Kamis, April 23, 2009

Kamu dan Sahabat-sahabatmu


Ruang tamu adalah tempatmu memujaku. Ada gelak tawa, ramah tamah dan tamu-tamu istimewa yang hadir di sana. Di ruang tamu, kau terpaksa bersahabat dengan gelas dan piring kotor, kertas kerja, sepatu, jaket, helm dan tasku yang berantakannya mengisi setiap sudut ruangan. Persahabatanmu dengan ruang tamu adalah untuk mencintaiku.

Kamar adalah tempatmu memujaku. Ada segurat senyum, kasih sayang dan sejarah tercipta di sana. Di kamar, kau terpaksa bersahabat dengan ranjang yang berantakan, DVD bajakan yang tercecer di lantai, handuk dan baju yang sembarangan kulempar. Persahabatanmu dengan kamar adalah untuk mencintaiku.

Dapur adalah tempatmu memujaku. Ada setoples coklat, seloyang puding dan semangkuk ikan balado yang telah mati-matian kau buatkan untukku di sana. Di dapur, engkau terpaksa bersahabat dengan pisau tajam, kompor panas, penggorengan cemong, panci penyok, cabe pedas, bawang beringas dan percikan minyak. Persahabatanmu dengan dapur adalah untuk mencintaiku.

Kamar Mandi adalah tempatmu memujaku. Ada tubuh segar, aroma wangi dan semangat yang tercipta di sana. Di kamar mandi, kau bersahabat dengan tempat sabun yang berantakan, cucian yang numpuk dan lantai kamar mandi yang berlumut. Persahabatanmu dengan kamar mandi adalah untuk mencintaiku.

Banyak tempat bagimu untuk memujaku di rumah kita. Ada banyak kebahagiaan hadir di sana., seperti juga banyaknya persahabatan dengan hal-hal yang paling kau benci yang terpaksa kau jalin. Semua kau lakukan demi mencintaiku. Maka, untuk semuanya itu, akan kuhadiahkan hidupku untuk mendampingimu.

Sabtu, April 11, 2009

Cara Ibuku Berpikir Tentang Tuhan


Ibu paling marah kalau ada orang yang bilang, "Deni, ayo jangan nakal yha. Nanti Tuhan marah!" Dengan sigap ibu akan menghampiriku dan mengganti kalimat itu menjadi, "Deni, ayo jadi anak yang baik yha. Tuhan sayang sekali pada anak yang baik."

Ya, Ibu selalu ingin memperkenalkan Tuhan sebagai Tuhan yang baik. Tuhan yang tidak semena-mena menghukum, membenci marah dan membinasakan saat melihat kita melalukan perbuatan yang salah. Ibuku menggambarkan Tuhan sebagai Tuhan yang penuh pengampunan, kasih dan anugerah. Tuhan yang selalu memberi tangan terbuka untuk memeluk saat kita kembali pada jalan-Nya, bahkan saat kita ketakutan oleh karena rasa bersalah yang menghakimi.

Dalam perjalanan hidup yang diarungi ibu. Aku berkali-kali menyaksikan betapa kehidupan keluarga ibu penuh dengan rintangan. Mulai dari masalah ekonomi yang membuat ibu bekerja siang malam berjualan kue basah, hingga pada penghinaan-penghinaan tetangga yang kerap kali membuatnya minder. Menghadapi masalah-masalah itu, sering kali aku berpikir betapa Tuhan tidak menyayangi ibu. Tapi sesering apa pun aku berpikir demikian, sesering itu pula ibu memeluk aku dan berkata, "Den, Tuhan nggak pernah jahat. Semua yang Tuhan beri itu indah. Jangan pernah ukur kebaikan Tuhan hanya dari harta dan kehormatan. Ukurlah kebaikan Tuhan dari setiap senyum yang Dia anugerahkan kepada kita, sebab dalam kesederhanaan dan kesukaran sekali pun, bukankah kamu melihat mama selalu tersenyum? Itu adalah berkat terindah. Lihat betap banyak orang yang kaya dan terpandang namun susah sekali untuk tersenyum dan bersyukur kepada Tuhan."

Pengenalan inilah yang ingin ibu tanamkan dalam paradigmaku. Ia ingin aku berpikir bahwa Tuhan itu selalu baik. Jika suatu ketika aku mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, ibu ingin aku akan tetap berpikir bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa seijin Tuhan. Dan jika Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi, itu karena Ia sedang merancangkan kebaikan untukku. Kebaikan yang akan terlihat indah pada waktu-Nya. Yha pada waktu Tuhan. Bukan waktuku.

Aku suka pada cara ibu berpikir tentang Tuhan. Pikiran perempuan sederhana yang tidak akan pernah mau menyalahkan Tuhan untuk setiap hal yang ia alami. Bahkan pada saat ia harus menanggung kanker payudara yang membuatnya tidak dapat tidur berhari-hari karena menahan rasa sakit, ia tetap tidak mampu menyalahkan Tuhan. Sebab ia mengenal Tuhan bukan sebagai Tuhan yang mendatangkan malapetaka tapi Tuhan yang selalu memberi anugerah. Kesakitan terpahit sekali pun, baginya adalah berkat Tuhan yang akan membuatnya semakin arif, makin bijak.

Ibuku meninggal dalam kearifan, dalam pengenalan yang benar dan sempurna akan Tuhan. Dan jika suatu saat aku meninggal, semoga aku pun meninggal dalam pengenalan yang benar akan Tuhan. Sesempurna ibuku mengenal-Nya.


Happy Easter!!!
Remember that God always love you!!!

Rabu, April 08, 2009

De Ni, Femme atau Andro???


Mel : Say kamu tuh sebenernya femme loh

De Ni : Hah?

Mel : Iya, kamu sadar nggak?

De Ni : Kok kamu bisa mikir gitu?

Mel : Neh, aku bisa mikir kamu femme tuh dari chatnya kamu sama Bening or Carry. Kamu tuh nggak keliatan macho malah mirip adik perempuan manis yang minta disuapi makan sama kakaknya
De Ni : Wah, kamu say. Kamu nggak tahu seh gimana kalau aku chat sama Jo. Aku malah jadi kakak perempuan macho yang mau nyuapin makan adiknya. Ngaco kamu!!! Aku andro.

Mel : Lagian neh say, kamu tuh cengeng. Inget nggak berapa kali kamu nonton So Close? Setiap adegan malaikat komputer mati, kamu selalu nangis. Sepuluh kali kamu nonton Titanic, sepuluh kali kamu mewek. Bos pindah departemen, kamu nangis. OB dipecat, kamu nangis. Keponakan disunat, kamu juga nangis. Mana kalau nangis bisa berjam-jam. Kamu tuh Femme.

De Ni : Eits, jangan salah. Aku emang mudah tersentuh hatinya. Tapi aku paling kuat buat nahan sakit. Inget nggak waktu kecelakaan dan tulang kakiku mundur, aku nggak nangis. Atau waktu kakiku robek dan perlu dijahit aku juga nggak nangis. Coba kalau kamu... huh kepeleset aja langsung nangis.

Mel : Neh ini neh, alat musik yang kamu mainin itu piano. Lagunya juga mellow. Huh! femme banget!!!

De Ni : Loh kamu belum pernah liat aku main drum yha?

Mel : Belum, loh emang kamu bisa main drum say?

De Ni : NGGAK!!!

Mel : GEBLEK!!! Pantesan aku nggak pernah liat.

De Ni : Hahahahahah

Mel : Nah rambut kamu say. Kamu nggak suka berambut pendek. Rambut kamu selalu panjang. femme banget!!!
De Ni : Ngaco, inget nggak waktu aku minta ijin bondolin rambut? kamu bilang apa? "Jangan say, nanti kamu mirip enci tukang terasi bangka." Cuih....

Mel : Ini neh say, kamu tuh hobby masak. Kadang kamu malah sengaja bolos kerja buat nyoba resep masakan baru. Itu kan kerjaan femme banget.

De Ni: Ah nggak juga, liat dunk kalau aku pulang kerja, langsung lempar sepatu sembarangan terus nonton TV sambil nungguin kamu bawa air dan makanan. Yang beresin sepatu, tas, jaket dan helm itu kan kamu. Kalau lagi begitu keliatan banget deh Andronya.

Mel: Ah, kamu femme. Liat aja tuh baju-baju yang kamu beli. Modelnya ceweeeek banget. Malah mengarah ke model emak-emak.

De Ni: Makanya say, perhatiin kalau aku naik motor. Jaket, oto, helm fullface, sarung tangan dan sepatu boot. Duh buthcy banget.

Mel : Ah, pokoknya kamu femme

De Ni : Aku andro

Mel : Femme

De Ni : Andro

Mel : Huh!!!! Pokoknya kamu femme, femme, femmeeeeeeeeeeee!!!!

De Ni : Yha udah. Aku nggak mau ribut. Ok, aku femme. Kamu suka yha kalau aku femme?
Mel : NGGAK!!! Hehehehehehhehehehe

De Ni: ARRRRRRRRRRRRRGGGGGHHHHHTTTTTTT!!!!!!!!!!!!!

Jumat, Maret 27, 2009

Our Anniversary


Setahun yang lalu. Saat malam penuh bintang, aku menyatakan cinta kepada perempuanku. Malu, ragu tapi aku memberanikan diri untuk mencoba dengan memegang sebuah keyakinan bahwa ia mencintaiku juga.

Setahun yang lalu. Saat malam penuh bintang, jujanjikan kebahagiaan kepadanya. Aku ingin menjaganya senantiasa, membuatnya selalu tersenyum, menghantarkannya selalu kepada kebahagiaan, membawanya selalu kepada kedamaian.

Tapi aku ingkar, perempuanku mulai mengenal air mata dan kesedihan sejak tangan lembutmu menyambut cintaku. Entah berapa banyak air mata yang ia telah habiskan untuk mempertahankan hubungan kami. Entah seberapa sering kami terjebak dalam kerapuhan. Aku ingkar.

Beberapa minggu menjelang anniversary, kami berada di puncak kesedihan, di ujung kegalauan. Tuhan memperkenalkan kami kepada rasa sakit bercinta dan rasa takut kehilangan. Setiap malam kami saling mengucapkan cinta satu sama lain berkali-kali, seakan takut jika hari esok datang, kami tiba-tiba membisu. Setiap malam kami selalu berpelukan seerat mungkin seakan takut pedang kesucian memisahkan ketika kami tertidur.

Kemarin aku dan Mel berada di sebuah danau. Kami naik perahu bebek, lalu makan ikan bakar di pinggiran danau. Cahaya lilin di meja makan redup, angin bertiup kencang dan hujan deras terjun ke bumi. Kami saling berpegangan tangan. Kulihat ada butir air mata di wajahnya.

"Ini ulang tahun kita yang pertama. Honey, aku selalu ingin suasana ini, aku ingin merayakan ulang tahun kita untuk yang ke-2, 3, 4, 5 bahkan sampai ke-100. Aku nggak ingin semua berakhir."

Aku tersenyum melihat wajah sedih kekasihku. "Aku pernah menjanjikanmu sejuta kebahagiaan. Maafin yha, kalau aku cuma bisa bawa kamu menangis terus."

"Aku nggak pernah menyesal untuk setiap hal yang udah kita jalanin. Aku bahagia. Say lihat deh, Tuhan udah memberikan kebahagian buat aku dengan mengajari kita banyak hal. Semua yang sudah aku lewati bersamamu membuat aku mengerti, bahwa kamu orang yang sangat berarti buat aku. Aku bahagia jadi perempuan kamu." Mel menggenggam tanganku yakin.

Hujan deras berganti menjadi gerimis. Kami berlari kecil dari tempat makan menuju parkiran. Kekasihku basah, aku juga. Malam itu sungguh gelap, aku memeluknya erat. Suasana hangat seperti tahun lalu, kuulang kembali kenangan itu dengan menatapnya lembut dan mengucapkan kata-kata itu lagi.

"Aku cinta kamu."
"Iya. Aku juga cinta kamu."
"Kita jadian aja yha?!"
"Kan udah! Udah setahun! Dasar pikun. Gini neh susahnya pacaran ma tua bangka."
"Kurang ajar!!! Kamu pikir usia aku berapa??? Dasar anak ingusan!!!"

Kami berkejaran. Aku menarik tangannya, memutar tubuhnya, memeluknya dan menggendongnya mengitari lapangan parkir. Seorang tukang parkir, bulan, bintang, angin, rintik hujan, lampu remang dan pohon-pohon palem ikut cekikikan bersama dengan kami.

Selasa, Maret 24, 2009

Kau Berulang Tahun, Aku Bahagia!!!


Mel, kekasihku, untukmu kupersembahkan matahari yang memberikan kehangatan. Untukmu, kupersembahkan burung yang tak pernah lelah bernyanyi. Untukmu kupersembahkan langit yang tidak pernah mendung. Untukmu, kupersembahkan malam yang tak pernah datang tanpa bintangnya. Untukmu, kupersembahkan kata puitis yang tiada pernah habis. Untukmu kupersembahkan hari-hari baik yang akan senada dengan bertambahnya usiamu. Untukmu, kupersembahkan hubungan yang penuh kualitas dan makna. Untukmu, kupersembahkan kebahagiaan yang akan senantiasa datang dalam setiap sedihmu. Untukmu, kupersembahkan hidupku yang rela memegang erat tanganmu dalam suka dan duka, dalam tawa dan tangis, dalam ramah dan marah, dalam kuat dan rapuh, dalam kenyang dan lapar, dalam damai dan ricuh.

Kamu tahu mengapa? karena kamu adalah perempuan terindah dalam hidupku. Memilikimu sama dengan membawa dunia berada dalam genggamanku. Kau warnai hariku dengan cinta. Kau iringi langkahku dengan sayang. Kau sirami hatiku dengan kasih. Sehingga kemana pun aku pergi, aku merasa tenang, karena aku memilikimu.

Hari ini, kubawa setiap kisah kita menjadi sebuah kue tart manis. Kubawa kedamaian kita menjadi nyala lilin kecil. Kubawa janji kita menjadi semangkuk mie. Dan kubawa senyumku, senyum yang selalu kau suka, senyum sebagai tanda bahwa aku adalah manusia yang paling bahagia, senyum itu akan menjadi sebuah kado terbaik untukmu.
Sebab seperti permintaanmu malam itu,
"Sayang, ulang tahun kali ini, kamu mau kado apa?"
"Aku ingin orang yang aku cintai bahagia. Aku ingin kamu bahagia."

Maka untuk perempuan terbaik, kuhadiahkan kebahagiaanku. Lihat di wajah dan senyumku, bukankah kamu menemukan wajah bahagia manusia karena memiliki perempuan terindah sepertimu?


Selamat Ulang Tahun sayang!!!
Aku terharu mendengar apa yang kau minta pada ulang tahunmu kali ini.
Karenamu, maka kusebut diriku sebagai manusia paling bahagia di bumi.

Senin, Maret 16, 2009

Tuan Putri


Kekasih, hari ini kamu sangat cantik. Sama seperti hari kemarin. Dan kuyakin besok pun kau selalu jadi tuan putri tercantik di istanaku.

Kekasih, hari ini kamu sangat bijaksana. Sama seperti hari kemarin. Dan kuyakin besok pun kau selalu jadi tuan putri terbijak di istanaku.

Kekasih, hari ini kamu penuh perhatian. Sama seperti hari kemarin. Dan kuyakin besok pun kau selalu jadi tuan putri yang paling memperhatikanku di istanaku.

Kekasih, hari ini kamu sangat rajin. Sama seperti hari kemarin. Dan kuyakin besok pun kau selalu jadi tuan putri terajin di istanaku.
Kekasih, hari ini kamu sangat lembut. Sama seperti hari kemarin. Dan kuyakin besok pun kau selalu jadi tuan putri terlembut di istanaku.

Kekasih, hari ini kamu sangat cerdas. Sama seperti hari kemarin. Dan kuyakin besok pun kau selalu jadi tuan putri cerdas di istanaku.
Kekasih, hari ini kamu sangat pengertian. Sama seperti hari kemarin. Dan kuyakin besok pun kau selalu jadi tuan putri yang paling mengerti diriku di istanaku.
Dan seandainya, jika hari ini kamu tidak terlihat cantik, tidak terlihat bijaksana, tidak terlihat perhatian, tidak terlihat rajin, tidak terlihat lembut, tidak telihat cerdas atau pun tidak mengerti diriku seutuhnya, namun demi cinta ini, aku yakin hari ini, besok maupun lusa kau akan selalu menjadi satu-satunya tuan putri terbaik di istanaku.

Sabtu, Maret 14, 2009

Pembenci Hidup VS Penikmat Hidup


Pembenci hidup akan berkata:
Buanglah cerita tantang hujan. Mereka menerobos jatuh ke bumi. Tanah becek di sana-sini. Matahari ngumpet dibalik awan hingga cucian tak kunjung kering di jemur. Kali-kali kepenuhan. Air meluap membanjiri rumah. Ada kasur, DVD, TV, komputer, tape dan alat elektronik lainnya yang tenggelam. Semua rusak. Rugi bandar. Aku benci hujan.

Penikmat hidup akan berkata:
Berceritalah tentang hujan. Mereka merintik jatuh ke bumi. Memberi kesegaran dan kesuburan. Sebentar lagi tunas-tunas akan bersemi. Batang-batang pohon bergerak ke langit. Daun-daun segar menghijau. Bunga-bunga bermekaran dan buah-buah dipanen. Aku cinta hujan

Pembenci hidup akan berkata:
Buanglah cerita tentang matahari. Ia menyengat masuk kesela-sela jaket saat jalanan ibu kota macet. Panasnya membuat tubuh basah kuyup oleh keringat. Kaki dan tangan terbakar hitam. Bintik-bintik noda bermunculan di wajah. Kulit rusak, wajah rusak. Rugi bandar. Aku benci matahari.

Penikmat hidup akan berkata:
Berceritalah tentang matahari. Ia setia menyapa saat pagi. Memberi kehangatan pada tubuh yang mengigil. Bayi-bayi dijemur, matahari menganugrahkan kekuatan pada tulang mereka. Ibu-ibu tersenyum cuciannya kering. Penjemur cengkeh dan ikan asin bersorak gembira. Aku cinta matahari.

Pembenci hidup akan berkata:
Buanglah cerita tentang gunung. Ia gampang sekali murka. Lahar panas akan menyapu bersih. Membakar manusia dalam lelehan api. Rumah-rumah lebur, pepohonan ancur. Debu-debu berterbangan menyesakan dada. Semua lenyap. Rugi bandar. Aku benci gunung.

Penikmat hidup akan berkata:
Berceritalah tentang gunung. Ia bagaikan kaki langit yang menjulang mencapai cakrawala. Menghadiahkan mata air terjenih untuk diminum. Udaranya sejuk menyegarkan paru-paru. Embun menetes di dedaunan, menggambarkan kesempurnaan pagi. Aku cinta gunung.

Pembenci hidup akan berkata:
Buanglah cerita tentang malam. Kegelapan menaungi bumi. Jalan-jalan tak lagi terlihat. Bocah-bocah terpelecok ke comberan, menangisi bajunya yang kotor dan bau. Para penjahat mulai bekeliaran menunggu di ujung-ujung jalan. Perempuan korban rampok menangisi tas dan handphone-nya. Semua menangis. Rugi bandar. Aku benci malam.

Penikmat hidup akan berkata:
Berceritalah tentang malam. Angin semilir menyejukan. Di langit ada bintang berkelipan dan bulan yang sedang main mata. Lampu-lampu taman bersautan. Kembang api indah sempurna pada langit gelap. Aku cinta malam.

Indah dan nikmatnya hidup, bergantung pada cara kita memandang hidup

Jumat, Maret 13, 2009

Kuucapkan Salam


Kuucapkan salam pada langit yang masih remang, pada matahari yang baru bangun dari tidurnya, pada embun pagi yang menetes di ujung dedaunan, pada ayam yang berkokok tiada henti, pada burung yang berkicau merdu. Kuucapkan salamku dan kuminta kalian memberikan kekuatan kepadaku untuk menjalani hari ini.

Kuucapkan salam pada para lelaki pengais sepeda dengan dua keranjang besar berisi labu dan tomat yang akan dijual ke pasar, pada para perempuan yang mengerumuni tukang sayur keliling, pada anak-anak berpakaian seragam yang siap melangkah ke sekolah, pada para pekerja yang siap mengadu nasib di bumi tua ini, pada perahu yang hilir mudik mengangkut orang-orang yang hendak menyebrangi sungai. Kuucapkan salamku dan kuminta kalian memberikan kekuatan kepadaku untuk menjalani hari ini.

Kuucapkan salam pada jalan yang padat, pada lampu merah, pada para polisi yang sibuk mengatur lalu lintas, pada macet, pada polusi udara, pada jalan-jalan berlubang. Kuucapkan salamku dan kuminta kalian memberikan kekuatan kepadaku untuk menjalani hari ini.

Kuucapkan salam pada kantor, pada komputer, pada jaringan internet, pada printer, pada handphone dan telepon, pada para costumer, pada buku-buku yang hendak diedit, pada suara bos yang renyah, pada para office boy yang hilir mudik. Kuucapkan salamku dan kuminta kalian memberikan kekuatan kepadaku untuk menjalani hari ini.

Sebab setiap hari adalah tantangan, setiap hari adalah perjuangan. Dan dalam kekuatan yang kalian hantarkan, kusadari bahwa setiap hari juga adalah anugerah.

Rabu, Maret 11, 2009

Bunda, Peluk Aku!


Bunda, maukah engkau bangkit dari kuburmu? Dobraklah tanah yang menimbun tubuh. Munculah kembali ke bumi dan temui aku. Peluklah aku seerat yang kamu bisa. Bahkan remukanlah tubuhkan dengan pelukanmu. Saat ini aku ingin ada orang yang memelukku dengan begitu erat. Seerat-eratnya.


Atau bawalah aku ke duniamu bunda, ke dunia orang mati. Dunia yang hanya dipenuhi kebahagiaan dan riang canda. Aku ingin menikmati kembali kebersamaan kita. Aku rindu pada genggaman tanganmu yang hangat, ciumanmu yang lembut dan bau tubuh yang khas.

Bunda, bolehkah aku menjumpai Tuhan dan meminta ijin bertemu denganmu walau hanya sekejap. Aku benar-benar gamang, takut dan butuh nasehat dan tuntunanmu. Sekarang aku begitu rapuh. Aku panggil engkau untuk memberiku keyakinan, sama seperti saat aku terjatuh dari sepeda, dan kau datang, membangunkan, memeluk dan mengobati seluruh lukaku. Bunda saat ini aku terjatuh, kakiku berdarah. Sakit... sakit sekali rasanya. Tapi entah mengapa kesakitan itu kini meradang bukan di kaki, melainkan di hati. Aku rindu kehadiranmu untuk mengoleskan obat pada luka di hatiku. Aku ingin luka ini sembuh.

Bunda... malam ini aku akan tertidur. Datanglah dan obati lukaku... Aku ingin sembuh. Aku ingin pulih. Aku ingin kembali menjadi bayi 3,6 kg yang kau gendong 24 tahun lalu. Aku ingin seputih bayi... sesuci bayi...

Bunda... seandainya waktu bisa kuputar kembali...

Rabu, Februari 25, 2009

Semoga...


Ke mana saja aku selama ini? Aku ada di sini. Belakangan aku menjadi begitu labil. Ada banyak pertanyaan yang tiba-tiba datang dan tak mampu aku jawab. Aku lebih sering menyendiri, duduk dipojokan, sambil menghabiskan buku-buku. Akhir-akhir ini aku bergelut dengan pikiranku sendiri. Pikiranku menjelajah kemana pun ia mau. Aku mulai berpikir tentang banyak hal. Tentang Tuhan, tentang Mel, tentang rumah, tentang kasih ibu, tentang banjir, tentang keluarga, tentang sahabat-sahabat dunia mayaku, tentang masa kini, masa depan dan kehidupan setelah kematian.

Entahlah apakah sekarang aku semakin arif, semakin bijaksana dan semakin sabar. Entahlah apakah aku sekarang semakin berguna, bermakna dan memberi dampak. Entahlah... Belakangan ini aku merasa banyak mengalami kegagalan sebagai manusia. Aku merasa gagal menjadi anak ketika melihat ayahku menangisi hidupnya. Aku merasa gagal menjadi kekasih ketika Mel menyembunyikan wajahnya di bawah bantal, menangis karena ulahku. Aku merasa gagal menjadi manusia ketika aku lebih memilih membekap Mel semalaman saat hujan turun, padahal di tempat lain, beberapa anak jalanan menungguku. Perenunganku terhadap keberadaan dirikulah yang membuat aku menyadari betapa gagalnya aku.

Wajarkah aku gagal? Bukankah masih terlalu muda untuk aku hidup begitu sempurna? Jangan, aku tak boleh menjadikan kemudaan sebagai alasan untuk tidak melakukan hal yang terbaik. Dalam kesadaran itu, aku mencoba memperbaiki berbagai kegagalan. Aku coba untuk menghampiri ayahku, menghapus air matanya, memeluknya dan menyatakan betapa aku menyayanginya. Aku mulai bersikap lebih dewasa terhadap Mel, seperti pesan sahabatku Frizzy Jo: "Ayo dong Den, lo mesti lebih dewasa. Kan lo lebih tua dari Mel." Dan juga seperti pesan Kakakku Bening yang selalu menasehati agar selalu memberikan kasih dan kelembutan kepada partner. Aku juga mulai menyemangati diriku untuk mengajar anak-anak lebih giat.

Semoga aku akan menjadi manusia yang lebih baik. Manusia yang lebih manusiawi. Semoga dalam kemudaan aku menjadi manusia yang begitu matang. Semoga...