Kamis, Februari 25, 2010

Lirik-lirikan....


Jangan kira matanya Mel nggak cling cling ngeliat cewek cakep yha! Huh! Meskipun tuh cewek feminim 100%. Sumpah feminim abis, kalau aku bohong biar dicium angelina Jolie dah. Kalau nggak percaya tanya Jo deh gimana feminimnya Mel. Mulai dari cara dia berpakaikan, jalan, bicara, makan, duduk sampai ketawa menunjukan bahwa dia cewek sejati.

Tapi emang dasar lesbi, sefemme-femmenya Mel tetep aja dia ceria banget ngeliat cewek or femme yang cakep. Aku yang emang katahuan andro ganjen aja kadang nggak peka sama kehadiran cewek cakep disekitarku. Tapi dalam hal ini radarnya Mel aktif banget, di pasar, di mall, di terminal, di jalan, di gereja, di perempatan, di mana aja, dia bisa nemuin cewek-cewek cakep. Mantap kan???

Seperti hari itu, saat jalan-jalan ke mall, Mel bilang,
"Say ada cewek cakep tuh di belakang."
Aku langsung nengok, "Mana???"
Mel cemberut, "Huh! Denger kata cantik aja langsung nafsu deh. Dasar ganjen!!!"
"Loh bukannya kamu duluan yang bilangin aku tentang cewek cantik itu. Jangan-jangan dari tadi mata kamu emang ngelirik-lirik yha???"

Mel cuma cengengesan. Dan tahu apa yang terjadi kala itu? Akhirnya aku dan Mel berdua-duaan kompak ngelirikin perempuan yang kami panggil dengan sebutan cewek cantik tadi. Abis ngelirik cewek cakep itu, terjadilah percakapan dengan wajah mupeng,
"Cakep ya Mel"
"Iyaaaa cakep banget yha say"

Dan seperti tadi pagi saat berangkat kerja, Mel yang tadinya anteng dibonceng jadi grasa-grusu dan teriak-teriak,
"Ada cewek cakep tuh say???"
"Mana???"
"Itu loh yang pake helm merah. Cakep!!!"
So tahu apa yang terjadi? Alhasil aku jadi ngebut naik motor, ngebalap beberapa motor yang merintangi hanya untuk ngeliat wajah cewek cakep itu. Setelah melihat wajah cantiknya, kami berdua langsung cengar-cengir.
"Hehehehe, cakeeeepnya..."
"Cakep, cakep, cakep...."

Jadi siapa yang dilirik Mel? Kayaknya mulai dari femme, andro sampai butch. Huh! Sampe sekarang aku masih suka cemberut kalau inget dia yang semangat banget saat liat andro ganteng di sebuah mall beberapa waktu lalu. Emang seh tuh andro cakep banget, mirip bintang film korea. Cakeeeeeeeep banget! Jadi pengen ketemu lagi, loh kok aku malah???

So... Bagaimana dengan om De Ni? Hm... Kayaknya aku cuma semangat ngeliat femme or cewek cakep deh. Oleh karena itu, nggak jarang Mel suka muter kepalaku kalau aku ngeliatin cewek cakep.

Mel suka cewek cakep, aku juga. Mel punya kebiasaan lirik cewek cakep, aku juga. Tapi pernahkah kami ribut karena masalah ini? Nggaklah!!! Semua baik-baik kok. Kegiatan lirik melirik hanya sebatas pada menyegarkan mata yang udah layu akibat kena polusi udara. Hanya sampai disitu.

Apakah ada keinginan yang lebih dari sekedar melirik??? Nggaklah, soalnya menurutku dari semua cewek cantik yang aku lirik, nggak ada yang lebih cantik dari Mel. Dan menurut Mel, dari semua cewek cantik, andro keren dan butch ganteng yang dia lirik, nggak ada yang punya hidung seantik hidungku. Yaeyalah say!!! Kalau semua cewek-cewek itu punya hidung jambu kayak aku pasti kamu nggak bakal lirik kan??? Nggak keren banget deh!!!

Jadi kenapa Mel bisa jatuh cinta padaku dengan segala kekurangannya??? Baiklah aku ceritakan, eh tapi nanti aja deh. Tunggu tanggal mainnya yha.... Don't Miss It!!!

Kamis, Januari 21, 2010

Sahabatku Tersayang...


Sahabatku tersayang. Sahabat straight-ku yang telah mendampingiku melewati masa-masa SMA yang ceria. Tahukah kamu aku penuh haru saat melihatmu berjalan berdampingan dengan suamimu menuju altar gereja. Kamu cantik sekali dengan balutan gaun putih menawan. Hatiku bergetar... Hatiku dan hati Mel saat itu berlimpah bahagia.

Masih kuingat dulu, betapa sayangnya mamamu kepadaku sehingga dia melimpahi tugas mengasuhmu. Aku menyuapimu kalau kamu malas makan, mendampingimu belajar, memarahimu kalau kamu salah langkah, mengantarmu kemana pun kamu pergi, hingga mendampingimu bulan-bulan pertama saat kau masuk kuliah. Ah... Kala itu aku seperti mamimu. Meski kita seumuran, sekelas, satu tempat duduk. Tapi aku ditakdirkan menjadi pemimpinmu.

Hari ini kita kembali bertemu di dunia maya. Berbincang soal malam pertama, bulan madu dan penikahan. Ah... Kau pasti lega sekarang, karena lelaki itu telah mendampingimu. Lelaki yang kuanggap mampu menjadi imam bagimu. Lelaki yang bertanggung jawab dan berbudi baik. Lelaki yag selalu renyah dalam tawa.

Sahabatku, entah bagaimana kata-kata itu terangkai, hingga tiba-tiba aku dan kamu telah sampai pada pembicaraan yang membuat hatiku risau. Kukatakan kepadamu...

"Kalau gue nikah itu mujizat."
"Kenapa Den?"
"Gue udah nggak mikir ke situ..."
"Nggak perlu nikah Den, kalau lo nggak sanggup. Yang penting lo bahagia. Nggak nikah juga nggak apa2."
"Hm..."
"Gue akan tetap disamping lo, apapun pilihan lo. Seburuk apapun penilaian orang lain."

Sahabat tersayang, mengertikah kau tentang perasaanku saat ini? Pahamkah mengapa sampai saat ini aku tak berniat menikahi lelaki mana pun? Apakah kau maknai dengan baik tiap genggaman tanganku dan Mel? Dia perempuan yang selalu kau tanya kabarnya, dia perempuan yang selalu kau undangan dalam berbagai acara yang kau adakan. Dia adalah perempuanku...

Sahabatku tersayang... Hari ini aku haru... semoga suatu saat nanti kamu akan menjadi sahabat straight pertamaku yang tahu bahwa aku adalah lesbian...

Kesejatian persahabatan adalah ketika tangannya terbuka saat tangan seluruh dunia tertutup..

Rabu, Januari 06, 2010

Ngambek...


Hari ini telah aku bawakan sebatang coklat untukmu, tapi tak jadi kuberi. Aku memang tukang ngambek. Siang itu aku menangis, mungkin sama sepertimu yang ikut menangis setelah jejak motorku meninggalkanmu. Sejinjing nasi kotak yang kau bawakan mengayun-ayun di motorku.

Mungkin saat itu kita saling membenci...

Berkali-kali kamu SMS aku, begitu juga aku. Setiap selesai membaca SMS-mu, aku langsung nangis lagi. Aku memang sensi, cengeng dan tukang ngambek.

Luluhkah hatiku??? Ya... aku luluh... Buktinya, kusantap juga nasi kotak yang kau berikan tadi. Bukan karena aku lapar. Ah malu rasanya mengakui aku luluh karena lapar. Sayang, aku luluh bukan karena aku lapar, tapi karena aku luluh maka aku lapar.

Ada sayur bayam di sana, rendang daging, bakwan udang, bakwan jagung dan buah dukuh. Em... enaknya... Sebenarnya, seribu ucapan terima kasih ingin kuungkapkan. Sudah kugenggam HP hendak mengirimkanmu SMS, tapi aku gengsi. Ya, aku memang tukang ngambek.

Utungnya kamu yang mengalah dan mengirim sms duluan, "Say... Kalau kamu makan nasi kotak yang aku kasih, jangan makan donatnya yha..."

Seketika aku tertawa, gantungan kunci berbentuk donat begitu manis rebah di samping nasi kotak pemberianmu. Ah kau ingat saja... Di Mall beberapa bulan lalu, aku merengek minta dibelikan gantungan kunci berbentuk donat, roti dan biskuit. Kenapa??? Karena aku suka makan. Semua gantungan itu akan kujadikan sumber fantasi jika aku lapar. Kubalas SMS-mu "Hahahahahaha, bisa aja kamu. Thanks yha..."

Mungkin saat itu kita saling mencinta...


Hari ini aku telah mendapat gantungan kunci berbentuk donat. Aku senang... Tapi berarti kamu masih hutang gantungan berbentuk roti dan biskuit. Awas kalau tidak dibelikan!!! Aku kan tukang ngambek!!!

Ribut dan Mesra adalah pelangi dalam sebuah hubungan...

Selasa, Januari 05, 2010

Kekasih...


Kekasih, satu tahun lagi kita lewati. Tahun 2009 yang berat, yang membuat harga diri kita terinjak-inajk, tahun yang telah merampas hak kita untuk membela diri, tahun di mana aku disebut sebagai manusia gagal, tahun yang membuat seluruh usaha yang telah aku bangun bertahun-tahun hancur dalam sekejap. Menyesalkah aku memilih jalan ini? Menyesalkah aku menjadi kekasihmu? Menyesalkah aku jatuh cinta kepadamu?

Ah... bolehkah aku tidak menjawabnya? Karena bukankah keberadaanku disampingmu saat ini telah membuktikan bahwa aku tidak pernah menyesal sedikit pun memilih jalan ini? Sebab telah kupahami dengan penuh apa arti cinta kita.

Jadi, aku mohon padamu kekasihku tercinta. Janganlah berikan patokan waktu pada cintaku yang tak pernah lekang oleh jaman. Janganlah berikan batas pada cintaku yang tak bertepi. Janganlah berikan akhir pada cintaku yang abadi. Sebab mencintaimu adalah kebahagiaan yang tak ternilai.

Untuk cinta yang tak lekang, untuk sayang yang tak bertepi, untuk asmara yang abadi, maka aku lemparkan harga diri, aku ludahi keangkuhan, aku injak-injak kesombongan untuk memohon kepadamu, "Jangan tinggalkan aku!"

Kamis, Desember 10, 2009

Tentang Ana


Ana namanya, sepupuku yang telah tinggal bersama keluarga kami sejak aku berusia 2 tahun. Perempuan itu sangat baik, penurut dan penyayang, meskipun agak kurang dalam intelektual. Bundaku pernah menyekolahkannya, namun dia menyerah di kelas 6 SD. Walau bisa membaca dan menulis dengan baik, tapi untuk berpikir abstrak, mengambil keputusan logis, sintesis dan analisis layaknya orang seusianya, ia tidak mampu.

Masa kecilku kuhabiskan bersamanya. Meski usianya terpaut 9 tahun dariku, tapi aku membalap tahap perekembangannya. Dulu, kami sering main lompat tali, petak-umpet, galaksin, masak-masakan, membentuk alat-alat rumah tangga dari tanah liat, meniup terompet pada malam tahun baru, memancing ikan di comberan, memanjat pohon cerry, dan bersepedah keliling komplek. Kami tumbuh bersama dalam asuhan dan kasih sayang bundaku.

Saat aku dan abang beranjak dewasa. Aku dan abang mulai sibuk dengan sekolah, berbagai les, kegiatan rohani dan organisasi, berlanjut dengan kuliah yang membuat aku hanya bisa kembali kerumah tiap akhir pekan, dan kemudian terjun ke dunia kerja yang tak kalah menyita waktu. Ana merasa kesepian pada masa-masa itu. Dan pada masa yang panjang itulah, bundaku menjadi satu-satunya teman dalam hidupnya. Ia menjadi begitu karib dengan bunda. Bersama bunda dia menghabiskan waktunya untuk belanja ke pasar, memasak, nonton TV, berdoa, bergereja, bahkan pergi ke taman rekreasi. Ke mana pun bunda pergi, dia selalu ada di sana dan apa pun yang bunda lakukan, ia akan lakukan juga.

Saat bunda divonis kanker payudara stadium 3b. Simpati orang semua tertuju kepada ayah, kakak, abang dan aku. Hanya kami berempat yang mendapat jabat hangat, pelukan, nasehat, dan kekutan dari orang-orang di sekeliling kami. Saat itu kami alpa pada seseorang, seseorang yang sebenarnya adalah orang yang paling terluka, orang yang paling takut kehilangan bunda, orang yang menjadikan bunda sebagai orang terpenting dalam hidupnya, dia adalah Ana...

Menjelang hari kematiannya, bunda tak berhenti memanggil nama Ana sebagai tanda betapa berat ia meninggalkan Ana. Mungkin dalam hatinya, bundaku selalu bertanya, apa jadinya Ana tanpanya? Siapa yang akan memperhatikannya? Siapa yang akan menerima segala kekurangannya?

Ah... kami benar-benar alpa. Saat bunda meninggal, kami menangis sejadi-jadinya, menganggap diri kami adalah manusia yang paling menderita. Semua orang menghampiri kami sekedar memberi kekuatan, tapi tak ada satu pun orang yang menghampiri Ana, perempuan yang memilih menangis sendiri di sudut dapur.

Satu bulan setelah kematian bunda, Ana pamit dan memilih tinggal bersama kakaknya. Sungguh berat aku untuk melepasnya, dia sudah begitu melekat di hatiku, 21 tahun hidup bersama bukanlah suatu masa yang singkat untuk mengikat kasih yang erat. Tapi ada banyak alasan yang memaksa aku melepasnya. Salah satunya adalah karena kesibukan kami bekerja. Sepanjang hari Ana hanya sendirian di rumah, ia kesepian. Berbeda dengan rumah kakaknya yang begitu ramai dan banyak anak kecil.

Kulepas kakak perempuanku itu dengan pecah tangis. Tiap waktu aku menjenguknya, jarang sekali aku bisa berjumpa dengannya. Entah karena dia sudah lelap tidur, atau karena dia sedang pergi ke rumah saudaranya yang lain, atau karena dia sedang bergereja. Jadi, hanya dari kata oranglah, aku tahu bahwa Ana baik-baik saja.

Kemarin aku mendapat kabar bahwa Ana terkena TBC dan gizi buruk. Hatiku sangat sakit mendengarnya. Bagaimana mungkin ia terkena gizi buruk? secara kakaknya adalah orang yang sangat menyayanginya dan hidup berkecukupan. Belum lagi ada donasi yang diberikan oleh keluarga kami.

Barusan aku menjumpainya. Memang benar tubuhnya begitu kurus. Ya, hanya tulang yang berbalut kulit. Beratnya yang dulu 46kg kini menjadi 25kg. Aku tertegun, saat mengetahui penyebab penyakitnya. Penyebabnya adalah karena bundaku. Ia sangat menyayangi bunda, sehingga ia mengalami pukulan yang sangat berat saat ibuku meninggal. Ia sudah tak memiliki keinginan untuk hidup. Ia tidak mau menyentuh makanan kalau tidak dipaksa dan diomeli.

Astaga! Betapa nistanya kami, orang-orang yang menyebut diri sebagai anak-anak dan suami dari bundaku. Orang yang menyebut diri sebagai orang-orang yang paling menderita atas kematian bunda. Hari ini aku sadar bahwa ada seseorang yang lebih nyeri merasakan penderitaan atas kematian bunda. Ya, dia... Dia yang tak lagi memiliki semangat hidup, dia yang ingin mati bersama dengan kematian bundaku. Hidup yang dihidupinya hanya karena paksaan orang yang memaksanya untuk hidup.

Ah... aku menangis Bunda...
Menangis saat melihatnya...
Juga saat aku menulis blog ini...

Hari ini hatiku terenyuh. Sakit sekali rasanya Bunda...
Betapa berartinya dirimu bagi kami.
Begitu melekatnya kasihmu dalam hati kami.
Begitu meradangnya luka kehilanganmu.

Tepatkah Tuhan memanggilmu hari itu???
Ataukah Dia salah mengambil kebijakan?
Mestinya Tuhan mengijinkanmu hidup bertahun-tahun lagi, untuk kami...


Tapi... Ah, masa Tuhan salah???

Selasa, Desember 01, 2009

Hiak, Huak, Huek


Hidupku jadi penuh dengan kesibukan saat opa antik ngotot bukunya bisa launching di Desember, alasan utamanya seh supaya selamatannya bareng sama perayaan Natal, jadi hemat. Huh! Imbasnya adalah waktuku jadi benar-benar terkuras. Sepanjang minggu aku tidur hingga larut malam. Lelah, letih, lesu, dan lunglai, efeknya aku jadi malas mengerjakan apapun.

Seperti hari itu saat Mel membangunkan aku di Minggu pagi,
"Honey, bangun! Ayo pergi Sekolah Minggu!"
"Aku nggak mau cekola minggu, aku antuk, mau bobo lagi..."
"Aduh... Ayo bangun dunk, kamu kan bukan anak sekolah minggu Hon, kamu tuh guru sekolah minggu!!!"

Mel menarik tubuhku hingga aku terduduk di kasur. Aku langsung memeluk pinggang Mel yang masih berdiri tepat di depanku. "Aku ngantuk...!!"
"Udah mandi sana, udah hampir telat loh!!!"

Mel melepaskan tanganku dari pinggangnya, perempuan itu berbalik dan mengambil sebuah handuk putih. Tubuhku terbaring lagi, tidur lagi...

"HONEEEEEEEYYYY!!!" Mel gemas, kali ini dia memukul pantatku dengan handuk. Aku terjaga lagi, duduk lagi di kasur, dan memeluk pinggang Mel lagi. Kali ini kekasihku tegas. Ia menarik tanganku dan mendorong aku hingga masuk ke kamar mandi.

10, 11, 12, 13 dan 15 menit berlalu, tapi Mel tidak juga mendengar suara riak air dari kamar mandi, hingga akhirnya dia menerobos ke dalam kamar mandi, dan menjadi geram lagi saat melihatku hanya jongkok dan terpaku di sudut kamar mandi.

"Ya, ampuuuuuuuunnnn, aku kira kamu dah selesai mandi. Ampun deh Hon, udah 15 menit tapi baju aja belum kamu buka?????"
"Dingin..."

Kali ini habis sudah kesabarannya, Mel langsung mengguyur badanku dengan seember air. Hm.. kalau sudah basah begini, mau tidak mau aku harus mandi.

Meski pagi itu aku berangkat dengan wajah cemberut tapi akhirnya aku sampai juga di gereja. Anak-anak sudah berkumpul bergerombol, mereka berlari kesana kemari, gelantungan, berguling, dan bermain tepuk ampar-ampar pisang.

Aku duduk dipojokan dengan mata sipitku yang makin menutup. Tak sadar aku sudah lelap, beberapa anak menertawai. Hingga akhirnya suara musik tanda sekolah minggu dimulai berhasil membangunkanku.

Kami bernyanyi gembira, melompat dan menari dalam sukacita, hingga akhirnya kekacauan terjadi karena sebuah aroma. Aroma? ya, aroma yang muncul dari seorang anak bernama Winda yang tanpa sengaja buang air besar di lantai gereja. Suasana jadi heboh, hampir semua anak-anak tertawa mengejek. Winda jadi malu, ia langsung lari ke kamar mandi, tapi kotorannya malah jadi berecetan kemana-mana. Semua guru memilih untuk mengamankan anak-anak, jadi mau tidak mau urusan Winda diberikan kepadaku. Dasar!!!

Aku menyusul Winda ke kamar mandi, menyebokinya dan mencuci celananya. Jijikkah aku??? Ya, eyalaaaaaaaah. Tapi mau gimana lagi kalau semua orang sudah menyerah? Baiklah, aku sudah selesai dengan winda dan celananya, aku juga sudah menyuruh Winda pulang dan mengganti baju secara rumahnya hanya berjarak 15 meter dari gereja. Tapi... tenyata tugasku belum selesai, kotoran yang berecetan dilantai telah menunggu. Aku mengambil kain pel, mencelupkannya ke dalam air, memeras dan kemudian menyeka kotoran itu sambil menahan nafas.

Semua kotoran itu telah terseka, baru saja aku mengangkat ember karena bermaksud hendak menggantinya dengan air bersih, tiba-tiba Mel telepon.
"Hallo, lagi ngapain Hon?"
"Tuh kan bener firasatku kenapa aku malas Sekolah Minggu hari ini beib. Sekarang aku lagi megang ember yang isinya kotoran."
"Heh? maksudnya?"
"Si Winda cepirit, mencret dia." Aku menaruh ember, dan duduk di sudut gereja
"Hehehehehe, wah beruntung kamu berarti. Emang yang lain pada kemana?"
"ASEM!!! Pada kabur tuh guru-guru."
"Hahahahaha, udah tenang... Hon, kamu buka tas kamu deh, aku ada sesuatu buat kamu!"
"Heh? Apaan tuh?"
"Udah buka aja." Aku mengambil tasku dan segera menemukan sebuah kotak makan berwarna biru."Udah dapat Hon?"
"Udah, apaan neh???"

Aku segera membuka kotak itu, wow ternyata isinya adalah roti bakar yang dibuat mirip sekali dengan wajahku. Di atas roti bakar yang bundar, Mel melukis wajahku dengan menggunakan coklat pasta. Dan di bawahnya ia menulis I LOVE HONEY!!! "Ya ampun lucu banget Beib! Aku suka, mukanya mirip aku. Thanks yha." Bergegas aku mengambil roti itu dan memakannya.

"Ntar dimakan yha Hon!"
"Udah kok, neh aku lagi makan. Enaaaaaaaaaaakkkk buaaaaaaaanget!!!"
"Loh? kok dimakan?"
"Loh? Emang nggak boleh?"
"Bukan, kok dimakan sekarang?"
"Aku dah nggak sabar, abis enak seh!"
"Bukan, maksudku, kamu udah selesai ngepelnya??? udah cuci tangan???"
"ASTAGA!!! HIAK, HUAK, HUEK..."
"Huahahahaha, dasar jorok. Pantesan aja tadi kamu bilang rasanya enaaaaaaaaaaaaaaaaakkk buaaaaaaaaanget!!!"
"HIAK, HUAK, HUEK!!!"
"Hallo, Hon, masih hidup kan???"
"HIAK, HUAK, HUEK!!!"

Jumat, November 20, 2009

Berikanlah Aku Penis


Berikanlah aku penis dan segala kelengkapannya, karena aku ingin membuahi sel telur dalam rahim Mel. Aku ingin rahimnya mengandung anak dari benihku, sebab aku ingin memiliki anak yang secantik maminya, namun memiliki mata sipit dan tulang pipiku.

Aku ingin tahu bagaimana rasanya menemani Mel selama ia mengandung anakku. Memberikannya susu, buah, sayur, daging, berbagai vitamin dan makanan yang bergizi demi pertumbuhan janinnya. Dalam perut maminya anakku akan mendapatkan belaian kasih sayang dan kesejukan musik klasik Mozzart. Dalam perut maminya, anakku bertumbuh sempurna.

Aku ingin menemani Mel membeli perlengkapan bayi. Dari mulai tempat tidur dengan kelambunya, batal dan gulingnya, perlak bayi, kain bedong, bak dan perelengkapan mandi, baju bayi, cat tembok warna-warni, kain gendong, botol susu, dot, kaos kaki, sarung tangan, topi dan perlengkapan makan.

Aku ingin mendampingi Mel saat ia gemetar menahan rasa sakit bersalin. Akan kupeluk tubuhnya erat, menyeka keringatnya dan menyemangatinya hingga seorang bayi mungil merobek vaginanya untuk tiba di bumi. Tangis anakku kencang sekencang lonjakkan kegembiraan hatiku. Kupeluk dan kuciumi Mel untuk mengucapkan terima kasih atas semua pengorbanannya. Anakku perempuan, dia cantik, mirip seperti maminya, kulitnya putih, rambutnya sedikit. Aku menghela nafas kelegaan ketika melihat hidung anakku yang mirip dengan hidung maminya. Fiuh! Akhirnya doa yang kupanjatkan siang dan malam agar hidung anakku tidak mirip dengan hidungku, dijawab oleh Tuhan. Tubuh anakku sesempurna tubuh maminya. Setelah dokter selesai membersihkannya, anakku diberikan kepada maminya untuk disusui. Agak perih memang, tapi Mel berusaha menahannya demi buah hati kami. Aku mencium anakku dalam, seakan tidak mau melepaskannya.

Aku ingin tahu bagaimana rasanya menggendong bayi mungil. Anakku menangis pagi, siang, sore dan malam. Entah karena dia ngompol, atau karena ingin menyusu pada maminya. Kami dibuat pusing oleh pekerjaan menyusui dan menganti popok. Pada malam hari, Mel harus bangun dua jam sekali untuk menyusui anakku. Aku siasati dengan memompa air susunya dan menaruhnya di botol. Ah, Mel bisa tidur lebih lama, sebab dua jam berikutnya, akulah yang akan bangun dan memberikan susu yang telah ditampung di botol kepada anakku. Repot memang, tapi aku dan Mel tidak akan pernah lelah, karena anakku adalah buah cinta kasih kami. Kebanggan orangtuanya.

Aku ingin kamarku beraroma minyak telon. Di atas tempat tidurku berserakan bedak, baby oil, cotton bud, tissu, kapas dan botol minyak kayu putih. Aku dan Mel sibuk belajar memandikan bayi. Mel menaruh anakku di dalam sebuah bak yang berisi air hangat, perempuan itu memegang tubuh anakku dan aku yang mengambil tugas menyabuninya, mulai dari badannya yang kemudian beralih ke kepalanya, ups! jangan guyur kepalanya! Cukup basahi dengan handuk, berikan sampoo dan bersihkan dengan hati-hati. Dalam hal memandikan bayi ini, Mel pernah marah besar kepadaku lantaran aku sudah menyiapkan sikat gigi mungil dan pasta gigi rasa jeruk padahal anakku belum bergigi.

Setelah anakku selesai mandi, Mel akan mengangkatnya, membalutnya dengan sebuah handuk besar dan menaruhnya di atas tempat tidur kami. Mel akan mengeringkan tubuh anakku, melumurinya dengan minyak telon, lalu menaburi tubuh anakku dengan bedak, kemudian Mel akan memakaikannya baju berwarna merah jambu. Ah, anakku telah wangi sekarang. Aku menggendong anakku dari tangan maminya. Kuajak dia berjalan ke persawahan untuk menghirup udara pagi. Matanya mendelik, wajahnya berseri. Anakku tahu betapa aku mencintainya.

Selesai jalan-jalan anakku akan menangis karena rindu pada dada maminya. Kemudian gelak tawa akan meledak di rumah kami saat aku dan anakku berbebutan menyusu pada maminya. Tapi aku tidak akan pernah menang melawan anakku, karena Mel akan segera mengusir dan mengetuk kepalaku dengan sendok sayur.

Setelah kenyang menyusu, anakku akan tidur lagi. Dalam lelap anakku, aku dan Mel akan mencuci popok, gurita, kain bedong dan beberapa baju mungil yang kami beli di mall kemarin, lalu menjemurnya di belakang rumah.

Sekarang semua sudah selesai, Mel telah menyiapkan semua keperluan kerjaku. Tapi aku tak mau juga beranjak. Aroma minyak telon, bayi mungil dan seorang mami yang cantik membuatku ingin berdiam diri di rumah. Namun mengingat kewajibanku terhadap Mel dan anak kami, maka dengan langkah berat aku berangkat ke kantor. Sebelumnya, kuciumi anakku yang masih lelap dengan sayang, maminya pun tak luput dari sentuhan bibirku. Kutinggalkan kedua orang yang kucintai dengan berat hati. Baru saja aku melangkah keluar rumah namun aku sudah kangen mereka lagi. Ya Tuhan, betapa sempurnanya hidup ini.

Ah, tapi ternyata aku adalah perempuan yang bervagina dan berbuah dada. Sungguh, aku ingin berpenis agar aku bisa membuahi sel telur dalam rahim Mel. Aku ingin rahimnya mengandung anak dari benihku sebab aku ingin memiliki anak yang secantik maminya, namun memiliki mata sipit dan tulang pipiku.

Berikanlah aku penis...

Kamis, November 12, 2009

Tari Hula-hula


Bagiamana mengatasi partner yang lagi ngambek? Ada banyak cara untuk membujuk partner. Bisa dengan pelukan, bunga, permohonan maaf atau ucapan sayang. Tapi berbeda dengan Mel. Kalau ngambek, perempuan gokil ini hanya mau ditaklukan dengan tarian. Setiap kali ngambek dia akan menyuruh aku menari ala Jacko dengan sentuhan-sentuhan khas di bagian itu loh... atau menari jaipong dengan goyangan dada yang aduhai atau menari hula-hula ala Hawaii dengan pakaian khasnya.

Kenapa mesti menari? Apakah karena De Ni jago menari? Jawabannya adalah justru karena aku tidak bisa menari sama sekali, sehingga dengan otomatis aku akan menghasilkan gerakan-gerakan tari yang kaku, aneh, ancur dan patut untuk diberikan timpukan. Nah ternyata tarian seperti inilah yang diharapkan oleh Mel, tarian yang bisa membangkitkan gelak tawanya. Tarian yang membuatnya terbahak-bahak. Mel terhibur bukan dari bagusnya tarian, namun justru dari amburadulnya tarian itu. Namun bagiku tarian itu adalah ngengat yang siap menggerogoti image dan gambar diriku yang keren, menarik, cool dan berwibawa. Tarian itu hanya akan membuat Om Deni yang macho menjadi seperti banci kaleng yang sedang kehilangan jepit rambut.

Seperti hari itu, saat Mel ngambek gara-gara aku nekat makan setoples kripik singkong, secara selama ini memang Mel mengharamkan aku untuk makan semua jenis gorengan lantaran penyakit radang tenggorokanku yang gampang kumat jika bersentuhan dengan gorengan. Waktu itu Mel marah berat dan meminta aku menari hula-hula. Ayolah sis! Jangan bayangkan aku menari dengan kemeja kerja dan baju tidur. Ini emang gokil, tapi nyata. Mel menyuruh aku menari dengan menggunakan atribut Hawaai yaitu bra, mahkota rumbai dan rok dalam. Kalau mencari bra seh gampang, secara aku sendiri kan punya banyak bra. Kalau mahkota biasanya aku buat dengan menggunakan hiasan pohon natal berbentuk rumbai yang dipotong hingga ukurannya sama dengan lingkaran kepala. Nah yang paling sulit adalah mencari rok dalam. Hm... aku nggak punya rok dalam, maka biasanya aku meminjam rok dalam Mami. Eh sebenernya bukan minjam seh tapi mengambil tanpa seijin pemiliknya. Kenapa aku nggak minta ijin ke mami? Please deh! Ini bukan masalah moral, tapi kalau seandainya mami tanya, "Buat apa?," entah jawaban apa yang bisa kuberi. Jadi pinjam secara diam-diam adalah pilihan paling tepat. Toh cuma sebentar kan?

Oke Beib semua udah lengkap. Ada Om De Ni, ada Bra, ada mahkota dan ada rok dalam. Sekarang tinggal putar musiknya dan saksikan Om menari. Seiring dengan tarian yang aku sajikan, Mel berguling-guling di kasur sambil tertawa tanda bahwa dia menikmati tarianku. Setelah beberapa menit menari tiba-tiba Mel terdiam sejenak. Aku jadi ikutan bengong. Tapi tiba-tiba dia tertawa lebih keras dari sebelumnya. Melihat Mel sangat bahagia, aku melah semakin hot menari. Pertanda baik neh, berarti ngambeknya akan cepat hilang. Namun dalam tawa Mel yang makin keras tiba-tiba aku mendengar samar-samar suara tawa asing yang ikut nimbrung. Aku terdiam, kusadari ada yang tidak beres. Ada audience ilegal yang tiba-tiba masuk ruang pertunjukan tanpa tiket. Ingin rasanya aku segera memanggil security untuk mengamankan ruang pentas. Tapi mana ada security??? Aku pasrah. Aku menengok perlahan untuk mengetahui siapa penonton yang tak bertiket itu. ASTAGA!!! Aku terbelalak bukan kepalang. MAMI??? Si Mami berdiri di belakangku sambil terus memperhatikan rok dalam coklat miliknya. Aku meremas rok itu menahan takut dan malu. Mampus deh, diomelin deh neh, aku pakai rok mami nggak bilang-bilang.

"Maaf tadi belum bilang... Pinjam Mi roknya yha, buat latihan main drama. Hehehehe..."

Si mami terdiam, keringat dingin mengucur. Mami berjalan berkeliling mengitari tubuhku sambil melihat dengan seksama dari ujung rambut hingga jempol kakiku yang seksi. Mel ikut terdiam dan tegang. Aduh gimana ini??? Aku dan Mel saling berpandang, wajah kami sungguh cemas. Suasana kamar hening saat itu. Sampai akhirnya mami berkata-kata,

"Udah lama Den?"

Aku menunduk, "Baru kali ini kok Mi, baru kali ini saya pinjam rok mami nggak bilang-bilang. Beneran deh Mi. Maaf yha Mi..."

"Nggak, mami bukan tanya soal rok. Maksudnya Mami mau tanya, kamu udah lama gila???" Pertanyaan Mami diiringi dengan tawanya yang besar. Mel yang saat itu bengong jadi ikutan tertawa. Kali ini tertawanya lebih besar dari sebelumnya. Ibu dan anak itu duduk di kasur berdampingan sambil tak putusnya menertawakan penari hula-hula, eh penari gila. Emang beneran kayak orang gila apa???

Huh!!! Mereka tertawa, dan tinggallah aku manyun sendiri dengan mahkota, bra dan rok dalam. Siallll betullll....


Kekuatiran terhadap hal-hal buruk hanya akan menekan jiwa yang mestinya gembira...

Sabtu, November 07, 2009

Satu Jam Milik Kita


Waktu adalah penjahat. Dia adalah pencuri ulung dan pelari tercepat. Sebel aku kepadanya. Katanya satu hari berjumlah 24 jam, Halah! Bohong! Dusta! Untukku, waktu hanya memberi 1 jam dalam sehari. Waktu telah merampas 23 jam milikiku yang dihilangkannya entah kemana. Gila!!! Hanya ada 60 menit untuk bisa bercengkrama, bercerita, bercanda, membagi cinta, bercumbuan dan berkelut dalam asmara bersama kekasihku, sebab 23 jam lainnya telah dicuri oleh segudang pekerjaan, kegiatan sosial dan keagamaan, kuliah, belajar dan beristirahat.

Aku benci pada kata-kata "Happy weekend" karena kami tidak pernah mempunyai weekend. Mel kuliah penuh pada hari Sabtu, sedangkan pada hari Minggu gantian akulah yang penuh dengan kegiatan keagamaan dan mengajar anak jalanan. Jadi kapan kami weekend? kapan kami bisa punya hari nyengnyong? jawabku adalah "TIDAK ADA!" Bahkan libur hari raya atau libur nasional pun telah terisi jadwal kegiatan bersosialisasi dengan keluarga, kerabat, teman kerja, teman gereja atau pun teman kuliah.

Meski hidup bersama, namun aku merasa begitu jauh dari kekasihku. Ada banyak kisahku sepanjang hari ini yang belum didengar Mel, demikian juga ada banyak peristiwa dalam harinya yang belum terceritakan kepadaku. Kami jadi tak peka untuk membaca bahasa rindu, amarah, lelah dan gelisah.

Kadang kami hanya saling memandang tanpa kata, tubuh saling memeluk seakan ingin menyampaikan semua hal yang tak terceritakan. Kutangkap bahasa cintanya, namun tetap aku butuh waktu untuk berbicara banyak hal kepadanya. Aku ingin menceritakan tentang awan biru di pagi hari, tentang boss yang sedang sakit flu, tentang Tommy yang lupa menutup sereting celananya, tentang OB yang isterinya melahirkan, tentang HP-ku yang rusak, tentang pengendara motor yang hampir saja menabrak anak kecil, tentang anak-anak kecil yang giginya ompong namun tak berhenti tersenyum kepadaku, tentang hujan gerimis di sore hari, tentang dosen yang baru saja operasi gigi, tentang harga buku kuliah yang mahal, tentang tugas kuliah yang numpuk, tentang sahabat L yang baru saja jadian, tentang beberapa tulisan di Sepoci Kopi, tentang tetangga yang mau pinjam uang, tentang tanaman mawar kesayangan yang layu, tentang rice cooker yang rusak, tentang soup jagung yang kurang garam, tentang sabun cuci yang sudah habis, tentang tikus yang masuk ke dalam botol minyak, tentang ayam tetangga yang suka buang kotoran sembarangan, tentang camilan tempe yang enak, tentang deodoran yang sudah harus dibeli atau tentang sepatu yang sudah harus diganti. Banyak sekali kisah-kisah sederhana yang ingin aku sampaikan, namun semua ditelan oleh keangkuhan waktu.

Untungnya, aku dan Mel tidak pernah menyesali kehidupan yang kami jalani. Mungkin tak banyak kata terucap, tak banyak kisah terungkap, tapi ada banyak cinta yang membuat satu jam itu menjadi begitu berarti.

Senin, Oktober 26, 2009

Ketika Boss Naik Motor


"Apa pak? Ini serius yha? coba sekali lagi pak, tapi lebih keras yha biar kuping bolot saya ini bisa denger dengan jelas."

Jidad si Boss berkerut. Aku yakin sebenernya dia malas banget mengulang omongannya. Tapi demi mencapai tujuan, maka si Boss terpaksa mengulangi omongannya dengan suara yang lebih keras meski dengan nada bicara yang malas-malasan "Deniii, sayaaaa mau pinjam motor kamu. Boleh tidak???"

"Iya bolehlah pak. Tapi Bapak serius mau naik motor? Motor saya belum dicuci loh Pak. Gimana kalau saya panggilin taksi aja?"
"Aduh Den, nggak bisa ini udah telat, rapat di gedung YYYY, sudah harus dimulai 10 menit lagi. Kalau pakai mobil pasti terjebak macet malah bisa memakan waktu 45 menit"
"Loh kenapa nggak berangkat dari tadi Pak?"
"Nah itu.. Si Yono dari tadi saya cari nggak ada, teleponnya nggak diangkat. Bahkan sekarang teleponnya mati. Kan kunci mobil sama dia Den. Jadi saya pinjam motor kamu aja yha???"
"Hm... Emang bapak bisa naik motor yha???"
"Wah, jangan meragukan dong. Waktu SMA kan saya selalu naik motor ke sekolah."

Aku menarik nafas, enggak percaya sama si boss yang biasa naik BMW sekarang malah pengen naik motor, motornya boleh minjam pula. Okelah demi terwujudnya kemajuan perusahaan, maka dengan sangat terpaksa kuijinkan boss meminjam motorku (lagaknyaaaaaaaaaaa). Hehehhehe

Nah berhubung boss tidak pernah mampir ke parkiran motor, maka aku mengantar Boss ke parkiran sembari menunjukkan motorku yang saat itu 90% berlumpur. Si Boss sempet geleng-geleng kepala liat motorku yang kotornya naujubileh.
"Gak dicuci yha Den?"
"Maklum, musim hujan Pak."

Aku mengambil helm fullface yang masih nangkring di spion dan dengan malu-malu memberikannya kepada Si Boss. Melihat helmku yang udah dekil, Si Boss jadi ogah banget memakai helm itu. Berkali-kali dia nanya:

"Ada helm lain nggak Den?"
"Kagak"
"Emang mesti pake helm yha?"
"Ya terserah Bapak, tapi ingat kalau tertangkap polisi Bapak nggak punya SIM C loh!"

Si Boss masih terpaku, membolak-balik helm dan celingukan ke kanan dan kiri, berharap ada helm ngangur, tentunya yang lebih bersih dan boleh dipinjam. Sayangnya pencariannya tak membuahkan hasil. So, dengan sangat terpaksa dan sambil menahan nafas si Boss masukan kepalanya ke dalam helm. BLEP!

Nah sehubungan dengan jalan jakarta yang penuh dengan debu dan polusi, jadi aku sengaja minjemin jaketnya Pak Rano buat si Boss. Maksudnya supaya baju kerennya si Boss nggak kotor sama debu. Jadi lengkaplah si Boss yang biasa duduk manis di dalam BMW-nya karena ada Pak Yono yang nyupirin, kini malah nyetir motor yang dekil dengan menggukan helm yang bau dan jaket yang kumel.

Dari sinilah kesialan si Boss dimulai. Saat boss ingin mengeluarkan motorku dari tempat parkiran tiba-tiba dia melihat sebuah kunci motor yang masih nyangkut di motornya. Dengan maksud ingin berbuat baik dan menyelamatkan motor tersebut dari pencurian. Si Boss mengambil kuncinya.
"Dasar ceroboh"
"Biar saya yang kasih security Pak." Aku menawarkan diri
"Udah biar saya saja." Si boss ngotot
"Ya sudah."

Si Boss melaju menuju pos satpam dan menyerahkan kunci motor itu. Tapi emang dasar si Boss, dia sendiri lupa jenis motor dan nomer polisi motor tersebut. Saat satpam tanya, "Ini motor yang mana pak?" si Boss malah celingukan.

Aku yang paham situasi segera menghampiri, "Itu loh pak, motor warna biru, mereknya XXXX, nomer polisinya BYYYYZZ"

Mendengar itu serentak seorang pemuda yang kebetulan lagi duduk di pos satpam langsung berdiri, "Oh, motor XXXX yha??? itu motor saya. Aduuuhhhh kok saya bisa lupa yha nyabut kuncinya????"

Si boss langsung senyum dan menyerahkan kunci motor tersebut kepada si Pemuda. Nah yang bikin aku kaget setengah mati adalah tiba-tiba si pemuda menyalami boss dengan selembar uang yang dilipat-lipat di tangannya.

"Ini pak buat uang rokok." Sumpah aku mau ngakak ngiliat tampang si boss yang langsung aseeeem.

"Saya nggak ngerokok Pak. Terima kasih." Si boss berusaha menolak dengan halus.

Tapi emang dasar si pemuda batu, untuk keduakalinya dia mendorong uang itu ke tangan boss sambil bilang, "kalau gitu buat jajan Pak."

Tampang si boss yang asem berubah jadi pahit. Akhirnya si boss terpaksa nerima uang itu. wajahku dan wajah security kantor sama-sama merah nggak sanggup menahan tawa.
Si boss langsung menepi dan memanggilku. Dia memberikan uang yang diterimanya dari pemuda batu itu ke tanganku sambil berbisik, "Emang penampilan saya kayak OB yha???"
Aduh sumpah deh perutku mules banget nahan ketawa. Aku cuma angkat jempol dan bilang, "Nggak dong. Bapak Guanteng kok!!!"

Dibilang ganteng si boss langsung nyegir dan langsung ngacir. Beberapa menit setelah nbos ngacir aku berjalan balik ke kantor, aku langsung ketawa terbahak-bahak setelah membuka uang yang diberikan pemuda itu kepada Boss. Ya aaaaaaaammmmmpuuuuuuuun, tebak deh si boss dapat uang berapa? GOCENG alias lima ribu alias limongewu. Kasihan deh lo boss!!! (Sampai sekarang uang itu masih aku simpan untuk kujadikan jimat berkhasiat membangkitkan tawa).

Saat aku belum habis dengan tawa, tiba-tiba aku ngeliat Mas Yono keluar dari ruang bujang (ruang buat istirahat driver dan satpam saat dapat tugas malam). Muka Mas Yono lecek banget, matanya sepet, dan mulutnya nguap berkali-kali. Yaelah pantes aja si cumi laut susah banget dihubungi, secara dia abis molor di Ruang Bujang.

Tanpa rasa berdosa Mas Yono malah nyamperin aku dan dengan enteng melontarkan pertanyaan, "Bapak kemana Den???"
"Ngojek." jawabku ngasal...

Mas Yono langsung cengo lebingungan, lalu celingak celinguk nyariin Boss. Bodo ah...
Dasar Yono, si cumi laut, asal nempel bantal langsung molor. Aduh Mas, siap-siap deh, soalnya bentar lagi Boss bakal minta pertanggung jawaban Mas soal pelecehan yang diterimanya melalui uang lima ribu perak. Kalau udah gini, aku nggak berani ikut-ikutan deh!!!