Rabu, Februari 25, 2009

Semoga...


Ke mana saja aku selama ini? Aku ada di sini. Belakangan aku menjadi begitu labil. Ada banyak pertanyaan yang tiba-tiba datang dan tak mampu aku jawab. Aku lebih sering menyendiri, duduk dipojokan, sambil menghabiskan buku-buku. Akhir-akhir ini aku bergelut dengan pikiranku sendiri. Pikiranku menjelajah kemana pun ia mau. Aku mulai berpikir tentang banyak hal. Tentang Tuhan, tentang Mel, tentang rumah, tentang kasih ibu, tentang banjir, tentang keluarga, tentang sahabat-sahabat dunia mayaku, tentang masa kini, masa depan dan kehidupan setelah kematian.

Entahlah apakah sekarang aku semakin arif, semakin bijaksana dan semakin sabar. Entahlah apakah aku sekarang semakin berguna, bermakna dan memberi dampak. Entahlah... Belakangan ini aku merasa banyak mengalami kegagalan sebagai manusia. Aku merasa gagal menjadi anak ketika melihat ayahku menangisi hidupnya. Aku merasa gagal menjadi kekasih ketika Mel menyembunyikan wajahnya di bawah bantal, menangis karena ulahku. Aku merasa gagal menjadi manusia ketika aku lebih memilih membekap Mel semalaman saat hujan turun, padahal di tempat lain, beberapa anak jalanan menungguku. Perenunganku terhadap keberadaan dirikulah yang membuat aku menyadari betapa gagalnya aku.

Wajarkah aku gagal? Bukankah masih terlalu muda untuk aku hidup begitu sempurna? Jangan, aku tak boleh menjadikan kemudaan sebagai alasan untuk tidak melakukan hal yang terbaik. Dalam kesadaran itu, aku mencoba memperbaiki berbagai kegagalan. Aku coba untuk menghampiri ayahku, menghapus air matanya, memeluknya dan menyatakan betapa aku menyayanginya. Aku mulai bersikap lebih dewasa terhadap Mel, seperti pesan sahabatku Frizzy Jo: "Ayo dong Den, lo mesti lebih dewasa. Kan lo lebih tua dari Mel." Dan juga seperti pesan Kakakku Bening yang selalu menasehati agar selalu memberikan kasih dan kelembutan kepada partner. Aku juga mulai menyemangati diriku untuk mengajar anak-anak lebih giat.

Semoga aku akan menjadi manusia yang lebih baik. Manusia yang lebih manusiawi. Semoga dalam kemudaan aku menjadi manusia yang begitu matang. Semoga...

Kamis, Januari 29, 2009

Obrolan Sebelum Bobo


Sebelum ranjang empuk terhampiri. Sebelum bulan dan bintang menutup matanya. Sebelum batal dan guling melakukan tugasnya.
Deni : Mel, aku mengagumi pesonamu.
Mel : Deni, aku memuja kharismamu.

Deni : Kau adalah melodi yang menyejukan.
Mel : Kau adalah dawai yang menggembirakan.

Deni : Aku salut pada kesetiaanmu memasak setiap hari untukku.
Mel : Aku bangga pada kesediaanmu mengantarku kemana pun aku pergi.

Deni : Kau adalah bulan lembut yang menghiasi malam.
Mel : Kau adalah matahari perkasa yang menyinari siang.

Deni : Aku kangen pada kenakalanmu saat tak mau menghabiskan makanan.
Mel : Aku rindu pada cerewetmu untuk selalu teriak. "Sesuap lagi yha say! Please!"

Deni : Kau adalah burung Gereja yang bercicit di atap rumah setiap pagi.
Mel : Kau adalah burung Rajawali yang mengepakan sayapnya melintasi gunung-gunung.

Deni : Aku bersemangat saat menghampiri dan mencumbuimu di ranjang
Mel : Aku bahagia saat menanti dan membalas cumbuanmu di ranjang

Deni : Kau adalah bunga mawar putih yang bermekaran
Mel : Kau adalah kumbang yang berkeliaran

Deni : Aku senang melihat kau bersemangat mendengar ceritaku
Mel : Aku selalu menanti menikmati ceritamu tentang surga kita

Deni : Kau adalah hidung
Mel : Kau adalah upil

Deni : Aku suka melihat kau membersihkan komedo di hidungmu
Mel : Aku senang menyaksikanmu mencukur bulu kaki

Deni : Kau adalah penjara
Mel : Kau adalah narapidana

Deni : Aku bahagia menerima buku darimu
Mel : Aku gembira saat kau membacanya

Deni : Kau adalah bohlam lampu
Mel : Kau adalah sengatan listrik

Deni : Aku menyukaimu, saat kau bernyanyi malu-malu
Mel : Aku mengagumimu, saat kau bermain musik percaya diri

Deni : Kau adalah duniaku
Mel : Kau adalah hidupku

Deni : Aku menyukai senyumanmu
Mel : Aku jatuh cinta pada caramu berbicara

Deni : Kau adalah bait-bait kata
Mel : Kau adalah puisi cinta

Deni : Aku menyukai kedekatanmu dengan Tuhan
Mel : Aku terpesona pada caramu berpikir tentang Tuhan

Deni : Kau adalah doa-doa yang dinaikan
Mel : Kau adalah mazmur-mazmur yang dikidungkan

Deni : Aku menyayangimu
Mel : Aku mencintaimu
Deni : Kau adalah alasanku hidup
Mel : Kau adalah alasanku menemani hidupmu
Deni : Mel, mari kita tidur
Mel : Pastikan semua pintu terkunci rapat sayang!
Deni : zzz zzz zzz zzz
Mel : zzz zzz zzz zzz

Sabtu, Januari 24, 2009

Tentang Imlek Dan Mimpi


Mel dan aku ingin bercerita tentang imlek. Tentang anak-anak kecil yang berbaris rapi di depan rumah menunggu angpao dibagikan. Tangan mereka terangkat tanda penghormatan kepada makhluk yang lebih tua. Setelah diangkat, tangan itu diturunkan dan mengadah untuk menerima sebuah amplof merah bertuliskan aksara cina, yang aku sendiri tak tahu apa artinya.


Tahukah kamu apa yang dipikirkan anak-anak saat mereka melihat beberapa amplof di genggaman tanganku? Aku menebak mereka membayangkan coklat, es krim, mainan dan berbagai barang yang siap mereka beli setelah membongkar isi angpao. Padahal angpao yang mereka terima hanya berisi beberapa lembar uang ribuan. Namun beberapa lembar uang itu cukup menjadi motivator untuk membuat mereka berkumpul berdesakan di depan rumah, tersenyum penuh harap dan melompat kegirangan. Padahal bagi kita, angpao dengan isi beberapa lembar uang ribuan itu hanya sedikit memberikan pertolongan. Isi angpao itu hanya berakhir pada tukang parkir, WC umum dan segelas Aqua. Tapi bagi anak-anak di kampung Mel, angpao itu melambungkan kegembiraan, senyum, khayalan dan berakhir pada harapan.

Apa yang membuat angpao merah itu menjadi sangat berharga di tangan anak-anak? Mengapa beberapa lembar uang ribuan mengalami peningkatan nilai, hingga mampu menarik senyum, riang dan tawa. Jawabannya hanya satu, yaitu karena angpao itu adalah sebuah impian yang jadi nyata.

Waktu aku kecil, malam sebelum Imlek adalah malam yang membuatku berdebar-debar, membayangkan berapa angpao yang akan aku peroleh, berapa uang yang akan aku terima, barang apa yang ingin aku beli. Angpao itu adalah adalah tujuan, harapan dan impian. Impian yang membuatku bersemangat datang dari satu rumah ke rumah lain, berdiri berbarisan, mengembangkan cengiran selebar-lebarnya dan mengucapkan kalimat dengan sangat manis "Terima kasih Cek, terima kasih Aih, terima kasih Oo, terima kasih Kong."

Sobat, impian adalah bagaikan bahan bakar yang memacu kendaraanmu berjalan. Impian, harapan, tujuan dan cita-cita adalah pemotivasimu untuk berani melangkah menggapai impian itu. Aku tahu kita tidak sedang memimpikan angpao di Imlek ini. Kamu tidak, aku pun tidak, meski di blogku ini ada tulisan "Angpao Na Lay" hihihihihi. Sumpah ini bercanda 100%, tapi kalau berneran seh.... hihihihihihihi. Eh, ampe di mana tadi? Oh... iya tentang impian yha? Yha, sungguh aku tidak tahu apa yang sedang kamu impikan sekarang. Mungkin kau memimpikan perempuan itu, baju ini, mobil itu, rumah ini, ah entah apalah. Aku cuma ingin bilang, jangan anggap impian adalah sebuah kesalahan. Impianmu adalah langkah awal untuk menggapai cita-cita itu. Impianmu adalah tenaga untuk kau bertindak. Impianmu adalah kekuatan untuk kau berusaha. Jadi, mari bermimpi di Imlek ini! Mimpikan aku, kamu dan kita menjadi manusia yang lebih baik.

"Met Imlek Yha!"

Jumat, Januari 09, 2009

Aku Menyebut Tahun 2008 Istimewa


Aku menangis di sudut kamar membayangkan hidupku sepanjang tahun 2008. Tahun yang awalnya aku lewati dengan raga yang hampir hancur namun diakhiri dengan tubuh yang begitu gagah. Oleh karena itu aku bersujud kepada Tuhan. Kusukuri kehidupan baru yang merekah sepanjang tahun 2008.

Aku bersyukur karena pada tahun itu banyak orang-orang baru yang muncul dalam hidupku dan memberikan warna yang kuat. Seketika saja mereka menjadi hidupku, menjadi masa depanku. Walau pada tahun itu pun, aku juga kehilangan banyak orang. Mereka hilang sehilang-hilangnya. Pergi tanpa kata, menghilang tanpa jejak. Seketika saja mereka menjadi masa laluku.

Aku menyebut tahun 2008 istimewa. Aku tidak pernah memintanya. Tapi Tuhan menghadikankan keistimewaan itu. Begitu cepat, begitu sakit namun begitu memberi kebahagiaan. Aku mengalami pergolakan jiwa yang sarat. Mulai dari keraguan, keberanian, langkah, galau, bertanya, belajar, mengajar hingga menerima dengan penuh syukur. Semua menjadi warna yang indah dalam perjalananku dengan mahluk bernama perempuan. Bernama Mel. Tuhan menyatukan aku dengan perempuan itu setelah kami saling mencinta beratus hari lamanya.

Berbagai peristiwa dan gejolak emosi yang begitu kompleks di tahun 2008 mengajarku untuk membenahi diri dan cara memandang Tuhan. Aku menjadi lebih introvert dan melankolis. Menjadi lebih spiritual dan religius. Tahun itu, aku merasa seperti keledai dungu, seperti kain kesumba berwarna merah pekat, seperti noda. Dan dalam segala rasa itu, Tuhan datang menjadi musafir yang naik keledai, naik ke punggungku, sehingga aku menjadi keledai yang berguna. Tuhan datang dan mengubah kain kesumba dan titik-titik noda menjadi putih seperti bulu domba. Sungguh, dalam kegamangan aku sangat membutuhkan Tuhan untuk menuntun jalan.

Dan sepanjang tahun itu. Sepanjang jalan yang harus aku lalui. Di atas jalan-jalan yang penuh semak duri dan batu tajam, Tuhan menggendong dan menibakanku di ujung jalan dengan selamat. Di ujung tahun 2008, aku berdiri tanpa luka.

Segala jenis senyum membentang. Kuciumi dengan penuh kasih sayang kaki Tuhan yang berlumur darah saat menggendongku. Ia tersenyum, aku juga. Tuhan bertanya: "Apa yang kamu minta dari-Ku di tahun 2009 ini?" Kujawab: "Pegang tangan-Ku Tuhan, dan jangan lepaskan. Itu lebih dari cukup."

Selasa, Desember 30, 2008

Kado Buat Yesus


Marilah kita bercerita tentang Natal 2000 tahun silam. Hari di mana Yesus lahir. Bukan di sebuah tempat mewah, penuh hiasan meriah, kado-kado besar dan makanan-makanan yang lezat. Pada natal itu Yesus lahir dalam kesederhanaan, hanya dibungkus kain, diletakan di sebuah palungan dalam kandang domba yang dipandangan hina oleh manusia.

Dan marilah kita bercerita tentang Natal tahun ini. Di mana Yesus berulang tahun. Perayaan bukan dilakukan di sebuah kandang dengan tamu-tamu yang duduk di atas palungan tanpa disuguhi makanan. Pada Natal tahun ini, perayaan dilakukan di gedung-gedung mewah, ada pohon natal besar menjulang dengan hiasan bola-bola dan lampu kerlap kerlip. Ada hadiah-hadiah istimewa yang dibagikan. Ada daging rendang, ayam goreng, capcay, ikan bakar, puding, acar, minuman dan buah.

Tidak, tidak aku bukan bermaksud menolak perayaan Natal yang dilakukan secara istimewa. Aku pun menikmati hiasan pohon Natal, aku juga menerima pemberian kado Natal dari para karib dan tentunya aku senang berada di tengah meja panjang berisi makanan-makanan yang tersaji secara prasmanan.

Tapi, aku cuma tidak mau natal lewat begitu saja dari tahun ke tahun. Aku tak mau kita mengenal natal hanya sebatas pada pohon cemara dengan hiasan-hiasannya, kado-kado besar dan makanan. Aku ingin kita mengalami Natal yang berbeda tahun ini.

Oleh karena itu, mari kita menengok 2000 tahun silam. Sadarilah, Natal adalah sebuah pengorbanan dalam kesederhanaan. Pengorbanan Yesus, Tuhan yang rela menjadi manusia, pengorbanan Maria perawan suci yang rela mengandung sebelum masa pernikahannya, pengorbanan Yusuf yang rela menikahi perempuan yang tengah mengandung namun bukan dari benihnya dan pengorbanan para Majus yang rela datang dari Timur untuk memberi persembahan bagi bayi Yesus. Dan semua pengorbanan itu dilakukan dalam kesederhanaan.

Juga mari kita melongok natal tahun ini, Natal adalah hari ulang tahun Yesus. Sadarilah, sepatutnya Yesuslah yang menerima kado ulang tahun dari kita, bukan kita yang menerima kado dari sesama.

Iya, iya aku tahu, kita menerima kado tanpa diharapkan. Kado itu datang karena ada banyak orang yang simpatik pada kita. Aku pun menerimanya dengan senang hati dan tidak membuangnya ke dalam tong sampah. Tapi mari mendekat kepadaku, mari aku bisikan sesuatu, "Ayo, buat natal tahun ini berbeda dengan memberi kado ulang tahun buat Yesus."

Stttt, stop. Jangan keburu nafsu pergi ke Carrefour lalu belanja kaos dan celana untuk di kadokan kepada Yesus. Please deh, Yesus nggak butuh kaos dan celana jeans. Juga jangan kasih komputer atau laptop, Yesus juga nggak perlu itu, mending laptopnya dikasih ke mas Tukul atau ke koko De Ni hehehehehehe. Sini-sini aku kasih tahu. Coba tengok kanan kiri. Aduh... bukan! bukan! bukan cewek seksi yang pake rok mini dan kaos pink ketat yang lagi duduk di pinggir jalan itu loh. Aduh please dong, fokus githu loh. Itu loh yang di sana, nah! anak-anak yatim piatu itu, orang-orang yang kelaparan itu, janda-janda dan orang-orang miskin itu loh. Nah mereka adalah wakilnya Tuhan. Kalau mau kasih kado ulang tahun buat Yesus, kasihlah kepada mereka. Karena ketika kita memberi kado natal kepada mereka, kita sedang memberi kado ulang tahun kepada Yesus. Jadi buruan kasih kado buat Yesus, soalnya merayakan ulang tahun Yesus tanpa memberi kado, kan jadi gimana githu loh! iya nggak seh?


Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Matius 25:40

Selasa, Desember 23, 2008

Sayur Bayam dan Ayam Balado Untuk Bunda


Bunda hari ini aku masak di dapur. Seperti biasa, seperti tahuh-tahun lalu di mana ragamu masih ada di dunia ini. Maka aku kudedikasikan hari ini untukmu. Aku memasak sayur kesukaanmu. Bayam berkuah yang ditaburi parutan jagung, dan beberapa potong ayam balado mendampingi.

Bunda hari ini aku memasak dengan sempurna. Masakannya begitu lezat. Sayur bayamnya segar, dan ayam balado itu loh Bunda, pedasnya pas dengan seleramu. Tapi Bunda, coba lihat tanganku. Aku terkena cipratan minyak panas saat menggoreng ayam. Duh, aku ingin menangis. Untung aku mengingat tentangmu Bunda. Sejak menikah dan membesarkan anak-anakmu, entah sudah berapa tetes minyak panas yang melepuhkan tanganmu. Ah Bunda, saat kupandang dirimu, kusadari bahwa aku hanya setetes air di tengah samudra.

Jadi kau pasti tahu untuk siapa aku memasak, untukmu. Bukankah ini sudah menjadi ritual tiap tahun pada hari ibu? Setiap hari ibu, aku selalu bangun pagi-pagi, memasak, membersihkan rumah, mencuci, menyetrika dan memberi pijatan lembut untukmu. Bunda tahu kenapa? Karena aku sangat mencintaimu.

Tapi, aku tidak menemukanmu hari ini. Seperti tahun-tahun lalu, kau selalu duduk gelisah di ruang tamu menungguku memasak. Dengan gairah kau mencicipi masakanku dan dengan senyum kau akan bilang, "Luar biasa enak loh Neng!." Ah, aku tahu kau bohong, sebab setelah kucicipi, masakanku terasa sangat hambar. Mungkin kurang garam. Tapi aku tahu kenapa waktu itu kau memujiku? Karena kau sangat mencintaiku.

Kau tidak menemuiku hari ini. Entah di surga kau sedang berpesta apa. Sedang menaikan kidung bagi Tuhan kah kau? Atau sedang berjalan mengelilingi danau pelangi yang bertanah emas? Yang jelas ada jarak di antara surga dan bumi, di antara aku denganmu. Jarak yang sangat jauh. Namun sejauh apapun jarak yang membentangi kita, kau tidak pernah lalai mengirim cinta dan kasih sayang sehingga aku merasa kita begitu dekat.

Bunda, di ruang tamu ada seorang perempuan tua. Kulitnya sudah keriput, tapi begitu lincah. Dia adalah "mertuaku," mamanya Mel, "menantumu" itu loh. "Mertuaku" itu sangat baik bunda. Dia merawat dan mengasihiku seperti yang ia lakukan pada Mel. Bolehkah aku berikan sayur bayam dan ayam balado ini kepadanya juga Bunda? Yha aku tahu kau pasti jawab boleh. Karena dia juga adalah seorang ibu. Sekarang dia juga adalah ibuku.

Jadi, aku ingin menjadikan hari ini berbeda Bunda. Aku, kau, perempuanku dan mertuaku. Aku ingin kita duduk bersama. Kita bersama makan sayur bayam dan ayam balado buatanku. Aku berharap masakanku mendapat puji darimu Bunda. Aku harap makanan itu habis terlahap.

Selamat Hari Ibu Bunda. Aku cinta padamu!

Rabu, Desember 17, 2008

Dapatkah Kubalas Kebaikan-Mu Tuhan?


Tuhan, mereka mengajariku cara membalas kebaikan-Mu, tapi aku tahu, aku tidak akan pernah bisa melakukannya. Terlalu banyak keajaiban yang Kau berikan kepadaku. Terlalu banyak mujizat yang Kau kerjakan dalam langkahku. Terlalu banyak anugerah yang Kau limpahkan dalam hidupku. Sungguh Tuhan aku tak mampu membalasnya.

Sejak aku lahir, anugerah-Mu tidak pernah meninggalkanku. Kau berikan keluarga yang begitu bersinar dalam kesederhanaan. Kau berikan seorang ibu yang tidak pernah mau mengeluh dalam penderitaan terberat sekalipun. Kau berikan ayah yang berbakti bagi keluarganya. Kau berikan aku saudara-saudara yang mengajariku tentang arti hidup. Dalam kasih sayang mereka aku besar. Dalam cinta mereka aku bertumbuh. Jadi dapatkah aku membalas kebaikan-Mu?

Tuhan Kau melimpahiku dengan rahmat-Mu. Kau memberikanku kemampuan untuk menghidupi diri dan keluargaku. Kau berikan aku kesehatan untuk bekerja keras. Kau berikan aku hikmat untuk berkarya. Kau berikan aku talenta untuk membagikan ilmu. Kau berikan aku semangat untuk berjuang. Kau berikan aku ketekunan untuk menghasilkan. Jadi dapatkah aku membalas kebaikan-Mu?

Tuhan Kau menganugerahiku dengan cinta yang penuh. Kau berikan aku hati untuk mengasihi banyak orang. Kau tanamkan belas kasihan untuk aku bertindak dalam cinta. Kau anugerahkan begitu banyak orang yang memperhatikan dan mengasihiku. Kau berikan perempuan yang begitu mencintaiku. Kau hidupi aku dalam lingkup cinta-Mu yang kau nyatakan lewat orang-orang sekelilingku. Jadi dapatkah aku membalas kebaikan-Mu?

Tuhan Kau mengaruniaku belas kasihan. Kau tidak memandangku hina saat dunia melihatku penuh kehinaan. Kau memelukku saat dunia menganiaya. Kau menciumiku saat dunia meludahiku. Kau menyebutku berharga saat dunia memandangku sebagai sampah. Dalam kegagalan Kau berikan aku kekuatan untuk bangkit, dalam keberhasilan Kau tanamkan kerendahan hati. Hidupku menjadi begitu sempurna atas kehadiran-Mu Tuhan. Jadi dapatkah aku membalas kebaikan-Mu?

Tidak! Aku tidak pernah bisa membalas kebaikan-Mu. Kemurahan, kasih, rahmat, pengampunan, cinta dan kasih sayang-Mu begitu melimpah. Aku tak mampu menyelami. Aku tak dapat mengukurnya. Yang aku dapat lakukan hanyalah berusaha membuat-Mu tersenyum, membuat-Mu bangga, membuatmu bahagia. Karena membuat pribadi yang kucintai bahagia adalah sukacita yang tidak ternilai. Aku cinta pada-Mu Tuhan, benar-benar mencintai-Mu.


Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takut akan Engkau, yang telah Kaulakukan bagi orang yang berlindung pada-Mu, di hadapan manusia!
Mazmur 31:20

Jumat, Desember 12, 2008

Salute


Duh, sibuk banget deh dua minggu ini. Semua energi terkuras oleh kerjaan yang banyaknya dah sampai ke tingkat ngeri. Kalau dah sibuk gini yang ada aku jadi bertindak senaknya. Pulang langsung lepas sepatu dan ditaruh sembarangan, kaos kaki dilempar ke kolong meja. Langsung badan direbahkan di lantai. Malas makan, malas mandi, malas ngomong, malas nulis, malas baca, malas nonton. Pokonya malas las las las. Tak ada energi yang tersisa di rumah. Semua energi sudah kuserahkan 100% kepada kantor tercinta.

Tapi untung Mel nggak ikut malas-malasan. Dia dengan gesit merapikan sepatuku, berkejar-kejaran dengan anjing kesayanganku yang lari kesana-sini sambil mengigit kaos kakiku yang bau ikan asin. Dia juga dengan cekatan menyiapkan makan malam, dengan ramah membujuk aku makan. Kalau dah begini sifat manjaku langsung keluar yang endingnya memaksa Mel menyuapiku makan. Setelah makan mataku sudah berat, aku langsung tidur. Tanpa cium Mel, tanpa cuci muka, tanpa gosok gigi, tanpa ganti baju, tanpa mandi, tanpa cuci kaki.

Aku ngerti Mel pasti juga ingin langsung selonjoran. Tapi tugasnya tidak pernah berakhir. Kalau bukan dia yang mencuci piring, siapa lagi? kalau bukan dia yang menyetrika baju kerja kami, siapa lagi? kalau bukan dia yang merapikan rumah, siapa lagi? kalau bukan dia yang mengerjakan tugas kuliahnya, siapa lagi? Dia masih terjaga, masih bekerja hingga larut tiba. Jam 2 pagi perempuanku ini baru tidur. Dan jam 4 pagi dia sudah bangun lagi. Aku baru dibangunkannya jam 6.

Matanya sembab, ada lingkaran hitam yang pekat di sekeliling kelopak matanya. Dia benar-benar lelah. Kekasihku lelah, tapi tak mau mengatakan dirinya lelah. Dia lelah tapi dengan riang menjalankan tugasnya. Dia lelah, tapi tidak membuat dunia menjadi ikut lelah bersamanya. Dia lelah, tapi sebisa mungkin tetap menjadi penyemangat bagi partnernya. Dia lelah, tapi tak mau diistimewakan.

Aku jadi benar-benar malu. Siapa bilang rentan usia 6 tahun membuatku menjadi terlihat dewasa darinya? Mel jauh lebih dewasa dari aku, jauh lebih arif, jauh lebih bijaksana. Untuk semuanya ini kuhadiahkan kata SALUTE untuknya.

Jumat, November 28, 2008

The Way You Look At Me


Sayang, sudah delapan bulan kita bersama, tapi aku masih tergila-gila oleh matamu. Mata yang selalu melihatku secara istimewa. Kau menjadikan aku berharga dalam pandanganmu. Dalam gundah aku menghampirimu karena aku yakin kaulah belahan hatiku yang hilang. Bagaimanakah aku bisa menghapusmu dari hidupku? Bagaimanakah hati dapat berfungsi jika kepingannya hilang? Aku selalu rindu menatap mata dan hatimu karena di dalamnya ada cinta yang memancar. Dalam matamu, dalam hatimu. Aku selalu menjadi pujaanmu sehingga kutemukan kedamaian di dalamnya.

Maka kunyanyikan lagi lagu kesayangan kita. Lagu yang selalu kau putar mengiringi cerita-ceritaku tetang sebuah negeri yang indah dimana aku dan kamu adalah pasangan yang tak terpisahkan. Lagu yang selalu kunyanyikan meski dengan suara sumbang dan permainan piano yang pas-pasan. Lagu yang selalu mengajak kita turun ke lantai dansa.

Aku tahu kau sangat menyukai aku menyanyikannya dalam keheningan. Sehingga dapat kugetarkan jiwamu. Sehingga dapat kusentuh hatimu dan kumanjakan perasaanmu. Dengarkanlah dawai ini. Dan pujalah cinta. Minumlah anggurnya dan mabuklah bersamaku. Kita akan menari bersama malaikat-malaikat cupit yang membusurkan ribuan panah ke hati. Peluklah aku erat. Karena malam ini aku akan membawamu terbang. Pasanglah telinga indahmu. Karena melodi akan kukirimkan ke dalamnya.
The Way You Look At Me
By: Christian Bautista

No one ever saw me like you do
All the things that I could add up to
I never knew just what a smile was worth
But your eyes say everything without a single word

'Cause there's somethin' in the way you look at me
It's as if my heart knows you're the missing piece
You made me believe that there's nothing in this world I can't be
I never know what you see
But there's somethin' in the way you look at me

If I could freeze some moment in my mind
Be the second that you touch your lips to mine
I'd like to stop the clock, make time stand still
'Cause, baby, this is just the way I always wanna feel

I don't know how or why I feel different in your eyes
All I know is it happens every time

Rabu, November 26, 2008

My Prayer


Tuhan... Aku tahu Kau Maha Kasih, maka sadarkanlah aku untuk lebih mengasihi-Mu

Tuhan... Aku tahu Kau Maha Pengampun, maka sadarkanlah aku untuk mengampuni sesamaku

Tuhan... Aku tahu Kau Maha Suci, maka sucikan aku untuk menghampiri-Mu

Tuhan.... Aku tahu Kau Maha Penolong, maka sadarkan aku untuk menolong sesamaku dengan segenap ketulusan

Tuhan... Aku tahu Kau Maha Pemberi, maka sadarkan aku untuk memberi hidup dalam kehidupan ini
Tuhan... Aku tahu Kau Maha Tahu, maka limpahkan aku segala pengetahuan supaya aku dapat membuka jendela ilmu bagi banyak orang.


Tuhan...

Jadikanlah aku berguna
Seperti tujuan-Mu semula menciptakanku.
Untuk membuatku berharga, bukan menjadi sampah
Untuk membuatku terhormat, bukan terbawah

Maka kumohon kepada-Mu Tuhan...

Jadikanlah aku penuntun langkah bagi orang tersesat
Jadikanlah aku tawa ditengah tangis dan senyum di tengah cemberut
Jadikanlah aku pelukan di tengah sumpah serapah, ciuman di tengah ludah
Jadikanlah aku hujan yang membasahi kekeringan
Jadikanlah aku pohon besar untuk menampung banyak peteduh
Jadikanlah aku udara sejuk yang dirindukan dan nafas lembut yang dinantikan
Jadikanlah aku alat-Mu untuk meyakinkan dunia ini bahwa Engkau benar-benar ADA
Ada bukan cuma untukku tapi juga untuk mereka

Amin...