
Bagaimanakah cara mengabadikan partner di hati? Kemarin aku berbincang-bincang dengan ayahku. Dia bilang cara mengabadikan kekasih di hati adalah dengan mentatto namanya.
"Neh liat neh papa tatto nama mamamu." Ayahku menunjukkan pangkal lengannya. "Sampai sekarang papa nggak bisa lupa mama. Karena tulisan ini nggak bisa hilang."
"Hahahaha, emang harus dengan cara mentatto yha Pa?"
"Yha terserah, kalau ini caranya Papa. Semua orang punya caranya masing-masing."
Wel, setelah pembicaraan singkat dengan ayahku, aku jadi mulai berpikir tentang berbagai cara yang bisa aku lakukan untuk mengabadikan Mel di hatiku. Tatto? ya, mengukir nama Mel di tubuhku dengan tusukan jarum sehingga membentuk tulisan yang tak akan bisa terhapus sepertinya menjadi pilihan yang menggiurkan. Sesampainya di rumah aku langsung membuka percakapan.
"Say, aku mau tatto badan." Mel yang lagi asik nonton TV langsung memberikan perhatian penuh pada omonganku.
"Tatto? Serius kamu?"
"Iya"
"Permanen apa temporer?"
"Ya permanen dong."
"Kamu mau bikin gambar apa emangnya? Jangan-jangan tikus nying-nying lagi."
"Enak aja. Aku mau tulis nama kamu."
"Nama aku? Nggak salah?"
"Iya nama kamu, biar abadi, biar nggak bisa terlupakan."
"Ciyeeeeeeeeee." Mel malah tertawa geli.
"Aku serius neh Beb." Aku melotot
"Iya iya. Jangan galak-galak dung om. Mau tatto di mana?"
"Nah itu yang aku masih bingung. Emmm... di lengan gimana? atau di punggung?"
"Duh say, kalau kamu pakai tengtop kan jadi keliatan orang dong. Bahaya!!! Jangan di daerah yang kemungkinan bisa dilihat orang deh say."
"Em... kalau di pangkal paha atau di dada gimana? kan nggak mungkin tuh aku berpakaian se-sexy itu?"
"Loh emang kamu rela bagian itu dipegang sama tukang tattonya?"
"Hehehehe, yha nggak seh!!!."
"Nah makanya, cari bagian yang lain deh."
"Di perut gimana???"
"Aduh jangan deh say, perut kamu kan gendut, banyak lemaknya gitu. Ntar bentuk tattonya jadi nggak jelas. Jadi melar-melar gitu. Hehehehe"
"Asem... Yha udah kalau di telapak kaki gimana???"
"Boleh juga tuh. Nggak keliatan orang. Eh tapi kalau kamu tidur gimana??? kan telapak kakinya jadi keliatan. Masa kamu tidur pake kaos kaki terus???"
"Iya yah... Em di mana dong???"
"Ya itu di derah yang kamu bisa buka tutup kapan pun kamu mau deh say."
"Daerah mana tuh??? Nggak ngerti aku."
"Loh kamu pikirin dong say. Pokoknya daerah itu bisa kamu tujukin ke orang yang tepat, tapi juga bisa dengan cepat kamu tutup kalau ada orang yang membahayakan."
"Maksud kamu???"
"Yha kamu pikir dong."
"Em... Yang bisa dibuka dan ditutup dengan cepat seh yha cuma... k e t e k..."
"Hahahhahaha, nah itu ketek. Paling tepat tuh... Bisa ditutup dan dibuka kapanpun kita mau. Hahahahaha"
"Halah, masa bikin tatto di ketek say??? Hiiiiiyyaakkk. Lagian kamu mau aja namanya ditulis di ketekku. dasar!!!"
Aku jadi ingat puisi singkat yang dibikin Jo buat partnernya di tulisan Letter For My Babe
Kutuliskan namamu di atas pasir
Tetapi gelombang menghapusnya
Lalu kutulis di langit angkasa
Tetapi angin meniupnya pergi
Sehingga kutuliskan di dalam hatiku
Dan di sanalah namamu bertakhta selamanya…
Kalau aku jadi mentatto nama Mel di ketekku. Dan kalau kemudian aku adopsi puisi Jo, untuk kupersembahkan kepada Mel, berarti puisi buatan sahabatku itu akan berubah jadi aneh banget. Hikh hikh hikh.
Kutuliskan namamu di atas pasir
Tetapi gelombang menghapusnya
Lalu kutulis di langit angkasa
Tetapi angin meniupnya pergi
Sehingga kutuliskan di ketekku
Dan di sanalah namamu bertakhta selamanya…
O M G !!! Sumpah, Aneh banget!!!
Si Mel menepuk pundakku, "Gimana Say? jadi nggak tattonya?" alisnya diangkat naik turun.
"Nggak deh, nggak jadi bikin tatto. Sereeeem"
Menunjukkan cinta kepada partner nggak perlu dengan cara gila-gilaan yang sebenernya kita sendiri nggak sanggup lakukan. Mendampingi partner dengan setia dalam suka dan duka adalah bukti cinta yang lebih bernilai.








