Jumat, Maret 26, 2010

Anniversary tahun ini


Dari mana yha awalnya kenapa aku bisa jatuh cinta kepadamu??? Mungkin orang-orang yang pernah melihatmu akan bilang bahwa aku jatuh cinta kepadamu karena kamu cantik. Iya seh kamu emang cantik, dan cuma orang aneh yang bilang kamu nggak cantik. Sebagai perempuan, kecantikan kamu itu sempurna...

Tapi, kalau benar aku jatuh cinta padamu karena kamu cantik, mengapa aku butuh waktu hingga tiga tahun untuk meyakinkan diriku bahwa aku mencintaimu??? Bukankah cukup waktu 2 menit untuk cinta yang datang dari mata lalu turun ke hati? Kalau gitu berarti aku tidak jatuh cinta pada fisikmu.

Berawal dari hari itu, saat aku ditugaskan untuk membeli peralatan Sekolah Minggu, aku memilih kamu untuk menemaniku. Bukan, sekali lagi bukan karena kamu tercantik diantara teman-temanmu, tapi karena cuma kamu yang masih libur sekolah. Dan hari itu untuk pertama kalinya kita pergi berdua meski telah tiga tahun kita berteman. Mungkin... hari itulah aku jatuh cinta padamu... karena sejak hari itu aku tidak berhenti memikirkanmu, dan bukankah sejak hari itu juga kamu selalu merindukanku???

Memang semua berawal dari jauh sebelum hari itu, aku sudah mengagumi pribadimu yang sabar dan kau sudah jatuh cinta pada kharismaku, pada caraku membacakan puisi, tapi mungkin hari itu adalah moment dimana kita yakin tentang perasaan khusus yang kita miliki satu sama lain.

Mulai hari itu kan kita jadi sering membuat pertemuan-pertemuan. Kita mencari-cari alasan untuk bisa bertemu. Entah memintamu mengantarku membeli baju untuk papaku, atau menjemputmu di sekolah, atau menemanimu belajar, atau mengantarmu mencari tempat kuliah. Juga kamu yang terkadang pura-pura sakit supaya aku jenguk. Intinya kita sering bertemu, dan tidak ingin saling melepas.

Ah... masa PDKT memang masa yang paling indah. Aku jadi benar-benar ganjen. Berdandan habis-habisan. Aku selalu wangi dan motorku selalu bersih. Masa PDKT adalah masa pengorbanan gila-gilaan, kamu ingat??? bahkan aku rela membantu kakakmu mengupas berkilo-kilo kacang hingga tanganku keriput hanya agar bisa bersamamu. Duh say kalau nggak demi kamu aku nggak mau deh ngupasin kacang yang banyaknya naujubileh satu persatu. Atau kamu ingat, aku menempuh jarak puluhan kilo meter hanya untuk meminjam bukumu, semua aku lakukan hanya untuk berjumpa denganmu. Meski hanya sebentar, tapi aku rela melakukan semuanya, karena berjumpa denganmu adalah candu untukku. Halah!!!

Hingga malam itu, rasanya kita tidak bisa lagi membohongi perasaan dan bersembunyi dibawah moral dan etika. Kuberanikan diri, dua tahun lalu dalam ruang gelap tanpa setitikpun cahaya, kutanyakan padamu,
"Kamu cinta aku?"
"Iya"
kamu jawab malu-malu. Hatiku penuh dengan bunga, ada yang putih dan ada yang merah.
"Kalau gitu kita jadian yha???"
"Iya, ya udah jadian" kamu jawab dengan lebih malu-malu

Aha..... Sekarang sudah dua tahun... Nggak berasa yha??? Dua tahun bersamamu adalah dua tahun terbaik dalam hidupku. Meski badai dan cobaan datang, tapi ingin kukatakan hal yang bukan gombal bahwa aku bahagia berasamamu, lebih dari yang mereka tahu...

Happy anniversary my princess.

Senin, Maret 22, 2010

Ulang Tahunmu Kali Ini...

Entah kalimat apa lagi yang harus aku tulis untuk mengungkapkan cintaku padamu. Kalau seluruh dedaunan menjadi kertas dan lautan menjadi tinta, maka pohon-pohon tak lagi berdaun dan lautan telah habis kering. Sebab tiap detik aku memetik dedaunan itu dan menuliskan puisi cinta untukmu.

Jadi aku bingung ingin menulis apa di hari ulang tahunmu ini. Bukankah ciuman yang kuhadiahkan di keningmu semalam lebih dari jutaan puitis? Dan bukankah bait-bait doa yang kita panjatkan semalam telah mengungkapkan semua rasa cintaku kepadamu. Jadi apa yang harus aku tulis lagi, akupun tak tahu. Maka, tanyakanlah tetang rasaku pada dedaunan yang melayang ditiup angin sambil mendendangkan puisi cinta yang aku tulis dipunggungnya. Dengarkanlah dendangnya sayang:


Aku suka matamu
karena mata itu selalu memandangku sebagai manusia sempurna


Aku suka telingamu
karena telinga itu tidak pernah lelah mendengar keluh kesahku


Aku suka bibirmu

karena bibir selalu mengeluarkan pujian yang t
idak gombal, kritikan yang membangun dan doa-doa yang tulus

Aku suka tanganmu

karena tangan itu selalu mengenggamku dalam suka duka, sehat sakit, tawa tangis, kaya miskin


Aku suka tubuhmu

karena tubuh itu selalu memelukku erat demi menghantarkan kekuatan


Aku suka kakimu

karena kaki itu selalu setia melan
gkah mendampingiku kemanapun aku pergi

Aku suka kamu...
seluru
hnya...
Aku tergila-gila padamu

Padamu seutuhnya...

Untuk lebah madu-ku tersayang

Kuhadiahkan kecupan di bibirmu

Kecupan yang lebih manis dari madu


Selamat U
lang Tahun sayang...


NB:
Sumpah dan suer say, setengah mati nyari kue yang berbentuk lebah sesuai dengan arti namamu dan berwarna pink sesuai dengan warna kesukaanmu... Huh! Demi cinta... Cinta oh cinta... Beginilah cinta... deritanya tiada akhir....



Senin, Maret 08, 2010

Tahun Lalu...


Sudah setahun belalu kekasihku, tapi sakitnya masih begitu menyengat. Hari itu adalah hari terburuk bagi kita. Dimana pedang yang bernama norma menyayat-nyayat cinta kita. Kita terhempas kesudut. Mulut kita yang menganga disumpal kain agama dan susila hingga penuh. Tak ada pembelaan darimu dan dariku pada hari itu. Karena norma, agama dan susila itu telah membungkam semua kata.

Kita adalah perempuan dursila, najis dan penuh noda yang diadili oleh moral. Kita terhempas ke jurang terdalam tak bertepi. Luka, lemah, menghancurkan semua bangunan moral yang telah kita dirikan dengan bangga. Sungguh, aku sangat takut kehilanganmu, hingga matilah seluruh saraf di tubuhku. Aku tak bisa lagi menjadi pahlawanmu, karena hari itu hilanglah kekuatanku seiring dengan matinya sebuah harapan. Aku adalah drakula yang kehilangan taring, macan yang kehilangan cakar, rajawali yang kehilangan sayap, dan perkutut yang kehilangan bunyi.

Ah... aku pasrah kekasihku, jika memang hari itu aku harus kehilanganmu. Aku rela! Bawalah jiwa dan hidupku bersamamu. Karena jika hari itu aku melangkah pergi meninggalkanmu, maka tubuhku hanya sebuah cangkang yang dihidupi oleh jiwa yang membusuk.

Tapi... ternyata semua tidak pernah berakhir. Cinta menguatkan kita bertahan dalam kelemahan, cinta membuat kita rela mati dalam kecintaan kepada hidup, cinta membuat kita rela terhina, diinjak-injak dan dibuang.

Ambilah semua yang aku punya, tapi jangan pisahkan aku dari orang yang kucintai.

Hari ini, marilah kita menciumi kaki Tuhan dengan penuh air mata. Sebab Dia adalah Tuhan yang selalu mendengar rintih dan doa, kelu dan kesah, mohon dan harap. Hari ini, aku mendapatkan tubuhmu saat mataku terbuka. Maka bait yang ingin keluar dari bibirku adalah puja dan puji bagi Tuhan. Dalam nafasmu yang kuciumi dengan cinta, kurasakan kasih Tuhan yang damai menyusup ke celah paru-paruku. Sungguh, semua adalah anugerah Tuhan.

Janganlah kau benci hari itu kekasihku. Karena hari itu telah mengajari kita banyak hal besar. Tentang betapa sayangnya Tuhan kepada kita, betapa berharganya sang kekasih, betapa besarnya pengampunan yang diberikan kepada kita dan betapa setianya sahabat-sahabat kita.

Mereka, sahabat-sahabat tersayang adalah seberkas sinar. Dalam pangkuan mereka kita berteduh. Lemah memang, tapi mereka menyinarinya dengan kehangatan. Kisah, sakit dan luka ini kusembunyikan dalam genggaman para sahabatku. Dalam remuk hati mereka memeluk kita, dalam tangis mereka menghapus air mata kita, dan dalam harap mereka memanjatkan doa-doa untuk kebersamaan kita.

Maka untuk kesakitan yang tiada tara setahun silam. Kukecupkan ucapan terima kasih pada bibir kalian... Bening, Jo, Carry dan Perempuan Aneh...

Sabtu, Maret 06, 2010

Siapakah Kamu Hai Perempuan?


Siapakah kamu hai perempuan? Harum tubuhmu adalah pesona yang membunuh. Aku mengigil merindumu. Tawamu adalah matahari yang menyengat dan senyummu adalah salju yang lumer di padang gersang.

Siapakah kamu hai perempuan? Penjaga malam yang setia. Bulan kawalmu untuk membelai lembut keningku. Mengapa kau terjaga pada malam gelap sayang? Tidakkah matamu mengantuk? Untuk menjagakukah? Ah... Tak perlu... sebab cintamu telah memagariku.

Siapakah kamu hai perempuan? Pemiliki bola mata coklat yang lembut memandangku. Semalam matamu memberitahuku betapa berharganya aku bagimu. Tak perlu kau berucap, sebab seluruh isi hatimu telah kuketahui.

Siapakah kamu hai perempuan? Kakiku kau ciumi dengan cinta. Ada kopi dan roti di pagi hari. Ada tongkol goreng dan tumis buncis di siang hari. Ada telor balado dan ayam goreng di malam hari. Ada cinta dan gairah di tengah malam.

Siapakah kamu hai perempuan? Tergila-gila ku memujamu. Jatuh cinta pada lekuk tubuhmu, pada lentik jarimu, dan pada halus kulitmu. Rengkuhlah aku dalam sujud pemujaan. Belailah rambutku dengan sayang.

Siapakah kamu hai perempuan? Kamu... kekasihku...

Kamis, Februari 25, 2010

Lirik-lirikan....


Jangan kira matanya Mel nggak cling cling ngeliat cewek cakep yha! Huh! Meskipun tuh cewek feminim 100%. Sumpah feminim abis, kalau aku bohong biar dicium angelina Jolie dah. Kalau nggak percaya tanya Jo deh gimana feminimnya Mel. Mulai dari cara dia berpakaikan, jalan, bicara, makan, duduk sampai ketawa menunjukan bahwa dia cewek sejati.

Tapi emang dasar lesbi, sefemme-femmenya Mel tetep aja dia ceria banget ngeliat cewek or femme yang cakep. Aku yang emang katahuan andro ganjen aja kadang nggak peka sama kehadiran cewek cakep disekitarku. Tapi dalam hal ini radarnya Mel aktif banget, di pasar, di mall, di terminal, di jalan, di gereja, di perempatan, di mana aja, dia bisa nemuin cewek-cewek cakep. Mantap kan???

Seperti hari itu, saat jalan-jalan ke mall, Mel bilang,
"Say ada cewek cakep tuh di belakang."
Aku langsung nengok, "Mana???"
Mel cemberut, "Huh! Denger kata cantik aja langsung nafsu deh. Dasar ganjen!!!"
"Loh bukannya kamu duluan yang bilangin aku tentang cewek cantik itu. Jangan-jangan dari tadi mata kamu emang ngelirik-lirik yha???"

Mel cuma cengengesan. Dan tahu apa yang terjadi kala itu? Akhirnya aku dan Mel berdua-duaan kompak ngelirikin perempuan yang kami panggil dengan sebutan cewek cantik tadi. Abis ngelirik cewek cakep itu, terjadilah percakapan dengan wajah mupeng,
"Cakep ya Mel"
"Iyaaaa cakep banget yha say"

Dan seperti tadi pagi saat berangkat kerja, Mel yang tadinya anteng dibonceng jadi grasa-grusu dan teriak-teriak,
"Ada cewek cakep tuh say???"
"Mana???"
"Itu loh yang pake helm merah. Cakep!!!"
So tahu apa yang terjadi? Alhasil aku jadi ngebut naik motor, ngebalap beberapa motor yang merintangi hanya untuk ngeliat wajah cewek cakep itu. Setelah melihat wajah cantiknya, kami berdua langsung cengar-cengir.
"Hehehehe, cakeeeepnya..."
"Cakep, cakep, cakep...."

Jadi siapa yang dilirik Mel? Kayaknya mulai dari femme, andro sampai butch. Huh! Sampe sekarang aku masih suka cemberut kalau inget dia yang semangat banget saat liat andro ganteng di sebuah mall beberapa waktu lalu. Emang seh tuh andro cakep banget, mirip bintang film korea. Cakeeeeeeeep banget! Jadi pengen ketemu lagi, loh kok aku malah???

So... Bagaimana dengan om De Ni? Hm... Kayaknya aku cuma semangat ngeliat femme or cewek cakep deh. Oleh karena itu, nggak jarang Mel suka muter kepalaku kalau aku ngeliatin cewek cakep.

Mel suka cewek cakep, aku juga. Mel punya kebiasaan lirik cewek cakep, aku juga. Tapi pernahkah kami ribut karena masalah ini? Nggaklah!!! Semua baik-baik kok. Kegiatan lirik melirik hanya sebatas pada menyegarkan mata yang udah layu akibat kena polusi udara. Hanya sampai disitu.

Apakah ada keinginan yang lebih dari sekedar melirik??? Nggaklah, soalnya menurutku dari semua cewek cantik yang aku lirik, nggak ada yang lebih cantik dari Mel. Dan menurut Mel, dari semua cewek cantik, andro keren dan butch ganteng yang dia lirik, nggak ada yang punya hidung seantik hidungku. Yaeyalah say!!! Kalau semua cewek-cewek itu punya hidung jambu kayak aku pasti kamu nggak bakal lirik kan??? Nggak keren banget deh!!!

Jadi kenapa Mel bisa jatuh cinta padaku dengan segala kekurangannya??? Baiklah aku ceritakan, eh tapi nanti aja deh. Tunggu tanggal mainnya yha.... Don't Miss It!!!

Kamis, Januari 21, 2010

Sahabatku Tersayang...


Sahabatku tersayang. Sahabat straight-ku yang telah mendampingiku melewati masa-masa SMA yang ceria. Tahukah kamu aku penuh haru saat melihatmu berjalan berdampingan dengan suamimu menuju altar gereja. Kamu cantik sekali dengan balutan gaun putih menawan. Hatiku bergetar... Hatiku dan hati Mel saat itu berlimpah bahagia.

Masih kuingat dulu, betapa sayangnya mamamu kepadaku sehingga dia melimpahi tugas mengasuhmu. Aku menyuapimu kalau kamu malas makan, mendampingimu belajar, memarahimu kalau kamu salah langkah, mengantarmu kemana pun kamu pergi, hingga mendampingimu bulan-bulan pertama saat kau masuk kuliah. Ah... Kala itu aku seperti mamimu. Meski kita seumuran, sekelas, satu tempat duduk. Tapi aku ditakdirkan menjadi pemimpinmu.

Hari ini kita kembali bertemu di dunia maya. Berbincang soal malam pertama, bulan madu dan penikahan. Ah... Kau pasti lega sekarang, karena lelaki itu telah mendampingimu. Lelaki yang kuanggap mampu menjadi imam bagimu. Lelaki yang bertanggung jawab dan berbudi baik. Lelaki yag selalu renyah dalam tawa.

Sahabatku, entah bagaimana kata-kata itu terangkai, hingga tiba-tiba aku dan kamu telah sampai pada pembicaraan yang membuat hatiku risau. Kukatakan kepadamu...

"Kalau gue nikah itu mujizat."
"Kenapa Den?"
"Gue udah nggak mikir ke situ..."
"Nggak perlu nikah Den, kalau lo nggak sanggup. Yang penting lo bahagia. Nggak nikah juga nggak apa2."
"Hm..."
"Gue akan tetap disamping lo, apapun pilihan lo. Seburuk apapun penilaian orang lain."

Sahabat tersayang, mengertikah kau tentang perasaanku saat ini? Pahamkah mengapa sampai saat ini aku tak berniat menikahi lelaki mana pun? Apakah kau maknai dengan baik tiap genggaman tanganku dan Mel? Dia perempuan yang selalu kau tanya kabarnya, dia perempuan yang selalu kau undangan dalam berbagai acara yang kau adakan. Dia adalah perempuanku...

Sahabatku tersayang... Hari ini aku haru... semoga suatu saat nanti kamu akan menjadi sahabat straight pertamaku yang tahu bahwa aku adalah lesbian...

Kesejatian persahabatan adalah ketika tangannya terbuka saat tangan seluruh dunia tertutup..

Rabu, Januari 06, 2010

Ngambek...


Hari ini telah aku bawakan sebatang coklat untukmu, tapi tak jadi kuberi. Aku memang tukang ngambek. Siang itu aku menangis, mungkin sama sepertimu yang ikut menangis setelah jejak motorku meninggalkanmu. Sejinjing nasi kotak yang kau bawakan mengayun-ayun di motorku.

Mungkin saat itu kita saling membenci...

Berkali-kali kamu SMS aku, begitu juga aku. Setiap selesai membaca SMS-mu, aku langsung nangis lagi. Aku memang sensi, cengeng dan tukang ngambek.

Luluhkah hatiku??? Ya... aku luluh... Buktinya, kusantap juga nasi kotak yang kau berikan tadi. Bukan karena aku lapar. Ah malu rasanya mengakui aku luluh karena lapar. Sayang, aku luluh bukan karena aku lapar, tapi karena aku luluh maka aku lapar.

Ada sayur bayam di sana, rendang daging, bakwan udang, bakwan jagung dan buah dukuh. Em... enaknya... Sebenarnya, seribu ucapan terima kasih ingin kuungkapkan. Sudah kugenggam HP hendak mengirimkanmu SMS, tapi aku gengsi. Ya, aku memang tukang ngambek.

Utungnya kamu yang mengalah dan mengirim sms duluan, "Say... Kalau kamu makan nasi kotak yang aku kasih, jangan makan donatnya yha..."

Seketika aku tertawa, gantungan kunci berbentuk donat begitu manis rebah di samping nasi kotak pemberianmu. Ah kau ingat saja... Di Mall beberapa bulan lalu, aku merengek minta dibelikan gantungan kunci berbentuk donat, roti dan biskuit. Kenapa??? Karena aku suka makan. Semua gantungan itu akan kujadikan sumber fantasi jika aku lapar. Kubalas SMS-mu "Hahahahahaha, bisa aja kamu. Thanks yha..."

Mungkin saat itu kita saling mencinta...


Hari ini aku telah mendapat gantungan kunci berbentuk donat. Aku senang... Tapi berarti kamu masih hutang gantungan berbentuk roti dan biskuit. Awas kalau tidak dibelikan!!! Aku kan tukang ngambek!!!

Ribut dan Mesra adalah pelangi dalam sebuah hubungan...

Selasa, Januari 05, 2010

Kekasih...


Kekasih, satu tahun lagi kita lewati. Tahun 2009 yang berat, yang membuat harga diri kita terinjak-inajk, tahun yang telah merampas hak kita untuk membela diri, tahun di mana aku disebut sebagai manusia gagal, tahun yang membuat seluruh usaha yang telah aku bangun bertahun-tahun hancur dalam sekejap. Menyesalkah aku memilih jalan ini? Menyesalkah aku menjadi kekasihmu? Menyesalkah aku jatuh cinta kepadamu?

Ah... bolehkah aku tidak menjawabnya? Karena bukankah keberadaanku disampingmu saat ini telah membuktikan bahwa aku tidak pernah menyesal sedikit pun memilih jalan ini? Sebab telah kupahami dengan penuh apa arti cinta kita.

Jadi, aku mohon padamu kekasihku tercinta. Janganlah berikan patokan waktu pada cintaku yang tak pernah lekang oleh jaman. Janganlah berikan batas pada cintaku yang tak bertepi. Janganlah berikan akhir pada cintaku yang abadi. Sebab mencintaimu adalah kebahagiaan yang tak ternilai.

Untuk cinta yang tak lekang, untuk sayang yang tak bertepi, untuk asmara yang abadi, maka aku lemparkan harga diri, aku ludahi keangkuhan, aku injak-injak kesombongan untuk memohon kepadamu, "Jangan tinggalkan aku!"

Kamis, Desember 10, 2009

Tentang Ana


Ana namanya, sepupuku yang telah tinggal bersama keluarga kami sejak aku berusia 2 tahun. Perempuan itu sangat baik, penurut dan penyayang, meskipun agak kurang dalam intelektual. Bundaku pernah menyekolahkannya, namun dia menyerah di kelas 6 SD. Walau bisa membaca dan menulis dengan baik, tapi untuk berpikir abstrak, mengambil keputusan logis, sintesis dan analisis layaknya orang seusianya, ia tidak mampu.

Masa kecilku kuhabiskan bersamanya. Meski usianya terpaut 9 tahun dariku, tapi aku membalap tahap perekembangannya. Dulu, kami sering main lompat tali, petak-umpet, galaksin, masak-masakan, membentuk alat-alat rumah tangga dari tanah liat, meniup terompet pada malam tahun baru, memancing ikan di comberan, memanjat pohon cerry, dan bersepedah keliling komplek. Kami tumbuh bersama dalam asuhan dan kasih sayang bundaku.

Saat aku dan abang beranjak dewasa. Aku dan abang mulai sibuk dengan sekolah, berbagai les, kegiatan rohani dan organisasi, berlanjut dengan kuliah yang membuat aku hanya bisa kembali kerumah tiap akhir pekan, dan kemudian terjun ke dunia kerja yang tak kalah menyita waktu. Ana merasa kesepian pada masa-masa itu. Dan pada masa yang panjang itulah, bundaku menjadi satu-satunya teman dalam hidupnya. Ia menjadi begitu karib dengan bunda. Bersama bunda dia menghabiskan waktunya untuk belanja ke pasar, memasak, nonton TV, berdoa, bergereja, bahkan pergi ke taman rekreasi. Ke mana pun bunda pergi, dia selalu ada di sana dan apa pun yang bunda lakukan, ia akan lakukan juga.

Saat bunda divonis kanker payudara stadium 3b. Simpati orang semua tertuju kepada ayah, kakak, abang dan aku. Hanya kami berempat yang mendapat jabat hangat, pelukan, nasehat, dan kekutan dari orang-orang di sekeliling kami. Saat itu kami alpa pada seseorang, seseorang yang sebenarnya adalah orang yang paling terluka, orang yang paling takut kehilangan bunda, orang yang menjadikan bunda sebagai orang terpenting dalam hidupnya, dia adalah Ana...

Menjelang hari kematiannya, bunda tak berhenti memanggil nama Ana sebagai tanda betapa berat ia meninggalkan Ana. Mungkin dalam hatinya, bundaku selalu bertanya, apa jadinya Ana tanpanya? Siapa yang akan memperhatikannya? Siapa yang akan menerima segala kekurangannya?

Ah... kami benar-benar alpa. Saat bunda meninggal, kami menangis sejadi-jadinya, menganggap diri kami adalah manusia yang paling menderita. Semua orang menghampiri kami sekedar memberi kekuatan, tapi tak ada satu pun orang yang menghampiri Ana, perempuan yang memilih menangis sendiri di sudut dapur.

Satu bulan setelah kematian bunda, Ana pamit dan memilih tinggal bersama kakaknya. Sungguh berat aku untuk melepasnya, dia sudah begitu melekat di hatiku, 21 tahun hidup bersama bukanlah suatu masa yang singkat untuk mengikat kasih yang erat. Tapi ada banyak alasan yang memaksa aku melepasnya. Salah satunya adalah karena kesibukan kami bekerja. Sepanjang hari Ana hanya sendirian di rumah, ia kesepian. Berbeda dengan rumah kakaknya yang begitu ramai dan banyak anak kecil.

Kulepas kakak perempuanku itu dengan pecah tangis. Tiap waktu aku menjenguknya, jarang sekali aku bisa berjumpa dengannya. Entah karena dia sudah lelap tidur, atau karena dia sedang pergi ke rumah saudaranya yang lain, atau karena dia sedang bergereja. Jadi, hanya dari kata oranglah, aku tahu bahwa Ana baik-baik saja.

Kemarin aku mendapat kabar bahwa Ana terkena TBC dan gizi buruk. Hatiku sangat sakit mendengarnya. Bagaimana mungkin ia terkena gizi buruk? secara kakaknya adalah orang yang sangat menyayanginya dan hidup berkecukupan. Belum lagi ada donasi yang diberikan oleh keluarga kami.

Barusan aku menjumpainya. Memang benar tubuhnya begitu kurus. Ya, hanya tulang yang berbalut kulit. Beratnya yang dulu 46kg kini menjadi 25kg. Aku tertegun, saat mengetahui penyebab penyakitnya. Penyebabnya adalah karena bundaku. Ia sangat menyayangi bunda, sehingga ia mengalami pukulan yang sangat berat saat ibuku meninggal. Ia sudah tak memiliki keinginan untuk hidup. Ia tidak mau menyentuh makanan kalau tidak dipaksa dan diomeli.

Astaga! Betapa nistanya kami, orang-orang yang menyebut diri sebagai anak-anak dan suami dari bundaku. Orang yang menyebut diri sebagai orang-orang yang paling menderita atas kematian bunda. Hari ini aku sadar bahwa ada seseorang yang lebih nyeri merasakan penderitaan atas kematian bunda. Ya, dia... Dia yang tak lagi memiliki semangat hidup, dia yang ingin mati bersama dengan kematian bundaku. Hidup yang dihidupinya hanya karena paksaan orang yang memaksanya untuk hidup.

Ah... aku menangis Bunda...
Menangis saat melihatnya...
Juga saat aku menulis blog ini...

Hari ini hatiku terenyuh. Sakit sekali rasanya Bunda...
Betapa berartinya dirimu bagi kami.
Begitu melekatnya kasihmu dalam hati kami.
Begitu meradangnya luka kehilanganmu.

Tepatkah Tuhan memanggilmu hari itu???
Ataukah Dia salah mengambil kebijakan?
Mestinya Tuhan mengijinkanmu hidup bertahun-tahun lagi, untuk kami...


Tapi... Ah, masa Tuhan salah???

Selasa, Desember 01, 2009

Hiak, Huak, Huek


Hidupku jadi penuh dengan kesibukan saat opa antik ngotot bukunya bisa launching di Desember, alasan utamanya seh supaya selamatannya bareng sama perayaan Natal, jadi hemat. Huh! Imbasnya adalah waktuku jadi benar-benar terkuras. Sepanjang minggu aku tidur hingga larut malam. Lelah, letih, lesu, dan lunglai, efeknya aku jadi malas mengerjakan apapun.

Seperti hari itu saat Mel membangunkan aku di Minggu pagi,
"Honey, bangun! Ayo pergi Sekolah Minggu!"
"Aku nggak mau cekola minggu, aku antuk, mau bobo lagi..."
"Aduh... Ayo bangun dunk, kamu kan bukan anak sekolah minggu Hon, kamu tuh guru sekolah minggu!!!"

Mel menarik tubuhku hingga aku terduduk di kasur. Aku langsung memeluk pinggang Mel yang masih berdiri tepat di depanku. "Aku ngantuk...!!"
"Udah mandi sana, udah hampir telat loh!!!"

Mel melepaskan tanganku dari pinggangnya, perempuan itu berbalik dan mengambil sebuah handuk putih. Tubuhku terbaring lagi, tidur lagi...

"HONEEEEEEEYYYY!!!" Mel gemas, kali ini dia memukul pantatku dengan handuk. Aku terjaga lagi, duduk lagi di kasur, dan memeluk pinggang Mel lagi. Kali ini kekasihku tegas. Ia menarik tanganku dan mendorong aku hingga masuk ke kamar mandi.

10, 11, 12, 13 dan 15 menit berlalu, tapi Mel tidak juga mendengar suara riak air dari kamar mandi, hingga akhirnya dia menerobos ke dalam kamar mandi, dan menjadi geram lagi saat melihatku hanya jongkok dan terpaku di sudut kamar mandi.

"Ya, ampuuuuuuuunnnn, aku kira kamu dah selesai mandi. Ampun deh Hon, udah 15 menit tapi baju aja belum kamu buka?????"
"Dingin..."

Kali ini habis sudah kesabarannya, Mel langsung mengguyur badanku dengan seember air. Hm.. kalau sudah basah begini, mau tidak mau aku harus mandi.

Meski pagi itu aku berangkat dengan wajah cemberut tapi akhirnya aku sampai juga di gereja. Anak-anak sudah berkumpul bergerombol, mereka berlari kesana kemari, gelantungan, berguling, dan bermain tepuk ampar-ampar pisang.

Aku duduk dipojokan dengan mata sipitku yang makin menutup. Tak sadar aku sudah lelap, beberapa anak menertawai. Hingga akhirnya suara musik tanda sekolah minggu dimulai berhasil membangunkanku.

Kami bernyanyi gembira, melompat dan menari dalam sukacita, hingga akhirnya kekacauan terjadi karena sebuah aroma. Aroma? ya, aroma yang muncul dari seorang anak bernama Winda yang tanpa sengaja buang air besar di lantai gereja. Suasana jadi heboh, hampir semua anak-anak tertawa mengejek. Winda jadi malu, ia langsung lari ke kamar mandi, tapi kotorannya malah jadi berecetan kemana-mana. Semua guru memilih untuk mengamankan anak-anak, jadi mau tidak mau urusan Winda diberikan kepadaku. Dasar!!!

Aku menyusul Winda ke kamar mandi, menyebokinya dan mencuci celananya. Jijikkah aku??? Ya, eyalaaaaaaaah. Tapi mau gimana lagi kalau semua orang sudah menyerah? Baiklah, aku sudah selesai dengan winda dan celananya, aku juga sudah menyuruh Winda pulang dan mengganti baju secara rumahnya hanya berjarak 15 meter dari gereja. Tapi... tenyata tugasku belum selesai, kotoran yang berecetan dilantai telah menunggu. Aku mengambil kain pel, mencelupkannya ke dalam air, memeras dan kemudian menyeka kotoran itu sambil menahan nafas.

Semua kotoran itu telah terseka, baru saja aku mengangkat ember karena bermaksud hendak menggantinya dengan air bersih, tiba-tiba Mel telepon.
"Hallo, lagi ngapain Hon?"
"Tuh kan bener firasatku kenapa aku malas Sekolah Minggu hari ini beib. Sekarang aku lagi megang ember yang isinya kotoran."
"Heh? maksudnya?"
"Si Winda cepirit, mencret dia." Aku menaruh ember, dan duduk di sudut gereja
"Hehehehehe, wah beruntung kamu berarti. Emang yang lain pada kemana?"
"ASEM!!! Pada kabur tuh guru-guru."
"Hahahahaha, udah tenang... Hon, kamu buka tas kamu deh, aku ada sesuatu buat kamu!"
"Heh? Apaan tuh?"
"Udah buka aja." Aku mengambil tasku dan segera menemukan sebuah kotak makan berwarna biru."Udah dapat Hon?"
"Udah, apaan neh???"

Aku segera membuka kotak itu, wow ternyata isinya adalah roti bakar yang dibuat mirip sekali dengan wajahku. Di atas roti bakar yang bundar, Mel melukis wajahku dengan menggunakan coklat pasta. Dan di bawahnya ia menulis I LOVE HONEY!!! "Ya ampun lucu banget Beib! Aku suka, mukanya mirip aku. Thanks yha." Bergegas aku mengambil roti itu dan memakannya.

"Ntar dimakan yha Hon!"
"Udah kok, neh aku lagi makan. Enaaaaaaaaaaakkkk buaaaaaaaanget!!!"
"Loh? kok dimakan?"
"Loh? Emang nggak boleh?"
"Bukan, kok dimakan sekarang?"
"Aku dah nggak sabar, abis enak seh!"
"Bukan, maksudku, kamu udah selesai ngepelnya??? udah cuci tangan???"
"ASTAGA!!! HIAK, HUAK, HUEK..."
"Huahahahaha, dasar jorok. Pantesan aja tadi kamu bilang rasanya enaaaaaaaaaaaaaaaaakkk buaaaaaaaaanget!!!"
"HIAK, HUAK, HUEK!!!"
"Hallo, Hon, masih hidup kan???"
"HIAK, HUAK, HUEK!!!"