Selasa, Desember 23, 2008

Sayur Bayam dan Ayam Balado Untuk Bunda


Bunda hari ini aku masak di dapur. Seperti biasa, seperti tahuh-tahun lalu di mana ragamu masih ada di dunia ini. Maka aku kudedikasikan hari ini untukmu. Aku memasak sayur kesukaanmu. Bayam berkuah yang ditaburi parutan jagung, dan beberapa potong ayam balado mendampingi.

Bunda hari ini aku memasak dengan sempurna. Masakannya begitu lezat. Sayur bayamnya segar, dan ayam balado itu loh Bunda, pedasnya pas dengan seleramu. Tapi Bunda, coba lihat tanganku. Aku terkena cipratan minyak panas saat menggoreng ayam. Duh, aku ingin menangis. Untung aku mengingat tentangmu Bunda. Sejak menikah dan membesarkan anak-anakmu, entah sudah berapa tetes minyak panas yang melepuhkan tanganmu. Ah Bunda, saat kupandang dirimu, kusadari bahwa aku hanya setetes air di tengah samudra.

Jadi kau pasti tahu untuk siapa aku memasak, untukmu. Bukankah ini sudah menjadi ritual tiap tahun pada hari ibu? Setiap hari ibu, aku selalu bangun pagi-pagi, memasak, membersihkan rumah, mencuci, menyetrika dan memberi pijatan lembut untukmu. Bunda tahu kenapa? Karena aku sangat mencintaimu.

Tapi, aku tidak menemukanmu hari ini. Seperti tahun-tahun lalu, kau selalu duduk gelisah di ruang tamu menungguku memasak. Dengan gairah kau mencicipi masakanku dan dengan senyum kau akan bilang, "Luar biasa enak loh Neng!." Ah, aku tahu kau bohong, sebab setelah kucicipi, masakanku terasa sangat hambar. Mungkin kurang garam. Tapi aku tahu kenapa waktu itu kau memujiku? Karena kau sangat mencintaiku.

Kau tidak menemuiku hari ini. Entah di surga kau sedang berpesta apa. Sedang menaikan kidung bagi Tuhan kah kau? Atau sedang berjalan mengelilingi danau pelangi yang bertanah emas? Yang jelas ada jarak di antara surga dan bumi, di antara aku denganmu. Jarak yang sangat jauh. Namun sejauh apapun jarak yang membentangi kita, kau tidak pernah lalai mengirim cinta dan kasih sayang sehingga aku merasa kita begitu dekat.

Bunda, di ruang tamu ada seorang perempuan tua. Kulitnya sudah keriput, tapi begitu lincah. Dia adalah "mertuaku," mamanya Mel, "menantumu" itu loh. "Mertuaku" itu sangat baik bunda. Dia merawat dan mengasihiku seperti yang ia lakukan pada Mel. Bolehkah aku berikan sayur bayam dan ayam balado ini kepadanya juga Bunda? Yha aku tahu kau pasti jawab boleh. Karena dia juga adalah seorang ibu. Sekarang dia juga adalah ibuku.

Jadi, aku ingin menjadikan hari ini berbeda Bunda. Aku, kau, perempuanku dan mertuaku. Aku ingin kita duduk bersama. Kita bersama makan sayur bayam dan ayam balado buatanku. Aku berharap masakanku mendapat puji darimu Bunda. Aku harap makanan itu habis terlahap.

Selamat Hari Ibu Bunda. Aku cinta padamu!

Rabu, Desember 17, 2008

Dapatkah Kubalas Kebaikan-Mu Tuhan?


Tuhan, mereka mengajariku cara membalas kebaikan-Mu, tapi aku tahu, aku tidak akan pernah bisa melakukannya. Terlalu banyak keajaiban yang Kau berikan kepadaku. Terlalu banyak mujizat yang Kau kerjakan dalam langkahku. Terlalu banyak anugerah yang Kau limpahkan dalam hidupku. Sungguh Tuhan aku tak mampu membalasnya.

Sejak aku lahir, anugerah-Mu tidak pernah meninggalkanku. Kau berikan keluarga yang begitu bersinar dalam kesederhanaan. Kau berikan seorang ibu yang tidak pernah mau mengeluh dalam penderitaan terberat sekalipun. Kau berikan ayah yang berbakti bagi keluarganya. Kau berikan aku saudara-saudara yang mengajariku tentang arti hidup. Dalam kasih sayang mereka aku besar. Dalam cinta mereka aku bertumbuh. Jadi dapatkah aku membalas kebaikan-Mu?

Tuhan Kau melimpahiku dengan rahmat-Mu. Kau memberikanku kemampuan untuk menghidupi diri dan keluargaku. Kau berikan aku kesehatan untuk bekerja keras. Kau berikan aku hikmat untuk berkarya. Kau berikan aku talenta untuk membagikan ilmu. Kau berikan aku semangat untuk berjuang. Kau berikan aku ketekunan untuk menghasilkan. Jadi dapatkah aku membalas kebaikan-Mu?

Tuhan Kau menganugerahiku dengan cinta yang penuh. Kau berikan aku hati untuk mengasihi banyak orang. Kau tanamkan belas kasihan untuk aku bertindak dalam cinta. Kau anugerahkan begitu banyak orang yang memperhatikan dan mengasihiku. Kau berikan perempuan yang begitu mencintaiku. Kau hidupi aku dalam lingkup cinta-Mu yang kau nyatakan lewat orang-orang sekelilingku. Jadi dapatkah aku membalas kebaikan-Mu?

Tuhan Kau mengaruniaku belas kasihan. Kau tidak memandangku hina saat dunia melihatku penuh kehinaan. Kau memelukku saat dunia menganiaya. Kau menciumiku saat dunia meludahiku. Kau menyebutku berharga saat dunia memandangku sebagai sampah. Dalam kegagalan Kau berikan aku kekuatan untuk bangkit, dalam keberhasilan Kau tanamkan kerendahan hati. Hidupku menjadi begitu sempurna atas kehadiran-Mu Tuhan. Jadi dapatkah aku membalas kebaikan-Mu?

Tidak! Aku tidak pernah bisa membalas kebaikan-Mu. Kemurahan, kasih, rahmat, pengampunan, cinta dan kasih sayang-Mu begitu melimpah. Aku tak mampu menyelami. Aku tak dapat mengukurnya. Yang aku dapat lakukan hanyalah berusaha membuat-Mu tersenyum, membuat-Mu bangga, membuatmu bahagia. Karena membuat pribadi yang kucintai bahagia adalah sukacita yang tidak ternilai. Aku cinta pada-Mu Tuhan, benar-benar mencintai-Mu.


Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takut akan Engkau, yang telah Kaulakukan bagi orang yang berlindung pada-Mu, di hadapan manusia!
Mazmur 31:20

Jumat, Desember 12, 2008

Salute


Duh, sibuk banget deh dua minggu ini. Semua energi terkuras oleh kerjaan yang banyaknya dah sampai ke tingkat ngeri. Kalau dah sibuk gini yang ada aku jadi bertindak senaknya. Pulang langsung lepas sepatu dan ditaruh sembarangan, kaos kaki dilempar ke kolong meja. Langsung badan direbahkan di lantai. Malas makan, malas mandi, malas ngomong, malas nulis, malas baca, malas nonton. Pokonya malas las las las. Tak ada energi yang tersisa di rumah. Semua energi sudah kuserahkan 100% kepada kantor tercinta.

Tapi untung Mel nggak ikut malas-malasan. Dia dengan gesit merapikan sepatuku, berkejar-kejaran dengan anjing kesayanganku yang lari kesana-sini sambil mengigit kaos kakiku yang bau ikan asin. Dia juga dengan cekatan menyiapkan makan malam, dengan ramah membujuk aku makan. Kalau dah begini sifat manjaku langsung keluar yang endingnya memaksa Mel menyuapiku makan. Setelah makan mataku sudah berat, aku langsung tidur. Tanpa cium Mel, tanpa cuci muka, tanpa gosok gigi, tanpa ganti baju, tanpa mandi, tanpa cuci kaki.

Aku ngerti Mel pasti juga ingin langsung selonjoran. Tapi tugasnya tidak pernah berakhir. Kalau bukan dia yang mencuci piring, siapa lagi? kalau bukan dia yang menyetrika baju kerja kami, siapa lagi? kalau bukan dia yang merapikan rumah, siapa lagi? kalau bukan dia yang mengerjakan tugas kuliahnya, siapa lagi? Dia masih terjaga, masih bekerja hingga larut tiba. Jam 2 pagi perempuanku ini baru tidur. Dan jam 4 pagi dia sudah bangun lagi. Aku baru dibangunkannya jam 6.

Matanya sembab, ada lingkaran hitam yang pekat di sekeliling kelopak matanya. Dia benar-benar lelah. Kekasihku lelah, tapi tak mau mengatakan dirinya lelah. Dia lelah tapi dengan riang menjalankan tugasnya. Dia lelah, tapi tidak membuat dunia menjadi ikut lelah bersamanya. Dia lelah, tapi sebisa mungkin tetap menjadi penyemangat bagi partnernya. Dia lelah, tapi tak mau diistimewakan.

Aku jadi benar-benar malu. Siapa bilang rentan usia 6 tahun membuatku menjadi terlihat dewasa darinya? Mel jauh lebih dewasa dari aku, jauh lebih arif, jauh lebih bijaksana. Untuk semuanya ini kuhadiahkan kata SALUTE untuknya.

Jumat, November 28, 2008

The Way You Look At Me


Sayang, sudah delapan bulan kita bersama, tapi aku masih tergila-gila oleh matamu. Mata yang selalu melihatku secara istimewa. Kau menjadikan aku berharga dalam pandanganmu. Dalam gundah aku menghampirimu karena aku yakin kaulah belahan hatiku yang hilang. Bagaimanakah aku bisa menghapusmu dari hidupku? Bagaimanakah hati dapat berfungsi jika kepingannya hilang? Aku selalu rindu menatap mata dan hatimu karena di dalamnya ada cinta yang memancar. Dalam matamu, dalam hatimu. Aku selalu menjadi pujaanmu sehingga kutemukan kedamaian di dalamnya.

Maka kunyanyikan lagi lagu kesayangan kita. Lagu yang selalu kau putar mengiringi cerita-ceritaku tetang sebuah negeri yang indah dimana aku dan kamu adalah pasangan yang tak terpisahkan. Lagu yang selalu kunyanyikan meski dengan suara sumbang dan permainan piano yang pas-pasan. Lagu yang selalu mengajak kita turun ke lantai dansa.

Aku tahu kau sangat menyukai aku menyanyikannya dalam keheningan. Sehingga dapat kugetarkan jiwamu. Sehingga dapat kusentuh hatimu dan kumanjakan perasaanmu. Dengarkanlah dawai ini. Dan pujalah cinta. Minumlah anggurnya dan mabuklah bersamaku. Kita akan menari bersama malaikat-malaikat cupit yang membusurkan ribuan panah ke hati. Peluklah aku erat. Karena malam ini aku akan membawamu terbang. Pasanglah telinga indahmu. Karena melodi akan kukirimkan ke dalamnya.
The Way You Look At Me
By: Christian Bautista

No one ever saw me like you do
All the things that I could add up to
I never knew just what a smile was worth
But your eyes say everything without a single word

'Cause there's somethin' in the way you look at me
It's as if my heart knows you're the missing piece
You made me believe that there's nothing in this world I can't be
I never know what you see
But there's somethin' in the way you look at me

If I could freeze some moment in my mind
Be the second that you touch your lips to mine
I'd like to stop the clock, make time stand still
'Cause, baby, this is just the way I always wanna feel

I don't know how or why I feel different in your eyes
All I know is it happens every time

Rabu, November 26, 2008

My Prayer


Tuhan... Aku tahu Kau Maha Kasih, maka sadarkanlah aku untuk lebih mengasihi-Mu

Tuhan... Aku tahu Kau Maha Pengampun, maka sadarkanlah aku untuk mengampuni sesamaku

Tuhan... Aku tahu Kau Maha Suci, maka sucikan aku untuk menghampiri-Mu

Tuhan.... Aku tahu Kau Maha Penolong, maka sadarkan aku untuk menolong sesamaku dengan segenap ketulusan

Tuhan... Aku tahu Kau Maha Pemberi, maka sadarkan aku untuk memberi hidup dalam kehidupan ini
Tuhan... Aku tahu Kau Maha Tahu, maka limpahkan aku segala pengetahuan supaya aku dapat membuka jendela ilmu bagi banyak orang.


Tuhan...

Jadikanlah aku berguna
Seperti tujuan-Mu semula menciptakanku.
Untuk membuatku berharga, bukan menjadi sampah
Untuk membuatku terhormat, bukan terbawah

Maka kumohon kepada-Mu Tuhan...

Jadikanlah aku penuntun langkah bagi orang tersesat
Jadikanlah aku tawa ditengah tangis dan senyum di tengah cemberut
Jadikanlah aku pelukan di tengah sumpah serapah, ciuman di tengah ludah
Jadikanlah aku hujan yang membasahi kekeringan
Jadikanlah aku pohon besar untuk menampung banyak peteduh
Jadikanlah aku udara sejuk yang dirindukan dan nafas lembut yang dinantikan
Jadikanlah aku alat-Mu untuk meyakinkan dunia ini bahwa Engkau benar-benar ADA
Ada bukan cuma untukku tapi juga untuk mereka

Amin...

Selasa, November 25, 2008

Kotak Untuk Ranti


Ranti di mana kamu? Hp-mu tidak bisa dihubungi. Berkirim surat pun aku tak tahu entah ke mana. Semua orang di sini mencarimu. Kamu di mana? Apa kamu baik-baik saja? Sebegitu bencikah kamu padaku hingga kau ingin membuangku dari hidupmu?

Ranti kau di mana? Keputusanmu untuk tidak kembali ke Jakarta mungkin menambah sedikit nilai pada hubunganku dengan Mel. Tapi jiwa kemanusiaan yang bercokol di lubuk hatiku membuatku menangis memikirkanmu seorang diri di sana. Ranti, aku adalah kakakmu. Tidak mungkin aku mampu menghapusmu dari hidupku. Aku mengkhawatirkanmu di sana. Sehatkah engkau? Bahagiakah engkau? Apakah kau juga memikirkanku?

Ranti di mana kamu? Semua orang di sini bertanya tentangmu kepadaku. Apa yang harus aku jawab? Haruskah aku berkata kepada mereka bahwa kamu enggan pulang karena tidak ingin mengganggu hubunganku dengan Mel? Alasan macam apa ini? Beberapa hari ini aku sungguh merasa berdosa menjadi L. Kenapa kau harus mencintaiku sebagai seorang kekasih? Mengapa kasih persaudaraan tidak cukup menyejukkanmu? Sakitkah hatimu sekarang? Ketika kakak yang begitu kau cintai dengan segenap jiwa dan raga malah mencintai orag lain. Terlalu sakitkah, sehingga engkau tak mau lagi mengenalku?

Kalau saja aku bisa mencintaimu Ranti. Kalau saja. Tapi sayangnya, aku tidak bisa. Aku hanya mampu mengasihimu sebagai adik. Salahkah aku Ranti? Salahkah kalau cinta itu justru bertumbuh subur kepada Mel. Perempuan satu-satunya yang aku cintai sebagai seorang kekasih. Bencikah kau padaku? Bencikah kau pada cinta yang tumbuh dihatiku terhadap Mel? Bencikah kau pada kesetiaanku terhadap Mel?

Ranti di mana kau sekarang? Maukah kau menengok dan memberi salam kepadaku? Aku ingin meminta maaf padamu. Maaf kalau aku jatuh cinta pada Mel bukan kepadamu. Maaf karena cintaku kepada Mel justru menyakitimu. Maaf kalau cintaku kepada Mel justru membuatmu penuh kesakitan dalam tempat terasing. Mintalah apa pun dariku, maka akan kuberikan, demi menebus semua rasa bersalahku. Tapi jangan minta aku meninggalkan Mel, karena aku tidak pernah sanggup meninggalkan cinta sejatiku.

Ranti di mana kamu sekarang? Maukah kamu pergi ke kota dan berjalan-jalan ke warnet. Maukah kamu membaca tulisanku? Maukah kamu memaafkanku? Maukah kamu berbicara padaku meski untuk yang terakhir kalinya, sekedar untuk mengingatkan agar aku bangun pagi seperti yang biasa kau lakukan dulu?

Ranti, aku rela kau pergi dari hidupku. Tapi beritahu kepada kakakmu ini bahwa kamu baik-baik saja. Bahwa kamu sehat. Bahwa kamu bahagia. Ranti, aku rela kamu pergi dan tidak meninggalkan sejengkal jejak sekali pun dalam hidupku. Tapi satu hal yang aku mohon, jangan benci diriku dan cinta yang tumbuh di dalamnya. Karena cintaku pada Mel suci, sesuci cintamu padaku.

Kubuat sekotak permohonan maaf untukmu
Walau tak tahu harus kukirim ke mana
Di dalam kotaknya kuselipkan kisah persaudaraan kita
Tentang tawa dan tangis
Tentang kata-kata nasehat
Tentang marah dan omelan
Tentang kecewa dan larangan
Tentang kesakitan dan kebencian
Tentang maaf dan pengampunan
Dalam semua rasa
Kuberanikan diri mengirim kotak ini
Untuk membuatmu tersenyum dan untuk meyakinkanmu
Bahwa persaudaraan adalah ikatan kasih yang paling abadi di dunia ini
Bahwa persaudaraan kita akan kekal

Senin, November 24, 2008

Antara Aku, Kamu dan Pantai Ini


Ucapkanlah seribu alasan kekasihku, mengapa kamu rela menerjang ombak lautan demi menjumpai aku di pantai ini. Maka aku akan mengucapkan sejuta alasan mengapa aku semangat mengarungi samudra luas dengan segala rintanganya demi sampai di pantai ini untuk menunggu kehadiranmu.

Katakanlah kasih mengapa kamu sanggup berdiri di tengah badai hanya untuk memeluk tubuhku erat di pantai ini. Maka suaraku akan tiba di telingamu untuk menceritakan tentang kakiku yang robek terseok dalam perjalanan ke pantai ini untuk menunggu pelukanmu.

Jelaskanlah kekasih mengapa kamu sanggup berjalan di atas api untuk mengecup lembut bibirku di pantai ini, maka aku akan menunjukkan separuh tubuh yang terbakar ketika aku menuju ke pantai ini untuk menerima kecupanmu.

Kau dan aku, datang dari tempat terjauh. Datang dengan segala rintangannya. Untuk berdiri di pantai ini. Saling memandang, jatuh cinta, memeluk, mencium dan berjanji kita akan arungi semua cobaan terberat sekali pun bersama.

Kau dan aku selalu percaya pada kekuatan cinta. Percaya bahwa tidak ada rintangan terberat sekalipun yang mampu mengalahkan cinta kita. Ingat, seberapa besar mereka mengusir cinta yang tumbuh di antara kita? Seberapa keras mereka berusaha menghancurkan cinta kita? Apakah aku dan kamu pergi? Apakah kita mundur? Apakah kita pernah menjauh? Kakimu dan kakiku, langkahmu dan langkahku semakin mendekat pada pantai ini

Lihatlah kasihku. Aku dan kamu terluka, kita berdarah. Tapi pernahkah kita menyerah, memutuskan kembali ke kampung kita dan melupakan tentang pantai ini? Kau dan aku tetap disini. Di pantai ini. Hanya untuk sebuah alasan CINTA.

Rabu, November 19, 2008

Lake of Love


Mari ikutlah aku ke tepi danau. Di sana ada pelangi yang melengkung membentuk busur panah. Mari duduk di rerumputan hijau dan berceritalah kepadaku tentang cinta. Karena kisah-kisah cinta tak akan pernah habis di telan masa. Ada seribu mulut bercerita dan ada seribu kisah bergelinding. Ada seribu kepala berpikir dan ada seribu hasrat cinta bersemangat.

Ceritakanlah kisah cintamu. Dan aku akan mengisahkan kisah cintaku. Cinta yang terlarang. Cinta yang datang dalam jiwa yang ketakutan. Tapi, jangan kau ejek cintaku. Karena dalam keterlarangan cinta menjadi begitu berharga, begitu bermakna. Karena dalam ketakutan cinta malah memberikan hasrat.

Mari duduklah besamaku. Kita makan kue kacang dan kopi hangat. Menghembus udara danau yang semakin riang menyusup ke rongga dada. Berikan kisahmu dan aku akan berikan kisahku. Marilah kita tertawa dan menangis bersama demi kisah-kisah kita. Jangan hina kisahku dan aku tidak akan menghina kisahmu. Jangan puji kisahku, karena semua kisah adalah istimewa. Walau hanya sekedar memberikan sebatang coklat pada hari valentine kepada seseorang yang ditaksir. Tapi kisah itu adalah istimewa.

Marilah bermain perahu bebek ke tengah danau bersamaku. Nikmatilah danau cinta lebih lekat, lebih dalam. Jangan hanya berdiri dipinggiran karena kau takut tenggelam. Tidak, percayalah padaku. Perahu bebek ini aman. Aku pun akan mengenggam tanganmu erat. Lihatlah danau akan menjadi lebih indah saat kau menelusurinya. Cinta bukan untuk dipandang dan dikagumi dari jauh. Untuk tahu seberapa indah dan sakitnya, kau harus naik perahu bersamaku. Kita dan beberapa orang yang turut menyewa perahu bebek yang berwarna-warni akan menjadi penikmat danau cinta ini.

Mari ikutlah aku mengais pedal perahu bebek ini. Dengan sekuat tenaga, dengan susah payah, dengan kenikmatan. Dan mendekatlah padaku, menangis dan tertawalah bersamaku. Menangis untuk lelahnya mengais pedal perahu dan tertawa untuk semua pemandangan danau yang kian indah.

Senin, November 10, 2008

Hidung Hoki


Aku berhasil memenangkan undian 100 juta rupiah. Sumpah, saat aku makan salah satu merk wafer, aku menemukan stiker hologram di dalam bungkusnya. Ternyata di bungkus itu tertera tulisan "Selamat Anda memenangkan 100 juta rupiah." Aku melonjak. Kuhubungi nomer telp customer service produk tersebut untuk meminta kepastian. "Iya benar, berarti Anda menerima 100 juta rupiah, mohon datang hari jumat pagi untuk mengurus administrasinya. Jangan lupa membawa kartu identitas"

Hatiku berbunga-bunga. Aku mulai menari hula-hula sampai jaipong, roll ke depan dan guling ke belakang, salto dari ruang tamu sampai dapur, meloncat riang dari sofa ke tempat tidur, menyikat WC, mencuci piring, mengepel dan betulin genteng. Aku sungguh bahagia. Aku mulai memikirkan untuk apa uang ini akan kubelanjakan, usaha apa yang akan kubuat. Ah, hari-hari menjadi begitu indah. Kopi menjadi begitu nikmat.

Dan tiba hari penyerahan uang. Aku datang pagi-pagi benar, menggunakan kemeja lengan panjang dan blazer. Intinya aku berdandan serapi mungkin, "Kali-kali aja difoto" pikirku. Dengan gemetar aku menandatangai surat tanda terima. Pajak undian dibayarkan oleh penyelenggara undian. Jadi murni aku menerima 100 juta rupiah.

"Oke, sekarang administrasinya sudah lengkap. Dan kami akan memberikan uang tersebut tunai."

Seorang perempuan muda mengambil sekantong coklat yang kutaksir isinya uang. Jantungku mulai dagdigdug seperti kompornya tukang nasi uduk yang meleduk di Ciledug. Beberapa kamera menyorotiku. Seorang pria setengah baya yang adalah direktur utama perusahaan wafer memberikan kantung coklat ke tanganku. Ruangan menjadi begitu meriah, lampu kamera menyala bersautan. Senyum menyembang. Aku merasa menjadi manusia paling hoki sedunia. Mereka menyuruhku memberi kata sambutan yang tentunya direkam oleh kamera. Dan akan disiarkan dalam iklan-iklan di TV, aku akan ngetop.

"Saya bersukur untuk berkat yang saya peroleh hari ini... "
Pidatoku terhenti ketika suara Mel begitu jelas membisik di telinga.
"Say, say, say... say..."

Tiba-tiba, kantung coklat itu hilang dari tanganku, pria setengah baya, perempuan muda, kamera-kamera, keramaian dan gedung putih itu seketika lenyap berganti dengan kegelapan, plafon putih, tempat tidur, kipas angin dan Mel yang barbaring disampingku sambil mengoyak tubuhku keras.

"Say, Say bangun... Say bangun say..."
Aku membuka mataku dengan malas.
"Ah Mel uang kita, uang kita hilang 100 juta"
"Hah?"
"Uh... ternyata cuma mimpi. Aku ngimpi dapat undian 100 juta. Pas nerima uang malah dibangunan. Uh... kamu... Ada apa ngebangunin?"
"Nggak, aku cuma mau bilang hidung kamu tuh hidung jambu."
"Udah gitu doang? Huh! Iya.. iya... selain hidung gede, sekarang bertambah jadi hidung jambu yha?"

Aku membalikan badan kesal, mel memelukku dari belakang
"Say, kata temanku, hidung jambu itu hidung hoki."
"Hah? hoki? Cuma mau ngomong itu?"
"Iya kamu hoki, makanya dapetin aku."
"Hehehehehehe... Iya seh..."

Yha aku memang hoki mendapatkan Mel. Bukan cuma cantik, tapi Mel juga anak baik-baik. Dia juga ibu rumah tangga yang bertanggung jawab. Dia begitu patuh dan hormat padaku. Iya, aku memang hoki. Benar-benar hoki, mengingat ada begitu banyak cowok keren dan mapan yang mengantri untuk mendapatkannya.

"Kalau aku mau dituker sama uang 100 juta kamu mau nggak?" Mel melanjutkan
"Hah? kamu tahu dari mana mimpiku?"
"Kan tadi kamu yang bilang."
"Walaaaah tekor aku, jempol kamu aja 1 milyard."
"Hehehehhe"

Aku berbalik, wajah kami saling berhadapan, kubelai rambutnya lembut. Dengan penuh cinta kuucapkan: "Sayang aku memang hoki banget dapetin kamu."
"Duh say, kamu kok bau banget yha." Mel menutup hidung.
"Uh, enak aja loe. Itu karena mulut loe yang deket sama hidung loe sendiri."
"O, jadi maksud loe mulut gue yang bau?"
Mel berguling menindihku sambil mengepalkan tinju. Persis gaya Mark Walhberg waktu menghabisi lawannya.
"Biar gue tinju neh hidung jambu loe."
"Toloooooooooooooooooooooooong, sumpah punya bini preman kayak loe, gue kagak hokiiiiiiiiii"

Senin, November 03, 2008

Pengabdian

Oleh: Melisa


Malam ini De Ni cepat sekali tertidur setelah ia mencium keningku dan mengucapkan met bobo. Tapi entah mengapa aku belum bisa tidur. Sambil menatapi langit-langit kamar, aku mulai berpikir dan mengingat-ngingat apa saja yang telah aku lakukan hari ini untuk teman-temanku, keluargaku, dan tentu saja kekasihku.


Pagi-pagi benar ketika aku bangun, seperti biasa aku berdoa untuk orang-orang yang aku sayangi. Lalu aku pun mulai sibuk dengan pekerjaan rumah yang harus aku selesaikan. Aku harus mencuci pakaian, mandi, menyiapkan sarapan dan memasak air hangat untuk De Ni mandi. Kami pun dengan cepat melahap sarapan lalu berangkat ke kantor. Dan kami baru bertemu kembali sore hari saat De Ni menjemputku. Sampai di rumah kami beristirahat sebentar, lalu aku kembali menyiapkan makan malam, mandi dan menyetrika baju. Tapi De Ni tetap saja hanya sibuk dengan laptopnya. Setelah tugas ibu rumah tangga selesai, aku bergegas mengerjakan tugas kuliah. Dan setelah semuanya selesai, baru aku bisa tidur. Setiap hari aku menjalani kehidupan yang sama. Sungguh sangat melelahkan, bekerja, kuliah, mengurus rumah dan partner yang manjanya bukan main. Tapi, entah mengapa, aku tidak pernah menggerutu. Rasa lelahku serasa hilang ketika aku menyadari bahwa seseorang yang aku layani adalah orang yang sangat aku cintai. Entah mengapa aku selalu senang melakukan semuanya ini untuk kekasihku.

Seringkali De Ni berjanji menemaniku belajar, tapi dia selalu terlelah oleh pekerjaan kantornya, mengantuk dan langsung tidur. Aku pun tidak tega melihatnya lelah. Aku tidak tega membangunkannya.

Akhir-akhir ini De Ni menjadi manusia sibuk. Mulai dari tugasnya ke luar kota beberapa minggu lalu sampai sekarang. Aku sering mengiriminya sms, dan dia selalu bilang sibuk.

“Pagi sayang, udh jm 7 neh, udah mulai sibuk yah?”
“Iya, sbk.”

“Say, km udh srapan blm?”
“Tar aja.”

“Say, jaga kesehatan yah, met kerja…”
“Iya.”

“Say, dah jm 12 neh, mam yuk…”
“Ntar”

“Say, km lg pa? mang km ngapain ja?”
“Urus registrasi”

“Emm jam 2 neh, km dah mkn blm? Kalo blm mkn dulu ja, minta gantiin sm tman km dlu..”
“Sbk”

Begitulah sms-sms kami sewaktu De Ni di luar kota, dia hanya membalas 3 – 5 huruf,
“tar ja”, “blm”, “sbk”

Aku sempat BT karena hal ini berlangsung sampai 2 minggu. Tiga hari di luar kota dan selebihnya di Jakarta. Tapi aku coba memahami dan menempatkan diri di posisinya. Kalau dia sibuk, aku coba membayangkan betapa banyaknya pekerjaannya. Kalau dia lelah, aku coba mengerti dan membiarkan dia berisirahat.

Aku tidak pernah merasa bahwa harus ada timbal balik di antara kami. Aku tidak pernah berpikir kalau aku melayaninya, maka dia pun harus melayaniku. Tidak!! Aku akan tetap memberikan yang terbaik baginya. Sekali lagi aku katakan aku senang melayaninya. Walaupun dia selalu sibuk, aku yang akan selalu memberikan waktuku untuknya. Aku mengerti mengapa kita harus hidup dengan orang yang kita cinta, yaitu agar kita tidak akan pernah meresa lelah. Sungguh melelahkan melayani seseorang, tapi melayani orang yang dicintai tidak akan pernah memberi kelelahan. Aku tidak pernah lelah karena aku melayaninya dengan cinta. Cinta yang membuatku merasa nyaman didekatnya. Cinta yang membuatku rela melakukan apapun untuknya. Cinta yang akan membuatku tidak akan pernah merasa bosan mengabdi padanya. Cinta yang memberiku kekuatan dan semangat. Cinta yang membuat aku merasa bahagia melayaninya, dan cinta yang membuat aku menuliskan ini: "Kamu sungguh berharga Honey."