Jumat, Maret 27, 2009

Our Anniversary


Setahun yang lalu. Saat malam penuh bintang, aku menyatakan cinta kepada perempuanku. Malu, ragu tapi aku memberanikan diri untuk mencoba dengan memegang sebuah keyakinan bahwa ia mencintaiku juga.

Setahun yang lalu. Saat malam penuh bintang, jujanjikan kebahagiaan kepadanya. Aku ingin menjaganya senantiasa, membuatnya selalu tersenyum, menghantarkannya selalu kepada kebahagiaan, membawanya selalu kepada kedamaian.

Tapi aku ingkar, perempuanku mulai mengenal air mata dan kesedihan sejak tangan lembutmu menyambut cintaku. Entah berapa banyak air mata yang ia telah habiskan untuk mempertahankan hubungan kami. Entah seberapa sering kami terjebak dalam kerapuhan. Aku ingkar.

Beberapa minggu menjelang anniversary, kami berada di puncak kesedihan, di ujung kegalauan. Tuhan memperkenalkan kami kepada rasa sakit bercinta dan rasa takut kehilangan. Setiap malam kami saling mengucapkan cinta satu sama lain berkali-kali, seakan takut jika hari esok datang, kami tiba-tiba membisu. Setiap malam kami selalu berpelukan seerat mungkin seakan takut pedang kesucian memisahkan ketika kami tertidur.

Kemarin aku dan Mel berada di sebuah danau. Kami naik perahu bebek, lalu makan ikan bakar di pinggiran danau. Cahaya lilin di meja makan redup, angin bertiup kencang dan hujan deras terjun ke bumi. Kami saling berpegangan tangan. Kulihat ada butir air mata di wajahnya.

"Ini ulang tahun kita yang pertama. Honey, aku selalu ingin suasana ini, aku ingin merayakan ulang tahun kita untuk yang ke-2, 3, 4, 5 bahkan sampai ke-100. Aku nggak ingin semua berakhir."

Aku tersenyum melihat wajah sedih kekasihku. "Aku pernah menjanjikanmu sejuta kebahagiaan. Maafin yha, kalau aku cuma bisa bawa kamu menangis terus."

"Aku nggak pernah menyesal untuk setiap hal yang udah kita jalanin. Aku bahagia. Say lihat deh, Tuhan udah memberikan kebahagian buat aku dengan mengajari kita banyak hal. Semua yang sudah aku lewati bersamamu membuat aku mengerti, bahwa kamu orang yang sangat berarti buat aku. Aku bahagia jadi perempuan kamu." Mel menggenggam tanganku yakin.

Hujan deras berganti menjadi gerimis. Kami berlari kecil dari tempat makan menuju parkiran. Kekasihku basah, aku juga. Malam itu sungguh gelap, aku memeluknya erat. Suasana hangat seperti tahun lalu, kuulang kembali kenangan itu dengan menatapnya lembut dan mengucapkan kata-kata itu lagi.

"Aku cinta kamu."
"Iya. Aku juga cinta kamu."
"Kita jadian aja yha?!"
"Kan udah! Udah setahun! Dasar pikun. Gini neh susahnya pacaran ma tua bangka."
"Kurang ajar!!! Kamu pikir usia aku berapa??? Dasar anak ingusan!!!"

Kami berkejaran. Aku menarik tangannya, memutar tubuhnya, memeluknya dan menggendongnya mengitari lapangan parkir. Seorang tukang parkir, bulan, bintang, angin, rintik hujan, lampu remang dan pohon-pohon palem ikut cekikikan bersama dengan kami.

Selasa, Maret 24, 2009

Kau Berulang Tahun, Aku Bahagia!!!


Mel, kekasihku, untukmu kupersembahkan matahari yang memberikan kehangatan. Untukmu, kupersembahkan burung yang tak pernah lelah bernyanyi. Untukmu kupersembahkan langit yang tidak pernah mendung. Untukmu, kupersembahkan malam yang tak pernah datang tanpa bintangnya. Untukmu, kupersembahkan kata puitis yang tiada pernah habis. Untukmu kupersembahkan hari-hari baik yang akan senada dengan bertambahnya usiamu. Untukmu, kupersembahkan hubungan yang penuh kualitas dan makna. Untukmu, kupersembahkan kebahagiaan yang akan senantiasa datang dalam setiap sedihmu. Untukmu, kupersembahkan hidupku yang rela memegang erat tanganmu dalam suka dan duka, dalam tawa dan tangis, dalam ramah dan marah, dalam kuat dan rapuh, dalam kenyang dan lapar, dalam damai dan ricuh.

Kamu tahu mengapa? karena kamu adalah perempuan terindah dalam hidupku. Memilikimu sama dengan membawa dunia berada dalam genggamanku. Kau warnai hariku dengan cinta. Kau iringi langkahku dengan sayang. Kau sirami hatiku dengan kasih. Sehingga kemana pun aku pergi, aku merasa tenang, karena aku memilikimu.

Hari ini, kubawa setiap kisah kita menjadi sebuah kue tart manis. Kubawa kedamaian kita menjadi nyala lilin kecil. Kubawa janji kita menjadi semangkuk mie. Dan kubawa senyumku, senyum yang selalu kau suka, senyum sebagai tanda bahwa aku adalah manusia yang paling bahagia, senyum itu akan menjadi sebuah kado terbaik untukmu.
Sebab seperti permintaanmu malam itu,
"Sayang, ulang tahun kali ini, kamu mau kado apa?"
"Aku ingin orang yang aku cintai bahagia. Aku ingin kamu bahagia."

Maka untuk perempuan terbaik, kuhadiahkan kebahagiaanku. Lihat di wajah dan senyumku, bukankah kamu menemukan wajah bahagia manusia karena memiliki perempuan terindah sepertimu?


Selamat Ulang Tahun sayang!!!
Aku terharu mendengar apa yang kau minta pada ulang tahunmu kali ini.
Karenamu, maka kusebut diriku sebagai manusia paling bahagia di bumi.

Senin, Maret 16, 2009

Tuan Putri


Kekasih, hari ini kamu sangat cantik. Sama seperti hari kemarin. Dan kuyakin besok pun kau selalu jadi tuan putri tercantik di istanaku.

Kekasih, hari ini kamu sangat bijaksana. Sama seperti hari kemarin. Dan kuyakin besok pun kau selalu jadi tuan putri terbijak di istanaku.

Kekasih, hari ini kamu penuh perhatian. Sama seperti hari kemarin. Dan kuyakin besok pun kau selalu jadi tuan putri yang paling memperhatikanku di istanaku.

Kekasih, hari ini kamu sangat rajin. Sama seperti hari kemarin. Dan kuyakin besok pun kau selalu jadi tuan putri terajin di istanaku.
Kekasih, hari ini kamu sangat lembut. Sama seperti hari kemarin. Dan kuyakin besok pun kau selalu jadi tuan putri terlembut di istanaku.

Kekasih, hari ini kamu sangat cerdas. Sama seperti hari kemarin. Dan kuyakin besok pun kau selalu jadi tuan putri cerdas di istanaku.
Kekasih, hari ini kamu sangat pengertian. Sama seperti hari kemarin. Dan kuyakin besok pun kau selalu jadi tuan putri yang paling mengerti diriku di istanaku.
Dan seandainya, jika hari ini kamu tidak terlihat cantik, tidak terlihat bijaksana, tidak terlihat perhatian, tidak terlihat rajin, tidak terlihat lembut, tidak telihat cerdas atau pun tidak mengerti diriku seutuhnya, namun demi cinta ini, aku yakin hari ini, besok maupun lusa kau akan selalu menjadi satu-satunya tuan putri terbaik di istanaku.

Sabtu, Maret 14, 2009

Pembenci Hidup VS Penikmat Hidup


Pembenci hidup akan berkata:
Buanglah cerita tantang hujan. Mereka menerobos jatuh ke bumi. Tanah becek di sana-sini. Matahari ngumpet dibalik awan hingga cucian tak kunjung kering di jemur. Kali-kali kepenuhan. Air meluap membanjiri rumah. Ada kasur, DVD, TV, komputer, tape dan alat elektronik lainnya yang tenggelam. Semua rusak. Rugi bandar. Aku benci hujan.

Penikmat hidup akan berkata:
Berceritalah tentang hujan. Mereka merintik jatuh ke bumi. Memberi kesegaran dan kesuburan. Sebentar lagi tunas-tunas akan bersemi. Batang-batang pohon bergerak ke langit. Daun-daun segar menghijau. Bunga-bunga bermekaran dan buah-buah dipanen. Aku cinta hujan

Pembenci hidup akan berkata:
Buanglah cerita tentang matahari. Ia menyengat masuk kesela-sela jaket saat jalanan ibu kota macet. Panasnya membuat tubuh basah kuyup oleh keringat. Kaki dan tangan terbakar hitam. Bintik-bintik noda bermunculan di wajah. Kulit rusak, wajah rusak. Rugi bandar. Aku benci matahari.

Penikmat hidup akan berkata:
Berceritalah tentang matahari. Ia setia menyapa saat pagi. Memberi kehangatan pada tubuh yang mengigil. Bayi-bayi dijemur, matahari menganugrahkan kekuatan pada tulang mereka. Ibu-ibu tersenyum cuciannya kering. Penjemur cengkeh dan ikan asin bersorak gembira. Aku cinta matahari.

Pembenci hidup akan berkata:
Buanglah cerita tentang gunung. Ia gampang sekali murka. Lahar panas akan menyapu bersih. Membakar manusia dalam lelehan api. Rumah-rumah lebur, pepohonan ancur. Debu-debu berterbangan menyesakan dada. Semua lenyap. Rugi bandar. Aku benci gunung.

Penikmat hidup akan berkata:
Berceritalah tentang gunung. Ia bagaikan kaki langit yang menjulang mencapai cakrawala. Menghadiahkan mata air terjenih untuk diminum. Udaranya sejuk menyegarkan paru-paru. Embun menetes di dedaunan, menggambarkan kesempurnaan pagi. Aku cinta gunung.

Pembenci hidup akan berkata:
Buanglah cerita tentang malam. Kegelapan menaungi bumi. Jalan-jalan tak lagi terlihat. Bocah-bocah terpelecok ke comberan, menangisi bajunya yang kotor dan bau. Para penjahat mulai bekeliaran menunggu di ujung-ujung jalan. Perempuan korban rampok menangisi tas dan handphone-nya. Semua menangis. Rugi bandar. Aku benci malam.

Penikmat hidup akan berkata:
Berceritalah tentang malam. Angin semilir menyejukan. Di langit ada bintang berkelipan dan bulan yang sedang main mata. Lampu-lampu taman bersautan. Kembang api indah sempurna pada langit gelap. Aku cinta malam.

Indah dan nikmatnya hidup, bergantung pada cara kita memandang hidup

Jumat, Maret 13, 2009

Kuucapkan Salam


Kuucapkan salam pada langit yang masih remang, pada matahari yang baru bangun dari tidurnya, pada embun pagi yang menetes di ujung dedaunan, pada ayam yang berkokok tiada henti, pada burung yang berkicau merdu. Kuucapkan salamku dan kuminta kalian memberikan kekuatan kepadaku untuk menjalani hari ini.

Kuucapkan salam pada para lelaki pengais sepeda dengan dua keranjang besar berisi labu dan tomat yang akan dijual ke pasar, pada para perempuan yang mengerumuni tukang sayur keliling, pada anak-anak berpakaian seragam yang siap melangkah ke sekolah, pada para pekerja yang siap mengadu nasib di bumi tua ini, pada perahu yang hilir mudik mengangkut orang-orang yang hendak menyebrangi sungai. Kuucapkan salamku dan kuminta kalian memberikan kekuatan kepadaku untuk menjalani hari ini.

Kuucapkan salam pada jalan yang padat, pada lampu merah, pada para polisi yang sibuk mengatur lalu lintas, pada macet, pada polusi udara, pada jalan-jalan berlubang. Kuucapkan salamku dan kuminta kalian memberikan kekuatan kepadaku untuk menjalani hari ini.

Kuucapkan salam pada kantor, pada komputer, pada jaringan internet, pada printer, pada handphone dan telepon, pada para costumer, pada buku-buku yang hendak diedit, pada suara bos yang renyah, pada para office boy yang hilir mudik. Kuucapkan salamku dan kuminta kalian memberikan kekuatan kepadaku untuk menjalani hari ini.

Sebab setiap hari adalah tantangan, setiap hari adalah perjuangan. Dan dalam kekuatan yang kalian hantarkan, kusadari bahwa setiap hari juga adalah anugerah.

Rabu, Maret 11, 2009

Bunda, Peluk Aku!


Bunda, maukah engkau bangkit dari kuburmu? Dobraklah tanah yang menimbun tubuh. Munculah kembali ke bumi dan temui aku. Peluklah aku seerat yang kamu bisa. Bahkan remukanlah tubuhkan dengan pelukanmu. Saat ini aku ingin ada orang yang memelukku dengan begitu erat. Seerat-eratnya.


Atau bawalah aku ke duniamu bunda, ke dunia orang mati. Dunia yang hanya dipenuhi kebahagiaan dan riang canda. Aku ingin menikmati kembali kebersamaan kita. Aku rindu pada genggaman tanganmu yang hangat, ciumanmu yang lembut dan bau tubuh yang khas.

Bunda, bolehkah aku menjumpai Tuhan dan meminta ijin bertemu denganmu walau hanya sekejap. Aku benar-benar gamang, takut dan butuh nasehat dan tuntunanmu. Sekarang aku begitu rapuh. Aku panggil engkau untuk memberiku keyakinan, sama seperti saat aku terjatuh dari sepeda, dan kau datang, membangunkan, memeluk dan mengobati seluruh lukaku. Bunda saat ini aku terjatuh, kakiku berdarah. Sakit... sakit sekali rasanya. Tapi entah mengapa kesakitan itu kini meradang bukan di kaki, melainkan di hati. Aku rindu kehadiranmu untuk mengoleskan obat pada luka di hatiku. Aku ingin luka ini sembuh.

Bunda... malam ini aku akan tertidur. Datanglah dan obati lukaku... Aku ingin sembuh. Aku ingin pulih. Aku ingin kembali menjadi bayi 3,6 kg yang kau gendong 24 tahun lalu. Aku ingin seputih bayi... sesuci bayi...

Bunda... seandainya waktu bisa kuputar kembali...

Rabu, Februari 25, 2009

Semoga...


Ke mana saja aku selama ini? Aku ada di sini. Belakangan aku menjadi begitu labil. Ada banyak pertanyaan yang tiba-tiba datang dan tak mampu aku jawab. Aku lebih sering menyendiri, duduk dipojokan, sambil menghabiskan buku-buku. Akhir-akhir ini aku bergelut dengan pikiranku sendiri. Pikiranku menjelajah kemana pun ia mau. Aku mulai berpikir tentang banyak hal. Tentang Tuhan, tentang Mel, tentang rumah, tentang kasih ibu, tentang banjir, tentang keluarga, tentang sahabat-sahabat dunia mayaku, tentang masa kini, masa depan dan kehidupan setelah kematian.

Entahlah apakah sekarang aku semakin arif, semakin bijaksana dan semakin sabar. Entahlah apakah aku sekarang semakin berguna, bermakna dan memberi dampak. Entahlah... Belakangan ini aku merasa banyak mengalami kegagalan sebagai manusia. Aku merasa gagal menjadi anak ketika melihat ayahku menangisi hidupnya. Aku merasa gagal menjadi kekasih ketika Mel menyembunyikan wajahnya di bawah bantal, menangis karena ulahku. Aku merasa gagal menjadi manusia ketika aku lebih memilih membekap Mel semalaman saat hujan turun, padahal di tempat lain, beberapa anak jalanan menungguku. Perenunganku terhadap keberadaan dirikulah yang membuat aku menyadari betapa gagalnya aku.

Wajarkah aku gagal? Bukankah masih terlalu muda untuk aku hidup begitu sempurna? Jangan, aku tak boleh menjadikan kemudaan sebagai alasan untuk tidak melakukan hal yang terbaik. Dalam kesadaran itu, aku mencoba memperbaiki berbagai kegagalan. Aku coba untuk menghampiri ayahku, menghapus air matanya, memeluknya dan menyatakan betapa aku menyayanginya. Aku mulai bersikap lebih dewasa terhadap Mel, seperti pesan sahabatku Frizzy Jo: "Ayo dong Den, lo mesti lebih dewasa. Kan lo lebih tua dari Mel." Dan juga seperti pesan Kakakku Bening yang selalu menasehati agar selalu memberikan kasih dan kelembutan kepada partner. Aku juga mulai menyemangati diriku untuk mengajar anak-anak lebih giat.

Semoga aku akan menjadi manusia yang lebih baik. Manusia yang lebih manusiawi. Semoga dalam kemudaan aku menjadi manusia yang begitu matang. Semoga...

Kamis, Januari 29, 2009

Obrolan Sebelum Bobo


Sebelum ranjang empuk terhampiri. Sebelum bulan dan bintang menutup matanya. Sebelum batal dan guling melakukan tugasnya.
Deni : Mel, aku mengagumi pesonamu.
Mel : Deni, aku memuja kharismamu.

Deni : Kau adalah melodi yang menyejukan.
Mel : Kau adalah dawai yang menggembirakan.

Deni : Aku salut pada kesetiaanmu memasak setiap hari untukku.
Mel : Aku bangga pada kesediaanmu mengantarku kemana pun aku pergi.

Deni : Kau adalah bulan lembut yang menghiasi malam.
Mel : Kau adalah matahari perkasa yang menyinari siang.

Deni : Aku kangen pada kenakalanmu saat tak mau menghabiskan makanan.
Mel : Aku rindu pada cerewetmu untuk selalu teriak. "Sesuap lagi yha say! Please!"

Deni : Kau adalah burung Gereja yang bercicit di atap rumah setiap pagi.
Mel : Kau adalah burung Rajawali yang mengepakan sayapnya melintasi gunung-gunung.

Deni : Aku bersemangat saat menghampiri dan mencumbuimu di ranjang
Mel : Aku bahagia saat menanti dan membalas cumbuanmu di ranjang

Deni : Kau adalah bunga mawar putih yang bermekaran
Mel : Kau adalah kumbang yang berkeliaran

Deni : Aku senang melihat kau bersemangat mendengar ceritaku
Mel : Aku selalu menanti menikmati ceritamu tentang surga kita

Deni : Kau adalah hidung
Mel : Kau adalah upil

Deni : Aku suka melihat kau membersihkan komedo di hidungmu
Mel : Aku senang menyaksikanmu mencukur bulu kaki

Deni : Kau adalah penjara
Mel : Kau adalah narapidana

Deni : Aku bahagia menerima buku darimu
Mel : Aku gembira saat kau membacanya

Deni : Kau adalah bohlam lampu
Mel : Kau adalah sengatan listrik

Deni : Aku menyukaimu, saat kau bernyanyi malu-malu
Mel : Aku mengagumimu, saat kau bermain musik percaya diri

Deni : Kau adalah duniaku
Mel : Kau adalah hidupku

Deni : Aku menyukai senyumanmu
Mel : Aku jatuh cinta pada caramu berbicara

Deni : Kau adalah bait-bait kata
Mel : Kau adalah puisi cinta

Deni : Aku menyukai kedekatanmu dengan Tuhan
Mel : Aku terpesona pada caramu berpikir tentang Tuhan

Deni : Kau adalah doa-doa yang dinaikan
Mel : Kau adalah mazmur-mazmur yang dikidungkan

Deni : Aku menyayangimu
Mel : Aku mencintaimu
Deni : Kau adalah alasanku hidup
Mel : Kau adalah alasanku menemani hidupmu
Deni : Mel, mari kita tidur
Mel : Pastikan semua pintu terkunci rapat sayang!
Deni : zzz zzz zzz zzz
Mel : zzz zzz zzz zzz

Sabtu, Januari 24, 2009

Tentang Imlek Dan Mimpi


Mel dan aku ingin bercerita tentang imlek. Tentang anak-anak kecil yang berbaris rapi di depan rumah menunggu angpao dibagikan. Tangan mereka terangkat tanda penghormatan kepada makhluk yang lebih tua. Setelah diangkat, tangan itu diturunkan dan mengadah untuk menerima sebuah amplof merah bertuliskan aksara cina, yang aku sendiri tak tahu apa artinya.


Tahukah kamu apa yang dipikirkan anak-anak saat mereka melihat beberapa amplof di genggaman tanganku? Aku menebak mereka membayangkan coklat, es krim, mainan dan berbagai barang yang siap mereka beli setelah membongkar isi angpao. Padahal angpao yang mereka terima hanya berisi beberapa lembar uang ribuan. Namun beberapa lembar uang itu cukup menjadi motivator untuk membuat mereka berkumpul berdesakan di depan rumah, tersenyum penuh harap dan melompat kegirangan. Padahal bagi kita, angpao dengan isi beberapa lembar uang ribuan itu hanya sedikit memberikan pertolongan. Isi angpao itu hanya berakhir pada tukang parkir, WC umum dan segelas Aqua. Tapi bagi anak-anak di kampung Mel, angpao itu melambungkan kegembiraan, senyum, khayalan dan berakhir pada harapan.

Apa yang membuat angpao merah itu menjadi sangat berharga di tangan anak-anak? Mengapa beberapa lembar uang ribuan mengalami peningkatan nilai, hingga mampu menarik senyum, riang dan tawa. Jawabannya hanya satu, yaitu karena angpao itu adalah sebuah impian yang jadi nyata.

Waktu aku kecil, malam sebelum Imlek adalah malam yang membuatku berdebar-debar, membayangkan berapa angpao yang akan aku peroleh, berapa uang yang akan aku terima, barang apa yang ingin aku beli. Angpao itu adalah adalah tujuan, harapan dan impian. Impian yang membuatku bersemangat datang dari satu rumah ke rumah lain, berdiri berbarisan, mengembangkan cengiran selebar-lebarnya dan mengucapkan kalimat dengan sangat manis "Terima kasih Cek, terima kasih Aih, terima kasih Oo, terima kasih Kong."

Sobat, impian adalah bagaikan bahan bakar yang memacu kendaraanmu berjalan. Impian, harapan, tujuan dan cita-cita adalah pemotivasimu untuk berani melangkah menggapai impian itu. Aku tahu kita tidak sedang memimpikan angpao di Imlek ini. Kamu tidak, aku pun tidak, meski di blogku ini ada tulisan "Angpao Na Lay" hihihihihi. Sumpah ini bercanda 100%, tapi kalau berneran seh.... hihihihihihihi. Eh, ampe di mana tadi? Oh... iya tentang impian yha? Yha, sungguh aku tidak tahu apa yang sedang kamu impikan sekarang. Mungkin kau memimpikan perempuan itu, baju ini, mobil itu, rumah ini, ah entah apalah. Aku cuma ingin bilang, jangan anggap impian adalah sebuah kesalahan. Impianmu adalah langkah awal untuk menggapai cita-cita itu. Impianmu adalah tenaga untuk kau bertindak. Impianmu adalah kekuatan untuk kau berusaha. Jadi, mari bermimpi di Imlek ini! Mimpikan aku, kamu dan kita menjadi manusia yang lebih baik.

"Met Imlek Yha!"

Jumat, Januari 09, 2009

Aku Menyebut Tahun 2008 Istimewa


Aku menangis di sudut kamar membayangkan hidupku sepanjang tahun 2008. Tahun yang awalnya aku lewati dengan raga yang hampir hancur namun diakhiri dengan tubuh yang begitu gagah. Oleh karena itu aku bersujud kepada Tuhan. Kusukuri kehidupan baru yang merekah sepanjang tahun 2008.

Aku bersyukur karena pada tahun itu banyak orang-orang baru yang muncul dalam hidupku dan memberikan warna yang kuat. Seketika saja mereka menjadi hidupku, menjadi masa depanku. Walau pada tahun itu pun, aku juga kehilangan banyak orang. Mereka hilang sehilang-hilangnya. Pergi tanpa kata, menghilang tanpa jejak. Seketika saja mereka menjadi masa laluku.

Aku menyebut tahun 2008 istimewa. Aku tidak pernah memintanya. Tapi Tuhan menghadikankan keistimewaan itu. Begitu cepat, begitu sakit namun begitu memberi kebahagiaan. Aku mengalami pergolakan jiwa yang sarat. Mulai dari keraguan, keberanian, langkah, galau, bertanya, belajar, mengajar hingga menerima dengan penuh syukur. Semua menjadi warna yang indah dalam perjalananku dengan mahluk bernama perempuan. Bernama Mel. Tuhan menyatukan aku dengan perempuan itu setelah kami saling mencinta beratus hari lamanya.

Berbagai peristiwa dan gejolak emosi yang begitu kompleks di tahun 2008 mengajarku untuk membenahi diri dan cara memandang Tuhan. Aku menjadi lebih introvert dan melankolis. Menjadi lebih spiritual dan religius. Tahun itu, aku merasa seperti keledai dungu, seperti kain kesumba berwarna merah pekat, seperti noda. Dan dalam segala rasa itu, Tuhan datang menjadi musafir yang naik keledai, naik ke punggungku, sehingga aku menjadi keledai yang berguna. Tuhan datang dan mengubah kain kesumba dan titik-titik noda menjadi putih seperti bulu domba. Sungguh, dalam kegamangan aku sangat membutuhkan Tuhan untuk menuntun jalan.

Dan sepanjang tahun itu. Sepanjang jalan yang harus aku lalui. Di atas jalan-jalan yang penuh semak duri dan batu tajam, Tuhan menggendong dan menibakanku di ujung jalan dengan selamat. Di ujung tahun 2008, aku berdiri tanpa luka.

Segala jenis senyum membentang. Kuciumi dengan penuh kasih sayang kaki Tuhan yang berlumur darah saat menggendongku. Ia tersenyum, aku juga. Tuhan bertanya: "Apa yang kamu minta dari-Ku di tahun 2009 ini?" Kujawab: "Pegang tangan-Ku Tuhan, dan jangan lepaskan. Itu lebih dari cukup."