
Tuhan, pernahkah aku begitu sungguh-sungguh meminta kepada-Mu seperti aku meminta Mel? Dia adalah bahagiaku. Tiap hari aku menerima hadiah senyuman dari-Mu melalui dirinya. Dia adalah alasan mengapa aku ngebut bermotor dan ingin cepat pulang ke rumah. Ya, karena aku tahu ada perempuanku yang menungguku di sana. Dialah yang membuat aku tidur dengan nyenyak dan bangun dengan semangat.
Tuhan, entah bagaimana aku menjalani hari tanpanya? Mungkinkah hariku akan terbenam sepi dan terkubur dalam kepedihan? Tidak, aku tidak mau menyatakan bahwa aku lebih membutuhkan dia dari pada membutuhkan-Mu. Tapi ijinkan aku jujur, bahwa aku sangat membutuhkannya. Ya, membutuhkannya bukan menginginkannya. Tanpa dia, hidup yang kehidupi akan begitu gelap dan kelam. Masakah Engkau tega melihatku menangis setiap malam? Masakah Engkau sampai hati membiarkan aku hidup dalam kepedihan?
Tuhan, aku mengecap kebaikan-Mu bukan dari kata orang. Aku sendiri merasakan dan mengalaminya. Terlalu besar kasih karunia-Mu padaku. Bahkan tak terbayar dengan persembahan hidupku sekali pun. Jujur aku malu berdiri di muka pintu-Mu sekedar mengetuk dan mengemis belas kasihan-Mu. Tapi demi cintaku pada perempuanku, maka kuberanikan diri mengetuk pintu-Mu sekali lagi. Jika Kau bolehkan aku meminta sekali lagi, ijinkanlah aku menjalani sisa hidupku bersama Mel, tinggal bersamanya dan hidup dalam dekapan kasihnya sampai ajal menjemputku.
Tuhan, sekali lagi aku ciumi kaki-Mu, berikanlah belas kasihan-Mu pada kami. Untuk hari ini, esok dan seterusnya. Karena langitku mendung tanpa cerianya, tanahku gersang tanpa keteduhannya dan duniaku penuh dengan kekelaman tanpa warnanya. Kabulkanlah doaku ya Tuhan. Dari hatiku terdalam, aku meminta, berikanlah Mel padaku...








