanya kamu bawa HP untuk hubungi mereka. Betul nggak?"

"Amin."

Aku kembali menatap keluar jendela. Si Tommy masih nenteng mangkok mie kesana kemari sambil mewawancarai beberapa orang. Aku menarik nafas panjang... Semoga semua keluarga, teman dan sahabatku dalam keadaaan baik.

Selasa, September 01, 2009

Ayo Berbagi Pengalaman!!!


Udah jatuh ketimpa tangga, digigit anjing, ditabrak bajaj, kelindas mesin giling lalu diketawain tetangga. Sial banget dah tuh!!! Serangkaian kesialan ini seharusnya cuma ada di sitkom, situasi komedi yang memang berniat memancing tawa penonton atas segala kesialan yang menimpa sang tokoh.

Tapi pernahkah hal ini terjadi dalam kisah nyatamu? Pernahkah kau mengalami kesialan yang berubi-tubi? Ayo ceritakan di sini pengalamanmu itu. Sebab ternyata ini bukan hanya sebuah sekenario sitkom. Dalam kehidupan nyata semua hal ini mungkin bisa terjadi. Bahkan aku dan Mel adalah saksi hidup terhadap fenomena gaib kesialan beruntun ini.

Yang bener neh? serius? sumpah? emang ada yha? masa seh? ntar boong lagi?. Ssssttt, makanya dengar dulu ceritanya. Ini kisah nyata, nggak dibuat-buat...

Pada suatu malam yang pekat, aku dan Mel pulang kerja dengan menggunakan sepeda motor. Kami bernyanyi gembira mulai dari lagu Hill The World-nya Jacko sampai lagu Belah Duren-nya Jupe. Tiba-tiba motor kami doyong ke kiri dan kanan. Hatiku bertanya-tanya, ada apa gerengan? Huh! Ternyata ban motor kami bocor, padahal saat itu aku dan Mel membawa sebuah dus besar yang berat berisi buku-buku cetakan kantor.

Terpaksa aku harus mendorong motor ke pinggir, dan Mel menopang kardus besar nan berat itu. Nah, penderitaan tak cukup sampai disitu, serta merta hujan turun bercampur geledek. Langsung deras dan membasahi tubuh beserta dus besar yang kami bawa. Waduh!!! Aku bergegas lari memanggul dus besar menuju sebuah kios agar buku yang ada dalam dus besar itu tidak basah. Setelah mengamankan buku, aku mendorong motorku ke tepi. Tukang tambal ban! Aduh di mana dia??? Aku bertanya-tanya kesana-kemari.

"Ada tapi jaraknya satu kilo." Kata tukang rokok.

Aku berjalan mendorong motorku, sekuat tenaga. Mel aku tinggal di kios besama dengan sedus buku. Aku membuka bagasi motor berniat mengambil jas hujan, tapi ternyata jas hujanku ketinggalan di rumah, so aku terpaksa hujan-hujanan.

Ban motorku ternyata bukan bocor, tapi robek. Jadi harus ganti ban. Tukang tambal ban-nya aseeeeeem banget, masa dia ngasih harga ganti ban ampe 50 ribu. Huh! Mentang-mentang saat itu hujan deras. Kalau ingat jadi pengen pentung kepalanya deh!

Setelah selesai berurusan dengan tukang tambal ban, aku menjemput Mel. Hujan deras telah redah namun bajuku basah kuyup hingga membuat aku mengigil. Aku hendak menaikkan sedus besar buku ke motorku, tapi emang dasar sial, akibat kedinginan aku jadi limbung. Tanpa sengaja dus besar itu jatuh dari tanganku dan tenggelam di genangan air yang akhirnya membasahi seluruh buku yang aku bawa. Hikh hikh hikh, ampun deh berarti aku harus ganti 400 ribu. Huaaaaaaa mami!!!!!

"Sabar, tabah, tawakal adalah kunci ketenangan" kekasihku mengingatkan. So, akhirnya aku lanjutkan perjalanan pulang. Namuuuun, sesampainya di rumah ternyata rumah kami gelap gulita akibat mati lampu. Hikh hikh hikh. Yang membuat aku tambah sedih adalah kamar kami kebajiran akibat genangan air yang tak tahu mau disalurkan ke mana. Hikh hikh hikh. Jadi malam itu aku mengigil kedinginan, kegelapan dan kelelahan.

Pernahkah? pernahkah oh pernahkah hidupmu seperti ini???

Dulu juga pernah, saat aku dan Mel sangat sangat sangat membutuhkan uang untuk membetulkan rante motor yang putus. Saat itu kami sama sekali nggak punya uang, jadi kami perlu mencari ATM. Setelah meninggalkan motor di bengkel aku dan Mel jalan kaki mencari ATM secara kami nggak punya uang buat ongkos ke ATM, nyari taksi nggak ada, ojek pun tak nongol-nongol.

Dengan sabar kami berjalan bergandengan tangan, sampai kurang lebih 1 kilo meter kami baru menemukan Alfamart dan memutuskan untuk ambil tunai BCA. Tapi syaratnya kami harus belanja minimal 20 ribu terlebih dahulu. So segala macam makanan yang nggak jelas jadi terpaksa dipilih, yang penting bisa tarik tunai. Setelah semua barang discan dan siap untuk dibayar, ternyata eh ternyata kartu ATM-ku ketinggalan di kantor. Hikh Hikh Hikh.

Bagaimana ini? SOS!!! SOS!!! Oh Iya, telepon saudara? suruh datang bawain uang! Siiiip, tapi pas aku mau telepon, tiba-tiba operatornya dengan enteng bilang, "Sisa pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini." Hikh. Bagaimana dengan HP Mel? Sumpaaaaaaaah, HP-nya lowbat dan mati total jendral. Hikh Hikh Hikh

Maluuuuuuu.... malu sama siapa? yha sama Mbak kasir Alfa-nyalah, secara aku dan Mel mau nggak mau harus mengembalikan semua barang-barang belanjaan ke raknya semula. Malu sama tukang bengkelnya juga, secara saat itu aku jadi terpaksa ninggalin KTP dan baru menyelesaikan pembayaran besoknya. Maluuuuu...

Hikh hikh hikh...

Pernahkan, pernahkah or pernahkah, kesialan datang kepadamu bertubi-tubi seolah-olah kamu adalah bulan-bulannya mereka? Kalau kamu pernah, yuk berbagi cerita di sini. Siapa tahu justru kesialanmu dulu membawa tawa bagi kita semua hari ini. So, apa pengalamanmu???

Sebab Tuhan mampu mengubah berbagai penderitaan yang berhasil dilewati umat-Nya menjadi sebuah senyum dan tawa ketika sang umat mengingatnya kelak.

Selasa, Agustus 25, 2009

Selama Kau Besertaku, Ku Melihat Ada Mujizat Setiap Hari


Kami berhadapan, malam itu terasa begitu kelu. Keremangan yang tercipta dari lampu tidur tetap memampukanku melihat matanya yang berkaca.

"Kenapa kamu bohongin aku? Kenapa kamu baru cerita sekarang?" Aku hanya menunduk saat jutaan pertanyaan dihantamkan Mel kapadaku. Matanya penuh kepedihan dan amarah. "Hon jawab! Kamu pikir aku ini siapa? Aku bukan orang penting yang perlu tahu tentang semua masalah kamu? Kenapa aku harus tahu dari orang lain?"

"Aku cuma nggak mau menambah beban pikiran kamu."

"Beban pikiran apa? Hon justru beberapa minggu ini pikiranku terbebani oleh berbagai pertanyaan ada apa dengan kamu. Aku orang yang paling dekat dengan kamu. Tentu aku tahu kalau beberapa minggu ini kamu gelisah. Aku juga tahu kalau hampir tiap malam kamu terbangun hanya untuk berdoa dan menangis."

"Maaf yah, sekarang aku memang udah nggak berguna. Kamu boleh tinggalin aku."

"Gimana caranya? Ajari aku caranya Hon. Selama bersama kamu, kamu sudah ajarin aku banyak hal. Kamu ajarin aku bagaimana mencintai dengan tulus, bagaimana menjaga kesetiaan dan memberikan kejutan-kejutan romantis. Tapi kamu nggak pernah ajarin aku gimana caranya untuk meninggalkan kekasih saat ia menghadapi masalah, karena selama ini kamu selalu ada buat aku dalam suka dan duka. Jadi aku nggak bisa melakukannya."

"Tapi sekarang aku bukan siapa-siapa dan nggak punya apa-apa buat kamu."

"Aku cinta kamu bukan karena aku melihat siapa kamu, tapi karena aku melihat siapa aku saat bersama kamu. Cuma kamu orang yang membuat aku merasa berharga Hon."
Aku memeluk Mel erat. Air matanya membasahi punggungku.

Tetesan air ikut meleleh dari mataku, "Thanks Beib. Thanks buat kesetiaan kamu."

Tangan lembutnya memegang kedua pipiku, ia menatapku berkali-kali, "Aku cinta kamu Honey. Pegang dan jadikan itu sebagai kekuatan untuk kamu hadapi semua masalah ini."

Sepuluh kali dalam sehari Mel mengucapkan kata cintanya. Hari itu tujuh belas bulan kamu berpacaran, itu berarti sudah lebih dari lima ribu kali telingaku mendengar ucapan cintanya. Tapi malam itu, kata cinta diucapkan dengan cara yang berbeda. Kata cintanya dikumandangkan dalam sebuah kesejatian yang mampu membuatnya menerimaku apa adanya. Malam itu, cintanya sangat menyejukkan hatiku dan memberi kekuatan pada jiwaku yang telah berlama lemah.

"Hon, hanya orang-orang yang dipandangan-Nya kuat yang akan diberikan cobaan berat. Semua untuk mengangangkat dan memurnikan iman kita. Seperti katamu, Tuhan tidak pernah jahat karena Tuhan tidak pernah bisa berbuat jahat. Sabar ya. Kita hadapi bersama." Mel menarik tanganku dan membawanya dalam lipatan tangannya.

Kami berdoa dalam malam yang hening itu. Hatiku meresapi segurat rasa damai, syukur, pasrah dan berserah. Sebait lagu bergema di hatiku.

Tiada berubah kuasa namaMu
Tiada berkesudahan kasih setiaMu
Pabila Tuhan sudah berfirman
Maka semuanya jadi

Selama kumenyembahMu
Kupercaya bahwa mukjizat masih terjadi
Selama Kau besertaku
Ku melihat ada mukjizat setiap hari


Tuhan, malam itu aku telah melihat mujizat-Mu dalam diri kekasihku. Terima kasih karena telah menganugerahkannya kepadaku.

Senin, Agustus 24, 2009

Abang dan Ramadhan


Bulan Ramadhan adalah bulan sejuta warna. Kampung menjadi berubah nuansa dalam sekejap. Dalam keteduhan pagi, para pemuda sudah berbaik hati membunyikan kelontongan untuk membangunkan sahur. Aku suka pada segerombolan pemuda yang lewat dengan ember atau galon yang dipukul bersahutan. Sambil teriak, "Sahur, sahur... sahur sahur..."

Saat gerombolan melewati depan rumahku, aku dan Mel segera keluar rumah untuk menyaksikan mereka. Mereka berhenti sejenak saat melihat kami.
"Kak Den, mau ikutan puasa ya? Jam segini sudah bangun."
"Nggak ikutan puasa kok. Cuma mau ikutan sahur. Hehehehehe."

Mereka berlalu, setelah menerima sekotak kue pia dari kami. Suara ramai berubah menjadi sayup. Rumah kami kembali hening. Aku jadi teringat abangku. Lelaki yang seayah dan seibu denganku, pasti sekarang ia sedang mempersiapkan menu sahurnya. Dulu di pagi buta bulan Ramadhan biasanya aku, abang dan ibu selalu gaduh di dapur mempersiapkan menu sahur buat abang. Ibu memasak ini itu, abang membuat susu dan aku sibuk mencicipi makanan buatan ibu dan susu bikinan abang. Kenangan itu membuatku segera menelepon abang.
"Halo, lagi apa lo?"
"Hahahaha, cewek geblek tumben lo bangun pagi. Gue lagi masak buat sahur."
"Sahur pakai apa?"
"Ini cuma goreng nugget doang, susah seh nggak ada mama."
"iya lo kebiasaan dimanja mama seh. Makanya cepet kawin Ko."
"Emang lo kira nyari bini gampang? Cariin dong yang cakep dan baik kayak bini lo."
"Hahhahaha, dia mah stoknya dah abis. Dah nggak diproduksi lagi."
"Hahahaha."
"Oke deh Ko. Yang lancar ya puasanya. Jangan marah-marah dan tepe-tepe melulu."
"Oke oke boss."

Si abang mengingatkanku pada tiga Ramadhan silam saat di hadapan semua keluarga dia dengan yakin mengatakan, "Saya sudah jadi muslim." Saat itu seisi keluarga terkejut. Tapi tidak ada yang marah, tidak ada yang menghakimi, dan tidak ada yang menuduh. Kami semua hanya diam hingga suaraku memecahkan kesunyian, "Nggak apa-apa ko, yang penting jalanin aja baik-baik."

Ayahku juga ikut menimpali, "Iya jadi umat beragama yang baik." Ibuku yang sedari tadi diam jadi ikut angkat bicara, "Berarti besok kamu puasa ya? Mama mesti bangun pagi nih. Padahal rencananya besok mama mau bangun jam 11 siang. Hahahahahha."

Kami sekeluarga tertawa. Sejak saat itu kami hidup dalam perbedaan keyakinan dengan saling menghormati satu sama lain. Tanpa sinis, marah, benci atau kecewa. Entah apa yang dipikirkan ayah dan ibuku? tapi aku yakin bahwa mereka memiliki pemikiran yang sama denganku, yaitu bahwa semua orang berhak untuk menentukan jalan hidupnya masing-masing, asal tetap berjalan dalam kebenaran, asal jangan menjadi sampah masyarakat, asal jangan merugikan orang lain.

Dan ternyata si abang pun punya pemikiran yang sama. Seperti saat aku berhadapan dengan abangku dan berkata, "Aku dan Mel pacaran.", maka ia menjawabku dengan jawaban yang senada, "Emang kenapa? Nggak apa-apa kok. Jalanin aja baik-baik."

Selasa, Agustus 18, 2009

Hari Kemerdekaan: Berbagai Perlombaan dan Maknanya


Hari kemerdekaan Indonesia biasanya dirayakan dengan serangkaian perlombaan. Kemarin aku dan Mel juga mengadakan serangkaian perlombaan untuk anak-anak. Mereka bergembira, bersemangat dan bersukaria. Tahukah kamu bahwa ternyata perlombaan-perlombaan yang biasa diselenggarakan ternyata memiliki makna?

Apa maknanya? Dari hasil perenungan aku dan Mel di pinggir kali Ciliwung sambil rebutan makan combro, maka didapat kesimpulan bahwa:

Lomba makan kerupuk adalah lambang perjuangan untuk menggigit, merebut dan menghabiskan. Kerupuk diibaratkan sebagai tantangan hidup yang harus kita lawan dan taklukan. Sehebat apa pun kerupuk bergoyang pada talinya, tapi agar bisa disebut sebagai juara, mulut kita harus bisa mendapatkan dan memakannya hingga habis. Sama dengan hidup ini, sehebat apa pun masalah dan ringtangan yang menghadang langkah kita, jangan pernah lari dari masalah, hadapi, kalahkan dan telan agar segala rintangan mampu kita taklukan. Dan saat kita mampu menaklukan rintangan, maka kita disebut sebagai pemenang. So, taklukanlah!

Lomba tarik tambang adalah lambang perjuangan untuk menyatukan hati, menggalang kekuatan, dan mempertahankan posisi. Dalam hidup ini, tidak ada manusia yang mampu berdiri sendiri. Manusia adalah lemah. Dan dalam kelemahan manusia butuh sesama yang mampu menopang dan memberi kekuatan sehingga manusia mampu bertahan pada posisinya semula. Maksudnya, mereka tidak menjadi jatuh, ambruk dan amburadul karena ada sahabat-sahabat sejati yang senantiasa menjadi penopang, penasehat dan penolong. So, bersahabatlah!

Lomba panjat pinang adalah lambang perjuangan untuk bahu-membahu membuat formasi untuk mengapai hadiah yang digantung di tempat tinggi. Orang yang berhasil adalah orang yang memiliki cita-cita sebab cita-cita akan menjadi motivator kuat yang akan mendorong manusia berjuang mencapai keberhasilan. Hadiah-hadiah yang menggantung di puncak tiang pinang adalah ibarat sebuah cita-cita yang perlu kita gapai. Memang tidak mudah, licin dan penuh rintangan. Tapi dengan membangun relasi yang baik dengan sesama, berteman dengan orang-orang yang membangun, menolong dan menopang (bukan berteman dengan orang-orang yang menjerumuskan kita pada kejahatan) akan membuat langkah kita menjadi lebih mudah untuk menggapai cita-cita. So, gapailah!

Lomba joget balon adalah lambang perjuangan untuk tetap menghibur penonton meski kita sendiri tengah susah payah berjuang mempertahankan balon agar tidak terjatuh. Ini adalah pekerjaan sulit ketika kita mesti harus menjadi penghibur bagi sesama, padahal kita sendiri sedang menghadapi masalah dan butuh dihibur. Memang sulit, tapi kalau kita mampu menjadi "pejoget balon" sejati, maka kita adalah orang yang benar-benar hebat. Ingat, seseorang yang hebat adalah orang yang mampu membuat orang lain tertawa, meski sebenarnya dia sedang menangis. Membuat orang lain bahagia adalah sebuah ibadah. Jangan pernah tunjukan kesedihanmu jika itu akan membuat dunia di sekelilingmu menjadi bersedih. Bawalah kebahagiaan senantiasa sehingga dunia di sekelilingmu akan bersuka karena kehadiranmu. So, bergembiralah!

Lomba masukan pensil dalam botol adalah lambang perjuangan untuk fokus pada lobang. Ini neh yang aku nggak demen, kalau ngomong lobang langsung deh tuh mata pada melotot. Maksudnya lobang yang di botol itu loh. Nah, kalau kamu mau hidupmu sukses, kamu mesti fokus dengan apa yang kamu kerjakan. Fokus juga berarti ketekunan. Tidak ada orang yang berhasil kalau hidupnya tidak difokuskan kepada goal yang ingin dicapai. Jadi walaupun terjadi gluduk, gempa, sakit hati, putus cinta. Kita mseti tetap semangat mencapai tujuan. Jangan biarkan patah hati membuatmu menjadi patah arang, tidak mau kuliah, berenti kerja, nggak mau makan dan sulit buang air besar. Hidup harus berjalan. Fokuskan pikiranmu pada tujuan. So, fokuslah!

Lomba balap karung adalah lambang perjuangan untuk semangat mencapai garis akhir dengan sekuat tenaga, meski berkali-kali jatuh tapi akan bangkit lagi. Manusia yang gagal adalah manusia yang tidak mau bangkit dari kegagalan. Gagal dan berhasil adalah masalah biasa, hanya saja bagaimana kita melewati serangkaian kegagalan dengan tekat dan semangat untuk berhasil? Seperti pembalap karung, saat mereka terjatuh mereka akan bangkit lagi dan melompat hingga ke garis finish. Mungkin saat ini kamu gagal, tapi jangan berhenti. Bangkit, semangat dan gapai garis finish. Tunjukkanlah bahwa kamu bisa, tidak peduli jadi juara atau tidak yang jelas gapai garis finish itu sebab dunia yang kejam ini akan menjadi jinak kepada orang-orang yang mampu menaklukannya, kepada orang-orang yang pantang menyerah. So, bangkitlah!

Lomba membawa kelereng dengan sendok adalah lambang perjuangan untuk menjaga agar kelereng yang dimiliki tidak jatuh. Nah kalau boleh aku tarik maknanya pada dunia lesbian kita, maka dapat aku umpamakan kelereng sebagai parner, dan sendok adalah cinta dan kasih sayang kita. Kita yang perlu menjaga partner agar tidak keluar dari cinta dan kasih sayang kita. Rintangan dan godaan buat selingkuh dan berpaling memang besar. Sebab percintaan seperti kelereng yang menggeliat di ujung sendok, siap jatuh kapan pun mereka mau. Tapi ketenangan, kesetiaan dan kesabaran akan membuat kita mampu mempertahankan partner hingga ke garis finish. So, pertahankanlah!

Hehehe, itulah berbagai perlombaan dan maknanya menurut versi De Ni dan Mel. Bagaimana menurut versi kamu???

Jumat, Agustus 14, 2009

Gara-gara Pantat



Kemarin aku dan Mel ketemu cowok geblek. Gimana nggak disebut geblek, bayangin aja masa tuh cowok ngajak aku ribut di jalan. Sebenernya seh mungkin karena dia kira aku cowok dan dia cemburu gara-gara aku ngeliatin pantat ceweknya.

Jujur, sumpah dan suer aku mah nggak maksud ngeliatin pantat ceweknya. Aku dah bosen sama pantat. Lah wong pantat biniku juga diliatin nggak abis-abis. Tapi berhubung pantat ceweknya keliatan ampe belahan pantatnya padahal itu di jalanan umum, ya tentu secara otomatis langsung jadi pusat perhatian orang.

Sebenernya seh hampir semua cowok juga pada ngeliatin pantat ceweknya itu. Tapi nggak ada kayak aku yang motornya ampe ngikutin di belakang motor tuh cowok. Eits sebenernya seh bukan ngikutin, emang jalanan lagi macet jadi secara kebetulan aku di belakang motornya secara continue. Pertama-tama tuh cowok ngeliatin dari kaca spion, terus mungkin dia mikir aku cowok jadi langsung deh cemburu buta karena dia mikir aku nepsong ama pantat ceweknya. (Yaelahhhhhhh Bro, Please deh!!! Nggak liat apa neh gue juga lagi bonceng cewek cakep yang lebih bohay). Tuh cowok kayak kesundut api aja, tiba-tiba dia langsung ngajak ribut berkali-kali. Dia tambah kesel karena aku cuekin. Ulahnya makin menjadi, dia ngepot-ngepot dan beberapa kali mau nabrak kami. Untuk aja aku rada jago ngeliuk, kalau nggak mah kemarin kami udah nyusruk. Tepuk tangan untuk om De Ni!!!

Di tengah jalan kami dicegat, motornya langsung malang di depan motor kami. Kami disuruh turun dan langsung ngajak ribut. Aku kesel banget dan pengen ikutan adu otot. Cuma aku mikir karena aku cewek pastilah aku kalah kalau adu jotos. Akhirnya aku cuma teriak "MAU APA SEH LO???"

Teriakanku mungkin melengking banget. Kalau ibarat paduan suara teriakanku tuh termasuk golongan sopran. So tuh cowok langsung sadar kalau aku cewek yang manis dan imut. Pas dia tahu aku cewek, dia langsung malu banget. Nunduk, dan langsung tancap gas. Dasar Geblek!!!

Si Mel yang dari tadi mules karena ketakutan jadi lega. Tapi aku tetep kesel, dongkol rasanya ketemu cowok model gitu. Kekesalanku ampe terbawa ke rumah. Di rumah aku diam aja, nggak mau ngomong. Kerjaanku cuma bolak-balik buku cerita anak dan langsung tidur.

Tadi pagi si Mel cekikikan nyeritain apa yang terjadi semalam ketika aku tidur. Aku ngigo. Ya, aku memang suka ngigo apalagi kalau ada kekesalan dan masalah yang mengganjal, pasti kebawa-bawa ampe mimpi. Dan inilah isi igauanku, yang menurut Mel aku ucapkan secara berturut-turut,
"Apa Lo? Ayo ribut sini."
"Sini lo kalau berani."
"Lo pikir gue takut sama lo???"
"Biar lo cowok juga gue nggak takut."
"Ayo ribut!!!"
"Loh kok lo keroyokan??? Jangan main keroyokan dong."
"Ampun, ampun!!!"
"Tolong, tolong, tolooooooooong pak polisi."
"Ambulance ambulance dong!!!."
"Aduh, aduh, aduuuuhhhh sakiiiit."

Berdasarkan monolog igauanku bisa disimpulkan bahwa dalam mimpi itu aku jadi berkelahi dengan tuh cowok, tapi karena dia main keroyokan aku jadi babak belur sehingga aku minta tolong sama polisi. Lalu aku dibawa ke rumah sakit pakai ambulance. Dan kayaknya aku menderita banget deh. Kayaknya benjol, bonyok atau patah tulang gitu.

Aduuuh, syukur deh kemarin nggak jadi berantem. Ngeri uey!!

Tuhan memiliki berbagai cara untuk membuat umat-Nya sadar akan kasih dan perlindungan-Nya. Tanpa mimpi aku tidak akan pernah memahami bahwa kemarin Tuhan telah meluputkan aku dari celaka.

Senin, Agustus 10, 2009

Tatto


Bagaimanakah cara mengabadikan partner di hati? Kemarin aku berbincang-bincang dengan ayahku. Dia bilang cara mengabadikan kekasih di hati adalah dengan mentatto namanya.

"Neh liat neh papa tatto nama mamamu." Ayahku menunjukkan pangkal lengannya. "Sampai sekarang papa nggak bisa lupa mama. Karena tulisan ini nggak bisa hilang."
"Hahahaha, emang harus dengan cara mentatto yha Pa?"
"Yha terserah, kalau ini caranya Papa. Semua orang punya caranya masing-masing."

Wel, setelah pembicaraan singkat dengan ayahku, aku jadi mulai berpikir tentang berbagai cara yang bisa aku lakukan untuk mengabadikan Mel di hatiku. Tatto? ya, mengukir nama Mel di tubuhku dengan tusukan jarum sehingga membentuk tulisan yang tak akan bisa terhapus sepertinya menjadi pilihan yang menggiurkan. Sesampainya di rumah aku langsung membuka percakapan.

"Say, aku mau tatto badan." Mel yang lagi asik nonton TV langsung memberikan perhatian penuh pada omonganku.
"Tatto? Serius kamu?"
"Iya"
"Permanen apa temporer?"
"Ya permanen dong."
"Kamu mau bikin gambar apa emangnya? Jangan-jangan tikus nying-nying lagi."
"Enak aja. Aku mau tulis nama kamu."
"Nama aku? Nggak salah?"
"Iya nama kamu, biar abadi, biar nggak bisa terlupakan."
"Ciyeeeeeeeeee." Mel malah tertawa geli.
"Aku serius neh Beb." Aku melotot
"Iya iya. Jangan galak-galak dung om. Mau tatto di mana?"
"Nah itu yang aku masih bingung. Emmm... di lengan gimana? atau di punggung?"
"Duh say, kalau kamu pakai tengtop kan jadi keliatan orang dong. Bahaya!!! Jangan di daerah yang kemungkinan bisa dilihat orang deh say."
"Em... kalau di pangkal paha atau di dada gimana? kan nggak mungkin tuh aku berpakaian se-sexy itu?"
"Loh emang kamu rela bagian itu dipegang sama tukang tattonya?"
"Hehehehe, yha nggak seh!!!."
"Nah makanya, cari bagian yang lain deh."
"Di perut gimana???"
"Aduh jangan deh say, perut kamu kan gendut, banyak lemaknya gitu. Ntar bentuk tattonya jadi nggak jelas. Jadi melar-melar gitu. Hehehehe"
"Asem... Yha udah kalau di telapak kaki gimana???"
"Boleh juga tuh. Nggak keliatan orang. Eh tapi kalau kamu tidur gimana??? kan telapak kakinya jadi keliatan. Masa kamu tidur pake kaos kaki terus???"
"Iya yah... Em di mana dong???"
"Ya itu di derah yang kamu bisa buka tutup kapan pun kamu mau deh say."
"Daerah mana tuh??? Nggak ngerti aku."
"Loh kamu pikirin dong say. Pokoknya daerah itu bisa kamu tujukin ke orang yang tepat, tapi juga bisa dengan cepat kamu tutup kalau ada orang yang membahayakan."
"Maksud kamu???"
"Yha kamu pikir dong."
"Em... Yang bisa dibuka dan ditutup dengan cepat seh yha cuma... k e t e k..."
"Hahahhahaha, nah itu ketek. Paling tepat tuh... Bisa ditutup dan dibuka kapanpun kita mau. Hahahahaha"
"Halah, masa bikin tatto di ketek say??? Hiiiiiyyaakkk. Lagian kamu mau aja namanya ditulis di ketekku. dasar!!!"

Aku jadi ingat puisi singkat yang dibikin Jo buat partnernya di tulisan Letter For My Babe

Kutuliskan namamu di atas pasir
Tetapi gelombang menghapusnya

Lalu kutulis di langit angkasa
Tetapi angin meniupnya pergi

Sehingga kutuliskan di dalam hatiku
Dan di sanalah namamu bertakhta selamanya…


Kalau aku jadi mentatto nama Mel di ketekku. Dan kalau kemudian aku adopsi puisi Jo, untuk kupersembahkan kepada Mel, berarti puisi buatan sahabatku itu akan berubah jadi aneh banget. Hikh hikh hikh.

Kutuliskan namamu di atas pasir
Tetapi gelombang menghapusnya

Lalu kutulis di langit angkasa
Tetapi angin meniupnya pergi

Sehingga kutuliskan di ketekku
Dan di sanalah namamu bertakhta selamanya…


O M G !!! Sumpah, Aneh banget!!!
Si Mel menepuk pundakku, "Gimana Say? jadi nggak tattonya?" alisnya diangkat naik turun.
"Nggak deh, nggak jadi bikin tatto. Sereeeem"

Menunjukkan cinta kepada partner nggak perlu dengan cara gila-gilaan yang sebenernya kita sendiri nggak sanggup lakukan. Mendampingi partner dengan setia dalam suka dan duka adalah bukti cinta yang lebih bernilai.

Kamis, Agustus 06, 2009

Miss Watermelon


Cihuuuuuyyy sekarang udah musim lengkeng. Yummmy, aku suka banget sama lengkeng dan kalau udah musimnya begini harga lengkeng jadi pada murah, bahkan ada yang serenceng cuma 5 ribu bo!!!. So tiap hari aku dan Mel jadi pergi ke tukang buah cuma buat beli lengkeng murah.

Seperti semalam, saat pulang kerja aku mampir ke tukang buah langganan. Di sana sudah ada seorang cewek cantik dan adik kecilnya yang lucu lagi milih-milih buah. Aku dan Mel langsung meluncur ke tumpukan buah. Saat ngelewatin cewek cantik itu, aku nggak sengaja nabrak dia. Tuh cewek langsung limbung dan hampir nyusruk ke atas tumpukan jeruk. Ini adalah penyakitku seh, aku paling tidak bisa jalan di tempat-tempat sempit karena aku akan kehilangan keseimbangan dan bisa nubruk siapa aja.

Aku langsung panik dan berkali-kali minta maaf sama tuh cewek, "Duh sorry mbak nggak sengaja. Maaf yha! Mbak, nggak kenapa-napa kan???"

Ternyata permohonan maafku ditolak mentah-mentah, tuh cewek berdiri tepat di depanku dan langsung maki-maki dengan bahasa yang luar biasa kasar. "Lo tuh bego yha??? punya mata nggak seh??? kalau jalan hati-hati dong!!! kalau gue ampe jatoh gimana???" Abis marah-marah, dia langsung balik badan dan mengalihkan perhatiannya ke tumpukan belimbing.

Busyeeeet deh neh cewek!!! Abis makan cacing kali tuh dia!!! Sumpah!!! Aku cuma diam aja lagi. Nggak tahu deh kenapa kalau sama cewek aku nggak berani ngotot (bukan karena dia cantik loh yha) tapi ini sebuah bentuk penghormatan aja, secara mamaku cewek, pacarku juga, anjingku dan tetanggaku juga cewek. Coba yang ngomel itu cowok, wiiih mungkin tuh cowok udah masuk rumah sakit kali, karena jidadnya ketancep kulit duren (hehehehe sadis!!!).

Mel yang dari tadi ngeliatin aku langsung menghampiri dan mengusap punggungku. Dia tahu pasti aku sedih banget diomelin. Aku kan perasaaanya halus, lembut, sensitif dan mudah tersentuh. Si Mel yang emang plegmatis banget juga cuma diam aja, padahal aku berharap dia hampiri tuh cewek dan jambak rambutnya sambil bilang, "Lo apain laki gue??? Gue kasih tahu yha, sekali lagi lo sakitin hati pacar gue, gue cemplungin lo ke kali depan. NGERTI LO???"

Tapi, dia malah cuma bilang, "Sabar yha say. Senyum dong!" Aku tersenyum terpaksa, si Mel langsung lompat kegirangan dan bilang, "Duh kamu cakep bangeeeeetttt!!!" Jadi mirip kayak adegan San Chai merayu Tao Ming Tse yang lagi bete di Taman Hiburan.

"Untung deh aku dapat pacar yang cakep tapi lembut kayak kamu."

Aku dah males mikirin tuh cewek. So, kami langsung beranjak ke tumpukan lengkeng dan milih-milih lengkeng sebiji demi sebiji. Tuh cewek masih mutar-mutar nggak jelas. Adiknya ngikutin dan mulai nanya-nanya,

"Kak kalau grape itu apa kak?"
"Oh itu anggur" Tuh cewek jawab sambil nunjuk serenceng anggur.
"Kalau banana kak??"
"Banana itu pisang." sambil nunjuk sesisir pisang.
"Kalau apple kak?"
"Apple yha apel dong dek." sambil nunjuk sebuah apel merah.

Pas tuh cewek sadar bahwa aku dan Mel memperhatikan pembicaraan mereka, dia langsung cemberut, matanya melotot sinis. Aku dan Mel jadi takut, kami kembali pada tumpukan lengkeng. Nggak lama adiknya nanya lagi.

"Kak kalau watermelon itu apa kak???"

Muka tuh cewek bingung banget, sambil garuk-garuk kepala dia jawab, "Watermelon itu... em anu dek melon air." Sambil nunjuk tumpukan buah melon.

Sepontan aku dan Mel ketawa keceng banget ampe kami keluar air mata sambil geprak-geprak kotak lengkeng. Emang sengaja kami lebay-lebayin, sekalian balas dendam. Hehehehe.

Aku langsung mengambil semangka yang paling besar, menghampiri adiknya tuh cewek lalu bilang, "Dek watermelon itu artinya bukan melon air dek, tapi semangka."

Adiknya senyum, lalu nanya tuh cewek "Iya yah kak???" Tuh cewek cemberut, mukanya merah udah kayak orang kena gampar 38 kali. Dia langsung narik tangan adiknya, "Ayo pulang dek."

Cewek cantik itu ngeliatin aku dan Mel lagi sambil teriak jengkel "SOK TAHU LO SEMUA!!!"

Aku sama Mel cekikikan, rasa jengkel langsung hilang semua, malah Mel melambaikan tangan ramah, dengan lembut dia berkata: "See you miss watermelon!"

Nggak semua masalah mesti diselesaikan pake otot. Cukup otak dan taktik, maka kita mampu menaklukan semua musuh dengan tawa.

Kamis, Juli 30, 2009

Karena Kamu adalah Cinta


Kekasihku, ingatkah kau kapan terakhir kali aku pulang kantor dan memberimu kejutan setangkai bunga yang sengaja aku sisipkan dalam jaket? Ingatkah kau kapan terakhir kali aku memberimu coklat yang bungkusnya aku ganti dengan kata-kata puitis? Kapan terakhir kali aku memainkan piano dan bernyanyi lagu cinta untukmu? Kapan terakhir kali aku mengajakmu berdansa? Kapan terakhir kali aku memuji kecantikanmu? Kapan terakhir kali aku mencetak fotomu lalu menghiasnya dalam sebuah album? kapan terakhir kali aku masak puding dan sayur buncis kesukaanmu? dan kapan terakhir kali aku menyuapimu vitamin dan membuatkanmu segelas susu?

Aku tahu, kamu sangat menyukai semua hal ini. Kau menyebutnya romantis dan selalu memujiku karena aku romantis. Sayangku, kau pun harus tahu bahwa justru aku sangat bersyukur punya kekasih yang bisa aku perlakukan romantis sepertimu.

Hanya, sekarang ingatkan aku, kapan terakhir kali aku melakukan semua itu?

Kusadari belakangan aku lupa romatis, meski tiap hari aku mencium dan memelukmu erat. Tapi ciuman dan pelukan itu lebih mengarah kepada ciuman dan pelukkan keresahan.

Bukan, bukan kesibukan yang telah melimpahkan segala keresahan. Tapi keberhargaanmu dihatiku yang telah membungkusku rapat dalam keresahan. Aku resah, cemas, takut, rapuh, sakit. Dan semua hal ini membuatku hanya bisa berkata, "Aku nggak mau kehilangan kamu Beib!" Kekasihku, hanya kata-kata itu yang mampu terucap setiap kali aku bersamamu.

Mestinya aku tidak berhati banci, mestinya aku tidak melankolis, mestinya aku lebih dewasa darimu, lebih kuat, lebih tegar, lebih bijak. Tapi dalam hal ini aku bukan siapa-siapa. Aku adalah orang yang baru mengerti arti cinta dan arti takut kehilangan.

Dulu aku selalu heran melihat orang menangis karena putus cinta. Dulu logikaku tak mampu menerima mengapa ada orang yang bunuh diri karena cinta, mengapa ada orang yang hidupnya hancur karena asmara. Sekarang, aku baru memahami apa arti cinta itu. Cinta itu adalah kekuatan yang mampu membahagiakan dan menerbangkanku setinggi langit, tapi kekuatannya juga mampu menyakiti dan menghempaskan aku ke jurang.

Kemarin temanku berkata: "Mencintai seseorang adalah kesakitan, jadi lebih baik dicintai." Tapi, aku sadar bahwa mencintai adalah anugerah. Sebab mencintaimu mengajarkanku arti memberi dalam ketidakmampuan, arti berkorban dalam ketidakberdayaan, arti bertahan dalam kerapuhan. Bersamamu, aku mengerti bahwa cinta begitu bernilai.

Sayang, siapkanlah dirimu karena hari ini aku akan membawakanmu setangkai bunga, mempersembahkan sebatang coklat yang berbungkus bait-bait asmara, menyanyikan lagu cinta dan berdansa denganmu dalam ribuan pujianku atas kecantikanmu, lalu kita akan makan sayur buncis dan puding coklat. Saat makan, liriklah meja makan kita karena ada fotomu berhias di sana. O.. iya, jangan lupa minum vitamin dan segelas susu coklatmu.

Karena kamu adalah cinta...

Dalam sakit maupun bahagia, dalam duka maupun suka, dalam tangis maupun tawa, cinta akan tetap berharga...

Selasa, Juni 30, 2009

Kuasa Maut


Maut dimanakah dia berada? Di pucak gunung ataukah di dasar lembah? Di luas samudra ataukah di tetesan air mata? Maut, mengapa dia ada? Mengapa dia menyengat dan meninggalkan luka perpisahan? Mengapa dia membuat manusia tak abadi?

Setiap malam aku menghitung hari demi hari, masa demi masa. Aku berjaga dalam waspada, jangan-jangan dia datang malam ini tanpa memberi warta. Resah, gelisa, takut dan gentar itulah yang dirasakan setiap mengingatnya.

Maut, siapakah yang mengaturnya hingga berkali-kali aku dikejutkan oleh sengatnya terhadap orang-orang yang kukenal? Sungguh jiwa manusia begitu lekat dengan kematiannya, mati dan hidup bagaikan sisi uang logam bersebelahan. Begitu mudahnya manusia mati jika maut telah memilihnya.

Sungguh, kematian adalah jembatan menuju dunia baka. Mati berarti menutup mata di dunia ini dan kembali membuka mata di dunia orang mati. Dunia di mana segala keadilan ditegakkan, dunia di mana segala perbuatan dipertanggungjawabkan, dunia di mana segala penyesalan menjadi terlambat sudah.

Maut, bukan milik para renta. Ia juga milik para cilik, muda dan dewasa. Milikku dan milikmu juga. Maut berhak menentukan siapa pun yang ingin dijemputnya. Sehat atau sakit, baik atau jahat, kaya atau miskin.

Siapkah aku kalau tiba-tiba maut datang dan membawa pemisah antara aku dengan semua orang yang aku kasihi di dunia orang hidup ini? Siapkah aku? Semoga saat kuasa maut datang, aku adalah orang yang takwa.

Sabtu, April 11, 2009

Cara Ibuku Berpikir Tentang Tuhan


Ibu paling marah kalau ada orang yang bilang, "Deni, ayo jangan nakal yha. Nanti Tuhan marah!" Dengan sigap ibu akan menghampiriku dan mengganti kalimat itu menjadi, "Deni, ayo jadi anak yang baik yha. Tuhan sayang sekali pada anak yang baik."

Ya, Ibu selalu ingin memperkenalkan Tuhan sebagai Tuhan yang baik. Tuhan yang tidak semena-mena menghukum, membenci marah dan membinasakan saat melihat kita melalukan perbuatan yang salah. Ibuku menggambarkan Tuhan sebagai Tuhan yang penuh pengampunan, kasih dan anugerah. Tuhan yang selalu memberi tangan terbuka untuk memeluk saat kita kembali pada jalan-Nya, bahkan saat kita ketakutan oleh karena rasa bersalah yang menghakimi.

Dalam perjalanan hidup yang diarungi ibu. Aku berkali-kali menyaksikan betapa kehidupan keluarga ibu penuh dengan rintangan. Mulai dari masalah ekonomi yang membuat ibu bekerja siang malam berjualan kue basah, hingga pada penghinaan-penghinaan tetangga yang kerap kali membuatnya minder. Menghadapi masalah-masalah itu, sering kali aku berpikir betapa Tuhan tidak menyayangi ibu. Tapi sesering apa pun aku berpikir demikian, sesering itu pula ibu memeluk aku dan berkata, "Den, Tuhan nggak pernah jahat. Semua yang Tuhan beri itu indah. Jangan pernah ukur kebaikan Tuhan hanya dari harta dan kehormatan. Ukurlah kebaikan Tuhan dari setiap senyum yang Dia anugerahkan kepada kita, sebab dalam kesederhanaan dan kesukaran sekali pun, bukankah kamu melihat mama selalu tersenyum? Itu adalah berkat terindah. Lihat betap banyak orang yang kaya dan terpandang namun susah sekali untuk tersenyum dan bersyukur kepada Tuhan."

Pengenalan inilah yang ingin ibu tanamkan dalam paradigmaku. Ia ingin aku berpikir bahwa Tuhan itu selalu baik. Jika suatu ketika aku mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, ibu ingin aku akan tetap berpikir bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa seijin Tuhan. Dan jika Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi, itu karena Ia sedang merancangkan kebaikan untukku. Kebaikan yang akan terlihat indah pada waktu-Nya. Yha pada waktu Tuhan. Bukan waktuku.

Aku suka pada cara ibu berpikir tentang Tuhan. Pikiran perempuan sederhana yang tidak akan pernah mau menyalahkan Tuhan untuk setiap hal yang ia alami. Bahkan pada saat ia harus menanggung kanker payudara yang membuatnya tidak dapat tidur berhari-hari karena menahan rasa sakit, ia tetap tidak mampu menyalahkan Tuhan. Sebab ia mengenal Tuhan bukan sebagai Tuhan yang mendatangkan malapetaka tapi Tuhan yang selalu memberi anugerah. Kesakitan terpahit sekali pun, baginya adalah berkat Tuhan yang akan membuatnya semakin arif, makin bijak.

Ibuku meninggal dalam kearifan, dalam pengenalan yang benar dan sempurna akan Tuhan. Dan jika suatu saat aku meninggal, semoga aku pun meninggal dalam pengenalan yang benar akan Tuhan. Sesempurna ibuku mengenal-Nya.


Happy Easter!!!
Remember that God always love you!!!

Sabtu, Maret 14, 2009

Pembenci Hidup VS Penikmat Hidup


Pembenci hidup akan berkata:
Buanglah cerita tantang hujan. Mereka menerobos jatuh ke bumi. Tanah becek di sana-sini. Matahari ngumpet dibalik awan hingga cucian tak kunjung kering di jemur. Kali-kali kepenuhan. Air meluap membanjiri rumah. Ada kasur, DVD, TV, komputer, tape dan alat elektronik lainnya yang tenggelam. Semua rusak. Rugi bandar. Aku benci hujan.

Penikmat hidup akan berkata:
Berceritalah tentang hujan. Mereka merintik jatuh ke bumi. Memberi kesegaran dan kesuburan. Sebentar lagi tunas-tunas akan bersemi. Batang-batang pohon bergerak ke langit. Daun-daun segar menghijau. Bunga-bunga bermekaran dan buah-buah dipanen. Aku cinta hujan

Pembenci hidup akan berkata:
Buanglah cerita tentang matahari. Ia menyengat masuk kesela-sela jaket saat jalanan ibu kota macet. Panasnya membuat tubuh basah kuyup oleh keringat. Kaki dan tangan terbakar hitam. Bintik-bintik noda bermunculan di wajah. Kulit rusak, wajah rusak. Rugi bandar. Aku benci matahari.

Penikmat hidup akan berkata:
Berceritalah tentang matahari. Ia setia menyapa saat pagi. Memberi kehangatan pada tubuh yang mengigil. Bayi-bayi dijemur, matahari menganugrahkan kekuatan pada tulang mereka. Ibu-ibu tersenyum cuciannya kering. Penjemur cengkeh dan ikan asin bersorak gembira. Aku cinta matahari.

Pembenci hidup akan berkata:
Buanglah cerita tentang gunung. Ia gampang sekali murka. Lahar panas akan menyapu bersih. Membakar manusia dalam lelehan api. Rumah-rumah lebur, pepohonan ancur. Debu-debu berterbangan menyesakan dada. Semua lenyap. Rugi bandar. Aku benci gunung.

Penikmat hidup akan berkata:
Berceritalah tentang gunung. Ia bagaikan kaki langit yang menjulang mencapai cakrawala. Menghadiahkan mata air terjenih untuk diminum. Udaranya sejuk menyegarkan paru-paru. Embun menetes di dedaunan, menggambarkan kesempurnaan pagi. Aku cinta gunung.

Pembenci hidup akan berkata:
Buanglah cerita tentang malam. Kegelapan menaungi bumi. Jalan-jalan tak lagi terlihat. Bocah-bocah terpelecok ke comberan, menangisi bajunya yang kotor dan bau. Para penjahat mulai bekeliaran menunggu di ujung-ujung jalan. Perempuan korban rampok menangisi tas dan handphone-nya. Semua menangis. Rugi bandar. Aku benci malam.

Penikmat hidup akan berkata:
Berceritalah tentang malam. Angin semilir menyejukan. Di langit ada bintang berkelipan dan bulan yang sedang main mata. Lampu-lampu taman bersautan. Kembang api indah sempurna pada langit gelap. Aku cinta malam.

Indah dan nikmatnya hidup, bergantung pada cara kita memandang hidup

Jumat, Maret 13, 2009

Kuucapkan Salam


Kuucapkan salam pada langit yang masih remang, pada matahari yang baru bangun dari tidurnya, pada embun pagi yang menetes di ujung dedaunan, pada ayam yang berkokok tiada henti, pada burung yang berkicau merdu. Kuucapkan salamku dan kuminta kalian memberikan kekuatan kepadaku untuk menjalani hari ini.

Kuucapkan salam pada para lelaki pengais sepeda dengan dua keranjang besar berisi labu dan tomat yang akan dijual ke pasar, pada para perempuan yang mengerumuni tukang sayur keliling, pada anak-anak berpakaian seragam yang siap melangkah ke sekolah, pada para pekerja yang siap mengadu nasib di bumi tua ini, pada perahu yang hilir mudik mengangkut orang-orang yang hendak menyebrangi sungai. Kuucapkan salamku dan kuminta kalian memberikan kekuatan kepadaku untuk menjalani hari ini.

Kuucapkan salam pada jalan yang padat, pada lampu merah, pada para polisi yang sibuk mengatur lalu lintas, pada macet, pada polusi udara, pada jalan-jalan berlubang. Kuucapkan salamku dan kuminta kalian memberikan kekuatan kepadaku untuk menjalani hari ini.

Kuucapkan salam pada kantor, pada komputer, pada jaringan internet, pada printer, pada handphone dan telepon, pada para costumer, pada buku-buku yang hendak diedit, pada suara bos yang renyah, pada para office boy yang hilir mudik. Kuucapkan salamku dan kuminta kalian memberikan kekuatan kepadaku untuk menjalani hari ini.

Sebab setiap hari adalah tantangan, setiap hari adalah perjuangan. Dan dalam kekuatan yang kalian hantarkan, kusadari bahwa setiap hari juga adalah anugerah.

Sabtu, Januari 24, 2009

Tentang Imlek Dan Mimpi


Mel dan aku ingin bercerita tentang imlek. Tentang anak-anak kecil yang berbaris rapi di depan rumah menunggu angpao dibagikan. Tangan mereka terangkat tanda penghormatan kepada makhluk yang lebih tua. Setelah diangkat, tangan itu diturunkan dan mengadah untuk menerima sebuah amplof merah bertuliskan aksara cina, yang aku sendiri tak tahu apa artinya.


Tahukah kamu apa yang dipikirkan anak-anak saat mereka melihat beberapa amplof di genggaman tanganku? Aku menebak mereka membayangkan coklat, es krim, mainan dan berbagai barang yang siap mereka beli setelah membongkar isi angpao. Padahal angpao yang mereka terima hanya berisi beberapa lembar uang ribuan. Namun beberapa lembar uang itu cukup menjadi motivator untuk membuat mereka berkumpul berdesakan di depan rumah, tersenyum penuh harap dan melompat kegirangan. Padahal bagi kita, angpao dengan isi beberapa lembar uang ribuan itu hanya sedikit memberikan pertolongan. Isi angpao itu hanya berakhir pada tukang parkir, WC umum dan segelas Aqua. Tapi bagi anak-anak di kampung Mel, angpao itu melambungkan kegembiraan, senyum, khayalan dan berakhir pada harapan.

Apa yang membuat angpao merah itu menjadi sangat berharga di tangan anak-anak? Mengapa beberapa lembar uang ribuan mengalami peningkatan nilai, hingga mampu menarik senyum, riang dan tawa. Jawabannya hanya satu, yaitu karena angpao itu adalah sebuah impian yang jadi nyata.

Waktu aku kecil, malam sebelum Imlek adalah malam yang membuatku berdebar-debar, membayangkan berapa angpao yang akan aku peroleh, berapa uang yang akan aku terima, barang apa yang ingin aku beli. Angpao itu adalah adalah tujuan, harapan dan impian. Impian yang membuatku bersemangat datang dari satu rumah ke rumah lain, berdiri berbarisan, mengembangkan cengiran selebar-lebarnya dan mengucapkan kalimat dengan sangat manis "Terima kasih Cek, terima kasih Aih, terima kasih Oo, terima kasih Kong."

Sobat, impian adalah bagaikan bahan bakar yang memacu kendaraanmu berjalan. Impian, harapan, tujuan dan cita-cita adalah pemotivasimu untuk berani melangkah menggapai impian itu. Aku tahu kita tidak sedang memimpikan angpao di Imlek ini. Kamu tidak, aku pun tidak, meski di blogku ini ada tulisan "Angpao Na Lay" hihihihihi. Sumpah ini bercanda 100%, tapi kalau berneran seh.... hihihihihihihi. Eh, ampe di mana tadi? Oh... iya tentang impian yha? Yha, sungguh aku tidak tahu apa yang sedang kamu impikan sekarang. Mungkin kau memimpikan perempuan itu, baju ini, mobil itu, rumah ini, ah entah apalah. Aku cuma ingin bilang, jangan anggap impian adalah sebuah kesalahan. Impianmu adalah langkah awal untuk menggapai cita-cita itu. Impianmu adalah tenaga untuk kau bertindak. Impianmu adalah kekuatan untuk kau berusaha. Jadi, mari bermimpi di Imlek ini! Mimpikan aku, kamu dan kita menjadi manusia yang lebih baik.

"Met Imlek Yha!"