Kamis, September 17, 2009

SIBUUUKKKKK!!!!!


Gawat, gawat, gawattttt ini!!!. Gara-gara kebiasaan menunda-nunda pekerjaan akhirnya overload kan? Hikh. Udah hampir seminggu ini aku mati gaya nongkrong di depan komputer. Nggak bisa YM-an, nggak bisa FB-kan, nggak bisa SMS-an, nggak bisa teleponan dan yang paling menyakitkan adalah nggak bisa tidur di meja kantor. Hikh hikh hikhssss

Si boss juga marah-marah mulu lantaran ada beberapa jurnal yang belum aku tulis. Sumpah dah boss dalam sebulan ini saya sudah coba menulisnya, cuma nggak ada ilham, iluminasi atau pencerahan, yang ada di otak saya cuma Mel, Mel, Mel dan Mel. Tapi tenang aja saudaraku setanah air, aku bakal tetep hidup di bumi ini secara kalau waktunya dah mepet biasanya aku suka dapat bisikan-bisikan ilahi yang bikin aku bisa menulis dalam waktu singkat. Ocreeekan? (Ngarep! Padahal teoriku ini belum teruji secara valid dan reliabel. Teori ini hanya sebagai sebuah harapan penulis yang muncul akibat tekanan).

Sampai di mana tadi tuh? Oh iya kesibukkan. Hikhssss. Kalau sibuk gini biasanya aku jadi lebih sensi. Bawaanya mau ke toilet mulu. Loh apa hubungannya sensi sama toilet? Yha jelas ada dong. Secara kalau sensi bawaaanya aku mau nangis mulu. Nah nggak mungkin kan aku nangis depan boss? Apalagi depan si Tommy, huh! bisa-bisa dia manggil ambulance dan bawa aku ke rumah sakit jiwa.

So, apa yang membuat aku pengen nangis? Nggak tahu! Kalau lagi sensi gini, apa aja bisa bikin aku nangis. Mulai dari ngeliat meja kerja yang berantakan, smsku yang nggak dibalas sama Mel, boss yang bersin melulu, OB yang kehabisan sabun saat nyuci piring sampai ngeliat tas monyet yang bikin heboh itu rasanya pengen nangis!!! Hikh hikh hikh hikh. Sampai-sampai mau copot neh mata.

Jadi bagaimana solusinya? Cuma satu, the only one, siji wae, yaitu mesti cari ilham buat nulis jurnal yang kena deadline itu.

Cuma gimana memulainya? Nggak tahu! Terus selama dua hari nongkrong di depan komputer ngapain aja? Em…. Pertama-tama cari ilham dengan membaca beberapa buku referensi, tapi tetep nggak nemu ilham. Akhirnya aku bengong aja, ngedipin mata, mencetin komedo, motongin kuku, guntingin bulu kaki, garuk-garuk kepala, terus baca koran Pos Kota liat-liat kolom iklan. Lama-lama aku jadi ngantuk. Terus? Terus nyender ke kursi lalu tidur bentar. Abis tidur? Abis tidur yha bangun dong, masa abis tidur joget! Iya terus ngapain? Terus cari makan dan langsung cabut kuliah. Loh bukannya kuliahnya malam? Iya dong malam. Jadi tidurnya berapa lama? Ah sebentar kok cuma dua jam. HAH!!! Terus tugas nulis jurnalnya udah selesai? Yha belumlah, jangankan selesai, mulai aja belum. Yeeeeee!!! Jadi kapan mulai nulisnya? Nantilah, deadline-nya kan 30 September toh? Aku mulai nulis tanggal 28 September deh, oke??? DASAR!!!

Rabu, September 09, 2009

NARSIS MODE OFF


Seorang sahabat pernah berkata, "Den kalau ampe lo putus sama Mel, mungkin nggak bakal ada cewek yang mau sama lo kali yha. Hahahhaha."

GUBRAK SIAULLLLL! Huh! Beneran tuh analisa? Sahih? Valid? Ya, ya, ya, mungkin juga benar. Secara kalau aku perhatiin, emang kayaknya aku itu pas-pasan banget deh.

Penampilan fisikku pas-pasan. Nggak kece deh. Ada bagian tubuhku yang aneh gitu, bahkan Mel aja sering memanggil aku dengan sebutan hidung jambu, bibir pentungan, betis tales, mata almond. Pokoknya secara fisik aku nggak keren. Emang seh nggak bisa dibilang jelek. Tapi kalau ada yang bilang aku cakep, aku jadi curiga jangan-jangan tuh orang lagi ngeboong, atau nyindir, atau mau menyebar fitnah.

Secara finansial aku juga pas-pasan banget. Selama ini aku bekerja untuk urusan sosial soalnya. Kerjaannya berat dan banyak tapi penghasilan ringan dan sedikit, malah kadang-kadang nggak menghasilkan apa-apa, bahkan nggak jarang malah harus mengeluarkan uang dari kas pribadi. Imbasnya, kalau kencan sama cewek aku cuma bisa traktir dia makan nasi goreng pinggir jalan yang seporsinya sepuluh ribu rupiah atau makan bakso yang semangkoknya delapan ribu rupiah. Juga kalau aku mau kasih dia hadiah, palingan cuma bisa kasih bunga mawar yang setangkai seharga lima ribu perak.

Aku juga bukan orang terpandang. Jabatanku di kantor juga pas-pasan. Hanya karyawan biasa yang sebenarnya bekerja sebagai editor, namun kini berubah fungsi jadi pembantu umum yang kerjanya serabutan lantaran kantor malas nambah karyawan baru. Jadi urusan disain buku, pemasaran, distribusi, sampai penagihan aku lakukan sendiri. Kadang-kadang malah aku jadi tukang parkir kalau boss datang dan beliau susah parkirin mobilnya.

Kecerdasanku juga pas-pasan aja. Hehehehe, aku nggak pernah expert pada suatu bidang tertentu. Aku tahu banyak hal tapi cuma mampu menguasainya sedikit-sedikit. Misalnya dalam hal bermain musik, aku bisa main keyboard tapi kemampuanku pas-pasan, jadi biasanya aku baru dipercayakan main musik di gereja kalau memang sudah tidak ada pemusik sama sekali. Termasuk dalam hal menciptakan lagu anak-anak, aku memang berhasil menciptakan beberapa lagu, namun aku yakin kalau lagu itu aku jual nggak bakal ada yang mau beli, denger pun kayaknya pada ogah. Hikh. Termasuk juga dalam hal menulis. Ya gini neh, hasil tulisanku pas-pasan. Masih dalam kelas kacangan.

Nah coba pikir siapa yang mau sama De Ni yang pas-pasan dan nggak jelas itu??? Baik tampang, finansial, jabatan maupun kecerdasannya nggak bisa dijadikan kebanggaan.

Kadang aku juga nggak habis pikir kenapa Mel mau sama aku. Padahal yang ngejar-ngejar buat dapetin Mel kan banyaaaaak banget. Ya iyalaaaaahhhh secara Mel itu bukan cuma cantik, tapi juga lemah lembut, pengertian, sabar, baik, pinter, dan yang paling bikin dia seksi dan keren adalah dia itu punya jiwa ibu rumah tangga yang rajin ngurus rumah dan "suami". Kerjaan nyuci, ngepel, nyapu, nyetrika dan semua kerjaan ibu rumah tangga lainnya, dijalankannya dengan sukacita. Bahkan semua kebutuhanku, dia yang nyiapin. Baik banget deh dia itu, sempurna. Sayang banget deh aku sama dia, pokoknya nggak ada yang sebaik dia deh... Loh kok jadi malah ngelantur muji-muji bini sendiri? tapi untunglah dari pada muji bini orang.

Nah coba aku test yha. Eit jangan mikir macem-macem loh yha! Ini cuma test aja kok. Cuma main-main. Cuma untuk membuktikan pendapat sahabatku itu. Serius, sumpah, suer! Ini cuma test loh yha. Oke? Lanjut...

So... melihat kondisiku dalam penuturanku di atas, sekarang aku mau tanya: SIAPA YANG MAU JADI PACARKU??? Hayo tunjuk tangan, jangan malu-malu! Tenang!!! Mel nggak bakal marah kok.

Kamis, September 03, 2009

Gempar Gempa


Siang itu aku ngantuk berat akibat kurang tidur. Selasa malam Mel sakit, jadi aku manja-manjain dia sampai larut malam. Kantor juga sepi banget, semua karyawan pada asik dengan komputernya masing-masing. Kecuali Tommy, temen kantorku yang paling gendut. Sudah beberapa kali lelaki itu bolak-balik ke ruanganku resah. "Aduh Den laper neh gue. Ada apa nggak gitu? biasanya lo bawa makanan."

"Mel lagi sakit, jadi hari ini gue nggak bawa makanan apa-apa. Lagian elo mah, asal dapat kerjaan dikit langsung lapar. Udah kelarin noh tumpukan uangnya. Ntar gue rampok loh!"

Tommy balik ke ruangannya lemas, nggak lama dia teriak, "Den, gue mau pesan Indomie. Lo mau nggak?"

"Gue lagi puasa. Hahahahaha."

"Ajegile lo puasa. Serius neh, kalau mau gue bayarin tapi nggak pake telor yha. Mahal!!!"

"Idiiiih dasar medit. Nggak ah..."

Tommy lanjut menyelesaikan tugasnya menaruh tumpukan uang ke beberapa amplof untuk dibagikan kepada para penulis jurnal. Nggak lama seorang perempuan datang dengan semangkuk mie goreng. Dan seperti biasa, Tommy langsung ngomel, "Kok lama banget seh Mbak? Saya udah laper neh! Kalau saya kurus gimana? Loh Kok nggak pake bawang goreng?"
"Ini bukannya saya udah kasih bawang goreng mas?"
"Iya kok dikit?"
"Dikit bukan berarti nggak ada kan?"
"Iya iya, bisa ditambah nggak bawang gorengnya?"
"Ya udah mangkoknya saya bawa lagi yha."
"Yaaaaaah. Udah deh nggak usah, saya udah laper."

Perempuan itu langsung pergi, kayaknya dia jengkel banget sama ulah si Tommy. Melewati ruanganku, perempuan itu sempet melirik dan bergumam pelan, "Bawel" sambil nunjuk ruangan si Tommy.

Aku nyahut pelan, "Embeeeerrr."

Baru saja perempuan itu berlalu, tiba-tiba ruang kerjaku terguncang. Awalnya aku kira itu ulah Tommy yang kebetulan emang sering loncat kesana kemari. Tapi ternyata guncangannya makin hebat. Si Tommy yang emang orangnya suka rada lebay, langsung teriak ke sekenceng-kencengnya, "TOLOOOOOOOONG!!! GEMPA!!! SEMBUNYI DI KOLONG MEJA!!!" Aku jadi ikutan panik dan pengen ikut sembunyi di kolong meja, tapi karena ruanganku berantakan dan amburadul, kolong mejaku penuh sesak dengan tumpukan dus, jadi hanya kepalaku aja yang bisa masuk ke kolong meja.

Si Tommy yang ngusulin sembunyi di bawah kolong meja malah kabur duluan. Sebelum turun dia sempet-sempetnya teriak, "DEN KALAU CUMA KEPALA LO DOANG YANG MASUK KOLONG MEJA, LO BISA TETEP MATI. DASAR OON. TURUNNNN TURUN SEMUAAAAA." (Hikh dasar congor lo Tom!!! Seluruh kantor jadi tahu deh kalau panik aku suka jadi OON).

Semua kacau deh, kak Santi salah satu teman kantorku jadi ikutan panik, dia langsung teriak "TAS MASUKIN KE DOMPET!!! TAS MASUKIN KE DOMPET." Padahal kan yang benar "Dompet masukin ke tas" Hehehehehe.

Pokoknya orang sekantor pada panik dan ngelakuin hal-hal yang nggak jelas. Mereka berebutan turun tangga. Aku juga ikutan lari, yang aku bawa saat itu hanya HP, secara yang ada di otakku cuma pengen menelepon Mel, keluarga dan temen-temen. Aku pusing dan limbung sampe-sampe nyusruk ke tembok.

Pas mau turun tangga aku baru sadar kalau aku mesti balik untuk mengambil tas secara banyak dokumen penting dalam tas itu. So, dengan tertatih Aku balik lagi ke ruanganku. Sesampainya kembali di ruangan, gempa sudah mulai reda, meski masih ada sedikit getaran. Tapi aku tetep kekeh mau turun karena takut ada gempa susulan. Pas mau turun lagi, niat itu aku batalkan saat melihat Mbak Tina, teman sekantorku yang lagi hamil tua cuma duduk diam sambil nangis. Aku menghampirinya, "Tenang Mbak. Jangan nangis. Ayo kita turun."

"Kaki Mbak lemas Den. Nggak bisa jalan."

"Ya udah ke ruanganku aja, di sini banyak kaca. Ngerri."

Aku menuntun Mbak Tina pelan. Aduh jujur aku pengen banget keluar dari gedung ini, tapi nggak mungkin aku tinggalin Mbak Tina sendirian. Aku tegang, meski akhirnya aku bisa menarik nafas panjang saat mendengar anak-anak disain masih kasak kusuk di ruangannya, berarti kami nggak sendiri. "Gedung ini kuat nahan gempa nggak seh?" Aku teriak kepada anak-anak disain.

"Tenang Den, ada Tuhan Yesus. Imannuel, Tuhan beserta kita."

Aku jadi tambah lega meski perutku terasa mual sekali. Kuambilkan segelas air hangat untuk mbak Tina. Aku langsung menelepon Mel dan memastikan dia baik-baik saja, memberi tahu teman chatku tentang terjadinya gempa ini. Lalu menghubungi Jo untuk memastikan dia juga dalam keadaan baik.

Mbak Tina masih gemetaran saat deringan HP berbunyi dari ruangan Tommy. Kulongok ruangnya. Semua barang-barangnya masih lengkap di mejanya. HP, laptop, tas, meski puluhan lembar uang seratus ribuan bercecer di lantai. Entah uang-uang itu tercecer karena gempa atau karena kepanikan Tommy yang akhirnya membuat dia nabrak sana sini.

"Si Tommy sakin paniknya keluar nggak bawa apa-apa loh mbak. Aku jadi malu sama dia. Aku masih bawa barang tadi."

Mbak Tina tersenyum. Aku melongok ke jendela. Di parkiran kulihat puluhan teman-temanku beserta para boss sudah berkumpul di sana. Tak sulit untuk menemukan Tommy yang tambun di antara kumpulan orang. Astaga... Si Tommy itu malu-maluin deh!!! Untung nggak ada stasiun TV yang meliput kantor kami saat kejadian gempa itu. Kalau ampe ada yang meliput, bisa rusak image kantorku di hadapan seantero Indonesia.

"Mbak Tina, liat deh apa yang diselamatkan si Tommy."

Mbak Tina ikut ngelongok ke jendela. Sepontan kami tertawa terbahak-bahak. Ayo tebak, apa yang Tommy selamatkan? Si Tommy itu hanya menyelamatkan semangkok mie goreng yang barusan dia pesan. Yang lebih geblek lagi, di parkiran dia malah mondar mandir kebingungan sambil terus menyuap mie ke dalam mulutnya sampai mienya habis.

"Tommy emang rada-rada kali yha mbak, orang panik gini dia masih sempet-sempetnya ngabisin mie."

"Otaknya nggak jauh-jauh dari makan. Hahhahaha" kami ketawa lagi

"Sekarang masih lemes Mbak?"

"Nggak. Thanks yha Den. Tuhan emang baik, Dia kirim Tommy untuk bikin kita jadi nggak tegang lagi. Heheheheh. O iya Den, tadi pas turun kamu bawa apa?"

"HP, kenapa Mbak?"

"Hm... Saat panik orang akan membawa hal yang dianggapnya sangat penting. Dan menurut Mbak, yang terpenting dalam hidupmu adalah keluarga dan sahabat, makanya kamu bawa HP untuk hubungi mereka. Betul nggak?"

"Amin."

Aku kembali menatap keluar jendela. Si Tommy masih nenteng mangkok mie kesana kemari sambil mewawancarai beberapa orang. Aku menarik nafas panjang... Semoga semua keluarga, teman dan sahabatku dalam keadaaan baik.

Selasa, September 01, 2009

Ayo Berbagi Pengalaman!!!


Udah jatuh ketimpa tangga, digigit anjing, ditabrak bajaj, kelindas mesin giling lalu diketawain tetangga. Sial banget dah tuh!!! Serangkaian kesialan ini seharusnya cuma ada di sitkom, situasi komedi yang memang berniat memancing tawa penonton atas segala kesialan yang menimpa sang tokoh.

Tapi pernahkah hal ini terjadi dalam kisah nyatamu? Pernahkah kau mengalami kesialan yang berubi-tubi? Ayo ceritakan di sini pengalamanmu itu. Sebab ternyata ini bukan hanya sebuah sekenario sitkom. Dalam kehidupan nyata semua hal ini mungkin bisa terjadi. Bahkan aku dan Mel adalah saksi hidup terhadap fenomena gaib kesialan beruntun ini.

Yang bener neh? serius? sumpah? emang ada yha? masa seh? ntar boong lagi?. Ssssttt, makanya dengar dulu ceritanya. Ini kisah nyata, nggak dibuat-buat...

Pada suatu malam yang pekat, aku dan Mel pulang kerja dengan menggunakan sepeda motor. Kami bernyanyi gembira mulai dari lagu Hill The World-nya Jacko sampai lagu Belah Duren-nya Jupe. Tiba-tiba motor kami doyong ke kiri dan kanan. Hatiku bertanya-tanya, ada apa gerengan? Huh! Ternyata ban motor kami bocor, padahal saat itu aku dan Mel membawa sebuah dus besar yang berat berisi buku-buku cetakan kantor.

Terpaksa aku harus mendorong motor ke pinggir, dan Mel menopang kardus besar nan berat itu. Nah, penderitaan tak cukup sampai disitu, serta merta hujan turun bercampur geledek. Langsung deras dan membasahi tubuh beserta dus besar yang kami bawa. Waduh!!! Aku bergegas lari memanggul dus besar menuju sebuah kios agar buku yang ada dalam dus besar itu tidak basah. Setelah mengamankan buku, aku mendorong motorku ke tepi. Tukang tambal ban! Aduh di mana dia??? Aku bertanya-tanya kesana-kemari.

"Ada tapi jaraknya satu kilo." Kata tukang rokok.

Aku berjalan mendorong motorku, sekuat tenaga. Mel aku tinggal di kios besama dengan sedus buku. Aku membuka bagasi motor berniat mengambil jas hujan, tapi ternyata jas hujanku ketinggalan di rumah, so aku terpaksa hujan-hujanan.

Ban motorku ternyata bukan bocor, tapi robek. Jadi harus ganti ban. Tukang tambal ban-nya aseeeeeem banget, masa dia ngasih harga ganti ban ampe 50 ribu. Huh! Mentang-mentang saat itu hujan deras. Kalau ingat jadi pengen pentung kepalanya deh!

Setelah selesai berurusan dengan tukang tambal ban, aku menjemput Mel. Hujan deras telah redah namun bajuku basah kuyup hingga membuat aku mengigil. Aku hendak menaikkan sedus besar buku ke motorku, tapi emang dasar sial, akibat kedinginan aku jadi limbung. Tanpa sengaja dus besar itu jatuh dari tanganku dan tenggelam di genangan air yang akhirnya membasahi seluruh buku yang aku bawa. Hikh hikh hikh, ampun deh berarti aku harus ganti 400 ribu. Huaaaaaaa mami!!!!!

"Sabar, tabah, tawakal adalah kunci ketenangan" kekasihku mengingatkan. So, akhirnya aku lanjutkan perjalanan pulang. Namuuuun, sesampainya di rumah ternyata rumah kami gelap gulita akibat mati lampu. Hikh hikh hikh. Yang membuat aku tambah sedih adalah kamar kami kebajiran akibat genangan air yang tak tahu mau disalurkan ke mana. Hikh hikh hikh. Jadi malam itu aku mengigil kedinginan, kegelapan dan kelelahan.

Pernahkah? pernahkah oh pernahkah hidupmu seperti ini???

Dulu juga pernah, saat aku dan Mel sangat sangat sangat membutuhkan uang untuk membetulkan rante motor yang putus. Saat itu kami sama sekali nggak punya uang, jadi kami perlu mencari ATM. Setelah meninggalkan motor di bengkel aku dan Mel jalan kaki mencari ATM secara kami nggak punya uang buat ongkos ke ATM, nyari taksi nggak ada, ojek pun tak nongol-nongol.

Dengan sabar kami berjalan bergandengan tangan, sampai kurang lebih 1 kilo meter kami baru menemukan Alfamart dan memutuskan untuk ambil tunai BCA. Tapi syaratnya kami harus belanja minimal 20 ribu terlebih dahulu. So segala macam makanan yang nggak jelas jadi terpaksa dipilih, yang penting bisa tarik tunai. Setelah semua barang discan dan siap untuk dibayar, ternyata eh ternyata kartu ATM-ku ketinggalan di kantor. Hikh Hikh Hikh.

Bagaimana ini? SOS!!! SOS!!! Oh Iya, telepon saudara? suruh datang bawain uang! Siiiip, tapi pas aku mau telepon, tiba-tiba operatornya dengan enteng bilang, "Sisa pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini." Hikh. Bagaimana dengan HP Mel? Sumpaaaaaaaah, HP-nya lowbat dan mati total jendral. Hikh Hikh Hikh

Maluuuuuuu.... malu sama siapa? yha sama Mbak kasir Alfa-nyalah, secara aku dan Mel mau nggak mau harus mengembalikan semua barang-barang belanjaan ke raknya semula. Malu sama tukang bengkelnya juga, secara saat itu aku jadi terpaksa ninggalin KTP dan baru menyelesaikan pembayaran besoknya. Maluuuuu...

Hikh hikh hikh...

Pernahkan, pernahkah or pernahkah, kesialan datang kepadamu bertubi-tubi seolah-olah kamu adalah bulan-bulannya mereka? Kalau kamu pernah, yuk berbagi cerita di sini. Siapa tahu justru kesialanmu dulu membawa tawa bagi kita semua hari ini. So, apa pengalamanmu???

Sebab Tuhan mampu mengubah berbagai penderitaan yang berhasil dilewati umat-Nya menjadi sebuah senyum dan tawa ketika sang umat mengingatnya kelak.

Senin, Agustus 31, 2009

Horeeee, Sekolah Lagi!!!


Aku memang bodoh dan tak berhikmat. Tapi entah mengapa Tuhan selalu membuka jalan bagiku untuk mengenal orang-orang hebat. Kemarin, saat rapat pleno, boss memperkenalkan aku pada orang-orang besar yang bergerak dalam bidang pendidikan. Mereka adalah para pendidik, para guru besar, para pemilik sekolah dan para motivator. Biasanya aku hanya mengenal mereka dari majalah, surat kabar, internet atau televisi. Tapi, ajaib! Kemarin aku duduk semeja makan dengan orang-orang hebat itu.

Aku yang sebenernya adalah perempuan pemalu (hehehehe), jadi merasa makin kecil di antara para pembesar. Mereka berbicara mengenai pendidikan di Indonesia. Tentang baik dan buruk, tentang langkah dan strategi, tentang visi dan misi. Dan aku hanya terpaku melihat ide-ide segar yang muncul dari otak brilian mereka. Saat itu aku bagaikan seekor kecebong di sebuah danau yang luas.

Kusadari aku ini bodoh dan tak berpengetahuan. Otak ini masih lapar ilmu, jiwa ini masih haus pengajaran. Aku jadi ingin mengisi sepanjang hidupku dengan belajar. Aku ingin secerdas mereka yang bisa memberi hikmat besar kepada orang yang butuh hikmat.

Aku ingin menyulap impianku yang masih mengambang di udara menjadi nyata. Aku ingin membawa bintang yang menggantung di langit turun ke pangkuanku. Aku ingin menyulam gulungan benang menjadi baju hangat. Aku ingin wujudkan semua mimpi, harapan dan khayalanku menjadi sebuah kenyataan yang tercapai.

Jadi untuk semua alasan itu, aku putuskan untuk sekolah lagi. Horeeeeeeee!!!

So, thanks buat semua orang yang telah mewujudkan impianku. Tanpa kalian, maka impianku hanya mampu menari dalam dunia khayal.

Selasa, Agustus 25, 2009

Selama Kau Besertaku, Ku Melihat Ada Mujizat Setiap Hari


Kami berhadapan, malam itu terasa begitu kelu. Keremangan yang tercipta dari lampu tidur tetap memampukanku melihat matanya yang berkaca.

"Kenapa kamu bohongin aku? Kenapa kamu baru cerita sekarang?" Aku hanya menunduk saat jutaan pertanyaan dihantamkan Mel kapadaku. Matanya penuh kepedihan dan amarah. "Hon jawab! Kamu pikir aku ini siapa? Aku bukan orang penting yang perlu tahu tentang semua masalah kamu? Kenapa aku harus tahu dari orang lain?"

"Aku cuma nggak mau menambah beban pikiran kamu."

"Beban pikiran apa? Hon justru beberapa minggu ini pikiranku terbebani oleh berbagai pertanyaan ada apa dengan kamu. Aku orang yang paling dekat dengan kamu. Tentu aku tahu kalau beberapa minggu ini kamu gelisah. Aku juga tahu kalau hampir tiap malam kamu terbangun hanya untuk berdoa dan menangis."

"Maaf yah, sekarang aku memang udah nggak berguna. Kamu boleh tinggalin aku."

"Gimana caranya? Ajari aku caranya Hon. Selama bersama kamu, kamu sudah ajarin aku banyak hal. Kamu ajarin aku bagaimana mencintai dengan tulus, bagaimana menjaga kesetiaan dan memberikan kejutan-kejutan romantis. Tapi kamu nggak pernah ajarin aku gimana caranya untuk meninggalkan kekasih saat ia menghadapi masalah, karena selama ini kamu selalu ada buat aku dalam suka dan duka. Jadi aku nggak bisa melakukannya."

"Tapi sekarang aku bukan siapa-siapa dan nggak punya apa-apa buat kamu."

"Aku cinta kamu bukan karena aku melihat siapa kamu, tapi karena aku melihat siapa aku saat bersama kamu. Cuma kamu orang yang membuat aku merasa berharga Hon."
Aku memeluk Mel erat. Air matanya membasahi punggungku.

Tetesan air ikut meleleh dari mataku, "Thanks Beib. Thanks buat kesetiaan kamu."

Tangan lembutnya memegang kedua pipiku, ia menatapku berkali-kali, "Aku cinta kamu Honey. Pegang dan jadikan itu sebagai kekuatan untuk kamu hadapi semua masalah ini."

Sepuluh kali dalam sehari Mel mengucapkan kata cintanya. Hari itu tujuh belas bulan kamu berpacaran, itu berarti sudah lebih dari lima ribu kali telingaku mendengar ucapan cintanya. Tapi malam itu, kata cinta diucapkan dengan cara yang berbeda. Kata cintanya dikumandangkan dalam sebuah kesejatian yang mampu membuatnya menerimaku apa adanya. Malam itu, cintanya sangat menyejukkan hatiku dan memberi kekuatan pada jiwaku yang telah berlama lemah.

"Hon, hanya orang-orang yang dipandangan-Nya kuat yang akan diberikan cobaan berat. Semua untuk mengangangkat dan memurnikan iman kita. Seperti katamu, Tuhan tidak pernah jahat karena Tuhan tidak pernah bisa berbuat jahat. Sabar ya. Kita hadapi bersama." Mel menarik tanganku dan membawanya dalam lipatan tangannya.

Kami berdoa dalam malam yang hening itu. Hatiku meresapi segurat rasa damai, syukur, pasrah dan berserah. Sebait lagu bergema di hatiku.

Tiada berubah kuasa namaMu
Tiada berkesudahan kasih setiaMu
Pabila Tuhan sudah berfirman
Maka semuanya jadi

Selama kumenyembahMu
Kupercaya bahwa mukjizat masih terjadi
Selama Kau besertaku
Ku melihat ada mukjizat setiap hari


Tuhan, malam itu aku telah melihat mujizat-Mu dalam diri kekasihku. Terima kasih karena telah menganugerahkannya kepadaku.

Senin, Agustus 24, 2009

Abang dan Ramadhan


Bulan Ramadhan adalah bulan sejuta warna. Kampung menjadi berubah nuansa dalam sekejap. Dalam keteduhan pagi, para pemuda sudah berbaik hati membunyikan kelontongan untuk membangunkan sahur. Aku suka pada segerombolan pemuda yang lewat dengan ember atau galon yang dipukul bersahutan. Sambil teriak, "Sahur, sahur... sahur sahur..."

Saat gerombolan melewati depan rumahku, aku dan Mel segera keluar rumah untuk menyaksikan mereka. Mereka berhenti sejenak saat melihat kami.
"Kak Den, mau ikutan puasa ya? Jam segini sudah bangun."
"Nggak ikutan puasa kok. Cuma mau ikutan sahur. Hehehehehe."

Mereka berlalu, setelah menerima sekotak kue pia dari kami. Suara ramai berubah menjadi sayup. Rumah kami kembali hening. Aku jadi teringat abangku. Lelaki yang seayah dan seibu denganku, pasti sekarang ia sedang mempersiapkan menu sahurnya. Dulu di pagi buta bulan Ramadhan biasanya aku, abang dan ibu selalu gaduh di dapur mempersiapkan menu sahur buat abang. Ibu memasak ini itu, abang membuat susu dan aku sibuk mencicipi makanan buatan ibu dan susu bikinan abang. Kenangan itu membuatku segera menelepon abang.
"Halo, lagi apa lo?"
"Hahahaha, cewek geblek tumben lo bangun pagi. Gue lagi masak buat sahur."
"Sahur pakai apa?"
"Ini cuma goreng nugget doang, susah seh nggak ada mama."
"iya lo kebiasaan dimanja mama seh. Makanya cepet kawin Ko."
"Emang lo kira nyari bini gampang? Cariin dong yang cakep dan baik kayak bini lo."
"Hahhahaha, dia mah stoknya dah abis. Dah nggak diproduksi lagi."
"Hahahaha."
"Oke deh Ko. Yang lancar ya puasanya. Jangan marah-marah dan tepe-tepe melulu."
"Oke oke boss."

Si abang mengingatkanku pada tiga Ramadhan silam saat di hadapan semua keluarga dia dengan yakin mengatakan, "Saya sudah jadi muslim." Saat itu seisi keluarga terkejut. Tapi tidak ada yang marah, tidak ada yang menghakimi, dan tidak ada yang menuduh. Kami semua hanya diam hingga suaraku memecahkan kesunyian, "Nggak apa-apa ko, yang penting jalanin aja baik-baik."

Ayahku juga ikut menimpali, "Iya jadi umat beragama yang baik." Ibuku yang sedari tadi diam jadi ikut angkat bicara, "Berarti besok kamu puasa ya? Mama mesti bangun pagi nih. Padahal rencananya besok mama mau bangun jam 11 siang. Hahahahahha."

Kami sekeluarga tertawa. Sejak saat itu kami hidup dalam perbedaan keyakinan dengan saling menghormati satu sama lain. Tanpa sinis, marah, benci atau kecewa. Entah apa yang dipikirkan ayah dan ibuku? tapi aku yakin bahwa mereka memiliki pemikiran yang sama denganku, yaitu bahwa semua orang berhak untuk menentukan jalan hidupnya masing-masing, asal tetap berjalan dalam kebenaran, asal jangan menjadi sampah masyarakat, asal jangan merugikan orang lain.

Dan ternyata si abang pun punya pemikiran yang sama. Seperti saat aku berhadapan dengan abangku dan berkata, "Aku dan Mel pacaran.", maka ia menjawabku dengan jawaban yang senada, "Emang kenapa? Nggak apa-apa kok. Jalanin aja baik-baik."

Selasa, Agustus 18, 2009

Hari Kemerdekaan: Berbagai Perlombaan dan Maknanya


Hari kemerdekaan Indonesia biasanya dirayakan dengan serangkaian perlombaan. Kemarin aku dan Mel juga mengadakan serangkaian perlombaan untuk anak-anak. Mereka bergembira, bersemangat dan bersukaria. Tahukah kamu bahwa ternyata perlombaan-perlombaan yang biasa diselenggarakan ternyata memiliki makna?

Apa maknanya? Dari hasil perenungan aku dan Mel di pinggir kali Ciliwung sambil rebutan makan combro, maka didapat kesimpulan bahwa:

Lomba makan kerupuk adalah lambang perjuangan untuk menggigit, merebut dan menghabiskan. Kerupuk diibaratkan sebagai tantangan hidup yang harus kita lawan dan taklukan. Sehebat apa pun kerupuk bergoyang pada talinya, tapi agar bisa disebut sebagai juara, mulut kita harus bisa mendapatkan dan memakannya hingga habis. Sama dengan hidup ini, sehebat apa pun masalah dan ringtangan yang menghadang langkah kita, jangan pernah lari dari masalah, hadapi, kalahkan dan telan agar segala rintangan mampu kita taklukan. Dan saat kita mampu menaklukan rintangan, maka kita disebut sebagai pemenang. So, taklukanlah!

Lomba tarik tambang adalah lambang perjuangan untuk menyatukan hati, menggalang kekuatan, dan mempertahankan posisi. Dalam hidup ini, tidak ada manusia yang mampu berdiri sendiri. Manusia adalah lemah. Dan dalam kelemahan manusia butuh sesama yang mampu menopang dan memberi kekuatan sehingga manusia mampu bertahan pada posisinya semula. Maksudnya, mereka tidak menjadi jatuh, ambruk dan amburadul karena ada sahabat-sahabat sejati yang senantiasa menjadi penopang, penasehat dan penolong. So, bersahabatlah!

Lomba panjat pinang adalah lambang perjuangan untuk bahu-membahu membuat formasi untuk mengapai hadiah yang digantung di tempat tinggi. Orang yang berhasil adalah orang yang memiliki cita-cita sebab cita-cita akan menjadi motivator kuat yang akan mendorong manusia berjuang mencapai keberhasilan. Hadiah-hadiah yang menggantung di puncak tiang pinang adalah ibarat sebuah cita-cita yang perlu kita gapai. Memang tidak mudah, licin dan penuh rintangan. Tapi dengan membangun relasi yang baik dengan sesama, berteman dengan orang-orang yang membangun, menolong dan menopang (bukan berteman dengan orang-orang yang menjerumuskan kita pada kejahatan) akan membuat langkah kita menjadi lebih mudah untuk menggapai cita-cita. So, gapailah!

Lomba joget balon adalah lambang perjuangan untuk tetap menghibur penonton meski kita sendiri tengah susah payah berjuang mempertahankan balon agar tidak terjatuh. Ini adalah pekerjaan sulit ketika kita mesti harus menjadi penghibur bagi sesama, padahal kita sendiri sedang menghadapi masalah dan butuh dihibur. Memang sulit, tapi kalau kita mampu menjadi "pejoget balon" sejati, maka kita adalah orang yang benar-benar hebat. Ingat, seseorang yang hebat adalah orang yang mampu membuat orang lain tertawa, meski sebenarnya dia sedang menangis. Membuat orang lain bahagia adalah sebuah ibadah. Jangan pernah tunjukan kesedihanmu jika itu akan membuat dunia di sekelilingmu menjadi bersedih. Bawalah kebahagiaan senantiasa sehingga dunia di sekelilingmu akan bersuka karena kehadiranmu. So, bergembiralah!

Lomba masukan pensil dalam botol adalah lambang perjuangan untuk fokus pada lobang. Ini neh yang aku nggak demen, kalau ngomong lobang langsung deh tuh mata pada melotot. Maksudnya lobang yang di botol itu loh. Nah, kalau kamu mau hidupmu sukses, kamu mesti fokus dengan apa yang kamu kerjakan. Fokus juga berarti ketekunan. Tidak ada orang yang berhasil kalau hidupnya tidak difokuskan kepada goal yang ingin dicapai. Jadi walaupun terjadi gluduk, gempa, sakit hati, putus cinta. Kita mseti tetap semangat mencapai tujuan. Jangan biarkan patah hati membuatmu menjadi patah arang, tidak mau kuliah, berenti kerja, nggak mau makan dan sulit buang air besar. Hidup harus berjalan. Fokuskan pikiranmu pada tujuan. So, fokuslah!

Lomba balap karung adalah lambang perjuangan untuk semangat mencapai garis akhir dengan sekuat tenaga, meski berkali-kali jatuh tapi akan bangkit lagi. Manusia yang gagal adalah manusia yang tidak mau bangkit dari kegagalan. Gagal dan berhasil adalah masalah biasa, hanya saja bagaimana kita melewati serangkaian kegagalan dengan tekat dan semangat untuk berhasil? Seperti pembalap karung, saat mereka terjatuh mereka akan bangkit lagi dan melompat hingga ke garis finish. Mungkin saat ini kamu gagal, tapi jangan berhenti. Bangkit, semangat dan gapai garis finish. Tunjukkanlah bahwa kamu bisa, tidak peduli jadi juara atau tidak yang jelas gapai garis finish itu sebab dunia yang kejam ini akan menjadi jinak kepada orang-orang yang mampu menaklukannya, kepada orang-orang yang pantang menyerah. So, bangkitlah!

Lomba membawa kelereng dengan sendok adalah lambang perjuangan untuk menjaga agar kelereng yang dimiliki tidak jatuh. Nah kalau boleh aku tarik maknanya pada dunia lesbian kita, maka dapat aku umpamakan kelereng sebagai parner, dan sendok adalah cinta dan kasih sayang kita. Kita yang perlu menjaga partner agar tidak keluar dari cinta dan kasih sayang kita. Rintangan dan godaan buat selingkuh dan berpaling memang besar. Sebab percintaan seperti kelereng yang menggeliat di ujung sendok, siap jatuh kapan pun mereka mau. Tapi ketenangan, kesetiaan dan kesabaran akan membuat kita mampu mempertahankan partner hingga ke garis finish. So, pertahankanlah!

Hehehe, itulah berbagai perlombaan dan maknanya menurut versi De Ni dan Mel. Bagaimana menurut versi kamu???

Jumat, Agustus 14, 2009

Gara-gara Pantat



Kemarin aku dan Mel ketemu cowok geblek. Gimana nggak disebut geblek, bayangin aja masa tuh cowok ngajak aku ribut di jalan. Sebenernya seh mungkin karena dia kira aku cowok dan dia cemburu gara-gara aku ngeliatin pantat ceweknya.

Jujur, sumpah dan suer aku mah nggak maksud ngeliatin pantat ceweknya. Aku dah bosen sama pantat. Lah wong pantat biniku juga diliatin nggak abis-abis. Tapi berhubung pantat ceweknya keliatan ampe belahan pantatnya padahal itu di jalanan umum, ya tentu secara otomatis langsung jadi pusat perhatian orang.

Sebenernya seh hampir semua cowok juga pada ngeliatin pantat ceweknya itu. Tapi nggak ada kayak aku yang motornya ampe ngikutin di belakang motor tuh cowok. Eits sebenernya seh bukan ngikutin, emang jalanan lagi macet jadi secara kebetulan aku di belakang motornya secara continue. Pertama-tama tuh cowok ngeliatin dari kaca spion, terus mungkin dia mikir aku cowok jadi langsung deh cemburu buta karena dia mikir aku nepsong ama pantat ceweknya. (Yaelahhhhhhh Bro, Please deh!!! Nggak liat apa neh gue juga lagi bonceng cewek cakep yang lebih bohay). Tuh cowok kayak kesundut api aja, tiba-tiba dia langsung ngajak ribut berkali-kali. Dia tambah kesel karena aku cuekin. Ulahnya makin menjadi, dia ngepot-ngepot dan beberapa kali mau nabrak kami. Untuk aja aku rada jago ngeliuk, kalau nggak mah kemarin kami udah nyusruk. Tepuk tangan untuk om De Ni!!!

Di tengah jalan kami dicegat, motornya langsung malang di depan motor kami. Kami disuruh turun dan langsung ngajak ribut. Aku kesel banget dan pengen ikutan adu otot. Cuma aku mikir karena aku cewek pastilah aku kalah kalau adu jotos. Akhirnya aku cuma teriak "MAU APA SEH LO???"

Teriakanku mungkin melengking banget. Kalau ibarat paduan suara teriakanku tuh termasuk golongan sopran. So tuh cowok langsung sadar kalau aku cewek yang manis dan imut. Pas dia tahu aku cewek, dia langsung malu banget. Nunduk, dan langsung tancap gas. Dasar Geblek!!!

Si Mel yang dari tadi mules karena ketakutan jadi lega. Tapi aku tetep kesel, dongkol rasanya ketemu cowok model gitu. Kekesalanku ampe terbawa ke rumah. Di rumah aku diam aja, nggak mau ngomong. Kerjaanku cuma bolak-balik buku cerita anak dan langsung tidur.

Tadi pagi si Mel cekikikan nyeritain apa yang terjadi semalam ketika aku tidur. Aku ngigo. Ya, aku memang suka ngigo apalagi kalau ada kekesalan dan masalah yang mengganjal, pasti kebawa-bawa ampe mimpi. Dan inilah isi igauanku, yang menurut Mel aku ucapkan secara berturut-turut,
"Apa Lo? Ayo ribut sini."
"Sini lo kalau berani."
"Lo pikir gue takut sama lo???"
"Biar lo cowok juga gue nggak takut."
"Ayo ribut!!!"
"Loh kok lo keroyokan??? Jangan main keroyokan dong."
"Ampun, ampun!!!"
"Tolong, tolong, tolooooooooong pak polisi."
"Ambulance ambulance dong!!!."
"Aduh, aduh, aduuuuhhhh sakiiiit."

Berdasarkan monolog igauanku bisa disimpulkan bahwa dalam mimpi itu aku jadi berkelahi dengan tuh cowok, tapi karena dia main keroyokan aku jadi babak belur sehingga aku minta tolong sama polisi. Lalu aku dibawa ke rumah sakit pakai ambulance. Dan kayaknya aku menderita banget deh. Kayaknya benjol, bonyok atau patah tulang gitu.

Aduuuh, syukur deh kemarin nggak jadi berantem. Ngeri uey!!

Tuhan memiliki berbagai cara untuk membuat umat-Nya sadar akan kasih dan perlindungan-Nya. Tanpa mimpi aku tidak akan pernah memahami bahwa kemarin Tuhan telah meluputkan aku dari celaka.

Kamis, Agustus 13, 2009

Dengan Imanku


Dunia ini fana, maya dan abstrak. Kehidupan adalah misteri yang sulit diterka. Kita dan semesta yang memenuhi dunia adalah ketidakjelasan. Siapa yang mampu menerka apa yang terjadi hari ini atau apa yang akan terjadi besok? Manusia yang baik maupun jahat datang dalam hidup kita tanpa bisa kita terka.

Dunia tidak memiliki nilai absolut mutlak. Dunia labil dan berjalan semaunya. Terkadang kita menjadi korban dari sebuah kelabilan. Kadang kita bisa nangis dan dalam sekejab tangisan berubah jadi tawa. Mampukah kita menerka kapan kita menangis dan kapan kita akan tertawa? Semua adalah misteri.

Dalam dunia yang fana aku mengenal kata iman. Iman kepada Tuhan. Iman yang artinya bukan hanya percaya sepenuhnya kepada Tuhan, tapi juga berserah kepada kedaulatan Tuhan yang absolut. Iman adalah percaya dan berserah, percaya dan berserah kepada kebijakan Tuhan, percaya dan berserah kepada kebaikan dan pertolongan Tuhan.

Sebab hanya percaya dan berserah yang mampu menjadi pandu dalam sesatnya dunia. Hanya percaya dan berserah yang mampu menjadi pelita dalam kekelaman hidup. Hanya percaya dan berserah yang mampu menjadi benteng kekuatan dalam kerapuhan jiwa.

Dalam menjalani hidup ini aku ingin memliki iman yang penuh. Tanpa bimbang dan ragu, tanpa tanya dan curiga. Aku ingin membiarkan Tuhan menuntun hidupku sepenuhnya. Sebab hanya dalam tangan-Nya jiwaku berserah dan hanya dalam dekapan-Nya hatiku percaya.

Tuhan, jadilah pandu, pelita dan benteng hidupku. Tuntun aku dalam melewati semua pencobaan ini. Bawa aku memahami makna ikhlas dan tabah.

Dengan imanku air mata t'lah lenyap
Dengan imanku semua berlalu
Gunung-gunung kesusahan
Gunung-gunung pencobaan
Dengan imanku semua berlalu