Senin, Agustus 10, 2009

Tatto


Bagaimanakah cara mengabadikan partner di hati? Kemarin aku berbincang-bincang dengan ayahku. Dia bilang cara mengabadikan kekasih di hati adalah dengan mentatto namanya.

"Neh liat neh papa tatto nama mamamu." Ayahku menunjukkan pangkal lengannya. "Sampai sekarang papa nggak bisa lupa mama. Karena tulisan ini nggak bisa hilang."
"Hahahaha, emang harus dengan cara mentatto yha Pa?"
"Yha terserah, kalau ini caranya Papa. Semua orang punya caranya masing-masing."

Wel, setelah pembicaraan singkat dengan ayahku, aku jadi mulai berpikir tentang berbagai cara yang bisa aku lakukan untuk mengabadikan Mel di hatiku. Tatto? ya, mengukir nama Mel di tubuhku dengan tusukan jarum sehingga membentuk tulisan yang tak akan bisa terhapus sepertinya menjadi pilihan yang menggiurkan. Sesampainya di rumah aku langsung membuka percakapan.

"Say, aku mau tatto badan." Mel yang lagi asik nonton TV langsung memberikan perhatian penuh pada omonganku.
"Tatto? Serius kamu?"
"Iya"
"Permanen apa temporer?"
"Ya permanen dong."
"Kamu mau bikin gambar apa emangnya? Jangan-jangan tikus nying-nying lagi."
"Enak aja. Aku mau tulis nama kamu."
"Nama aku? Nggak salah?"
"Iya nama kamu, biar abadi, biar nggak bisa terlupakan."
"Ciyeeeeeeeeee." Mel malah tertawa geli.
"Aku serius neh Beb." Aku melotot
"Iya iya. Jangan galak-galak dung om. Mau tatto di mana?"
"Nah itu yang aku masih bingung. Emmm... di lengan gimana? atau di punggung?"
"Duh say, kalau kamu pakai tengtop kan jadi keliatan orang dong. Bahaya!!! Jangan di daerah yang kemungkinan bisa dilihat orang deh say."
"Em... kalau di pangkal paha atau di dada gimana? kan nggak mungkin tuh aku berpakaian se-sexy itu?"
"Loh emang kamu rela bagian itu dipegang sama tukang tattonya?"
"Hehehehe, yha nggak seh!!!."
"Nah makanya, cari bagian yang lain deh."
"Di perut gimana???"
"Aduh jangan deh say, perut kamu kan gendut, banyak lemaknya gitu. Ntar bentuk tattonya jadi nggak jelas. Jadi melar-melar gitu. Hehehehe"
"Asem... Yha udah kalau di telapak kaki gimana???"
"Boleh juga tuh. Nggak keliatan orang. Eh tapi kalau kamu tidur gimana??? kan telapak kakinya jadi keliatan. Masa kamu tidur pake kaos kaki terus???"
"Iya yah... Em di mana dong???"
"Ya itu di derah yang kamu bisa buka tutup kapan pun kamu mau deh say."
"Daerah mana tuh??? Nggak ngerti aku."
"Loh kamu pikirin dong say. Pokoknya daerah itu bisa kamu tujukin ke orang yang tepat, tapi juga bisa dengan cepat kamu tutup kalau ada orang yang membahayakan."
"Maksud kamu???"
"Yha kamu pikir dong."
"Em... Yang bisa dibuka dan ditutup dengan cepat seh yha cuma... k e t e k..."
"Hahahhahaha, nah itu ketek. Paling tepat tuh... Bisa ditutup dan dibuka kapanpun kita mau. Hahahahaha"
"Halah, masa bikin tatto di ketek say??? Hiiiiiyyaakkk. Lagian kamu mau aja namanya ditulis di ketekku. dasar!!!"

Aku jadi ingat puisi singkat yang dibikin Jo buat partnernya di tulisan Letter For My Babe

Kutuliskan namamu di atas pasir
Tetapi gelombang menghapusnya

Lalu kutulis di langit angkasa
Tetapi angin meniupnya pergi

Sehingga kutuliskan di dalam hatiku
Dan di sanalah namamu bertakhta selamanya…


Kalau aku jadi mentatto nama Mel di ketekku. Dan kalau kemudian aku adopsi puisi Jo, untuk kupersembahkan kepada Mel, berarti puisi buatan sahabatku itu akan berubah jadi aneh banget. Hikh hikh hikh.

Kutuliskan namamu di atas pasir
Tetapi gelombang menghapusnya

Lalu kutulis di langit angkasa
Tetapi angin meniupnya pergi

Sehingga kutuliskan di ketekku
Dan di sanalah namamu bertakhta selamanya…


O M G !!! Sumpah, Aneh banget!!!
Si Mel menepuk pundakku, "Gimana Say? jadi nggak tattonya?" alisnya diangkat naik turun.
"Nggak deh, nggak jadi bikin tatto. Sereeeem"

Menunjukkan cinta kepada partner nggak perlu dengan cara gila-gilaan yang sebenernya kita sendiri nggak sanggup lakukan. Mendampingi partner dengan setia dalam suka dan duka adalah bukti cinta yang lebih bernilai.

Kamis, Agustus 06, 2009

Miss Watermelon


Cihuuuuuyyy sekarang udah musim lengkeng. Yummmy, aku suka banget sama lengkeng dan kalau udah musimnya begini harga lengkeng jadi pada murah, bahkan ada yang serenceng cuma 5 ribu bo!!!. So tiap hari aku dan Mel jadi pergi ke tukang buah cuma buat beli lengkeng murah.

Seperti semalam, saat pulang kerja aku mampir ke tukang buah langganan. Di sana sudah ada seorang cewek cantik dan adik kecilnya yang lucu lagi milih-milih buah. Aku dan Mel langsung meluncur ke tumpukan buah. Saat ngelewatin cewek cantik itu, aku nggak sengaja nabrak dia. Tuh cewek langsung limbung dan hampir nyusruk ke atas tumpukan jeruk. Ini adalah penyakitku seh, aku paling tidak bisa jalan di tempat-tempat sempit karena aku akan kehilangan keseimbangan dan bisa nubruk siapa aja.

Aku langsung panik dan berkali-kali minta maaf sama tuh cewek, "Duh sorry mbak nggak sengaja. Maaf yha! Mbak, nggak kenapa-napa kan???"

Ternyata permohonan maafku ditolak mentah-mentah, tuh cewek berdiri tepat di depanku dan langsung maki-maki dengan bahasa yang luar biasa kasar. "Lo tuh bego yha??? punya mata nggak seh??? kalau jalan hati-hati dong!!! kalau gue ampe jatoh gimana???" Abis marah-marah, dia langsung balik badan dan mengalihkan perhatiannya ke tumpukan belimbing.

Busyeeeet deh neh cewek!!! Abis makan cacing kali tuh dia!!! Sumpah!!! Aku cuma diam aja lagi. Nggak tahu deh kenapa kalau sama cewek aku nggak berani ngotot (bukan karena dia cantik loh yha) tapi ini sebuah bentuk penghormatan aja, secara mamaku cewek, pacarku juga, anjingku dan tetanggaku juga cewek. Coba yang ngomel itu cowok, wiiih mungkin tuh cowok udah masuk rumah sakit kali, karena jidadnya ketancep kulit duren (hehehehe sadis!!!).

Mel yang dari tadi ngeliatin aku langsung menghampiri dan mengusap punggungku. Dia tahu pasti aku sedih banget diomelin. Aku kan perasaaanya halus, lembut, sensitif dan mudah tersentuh. Si Mel yang emang plegmatis banget juga cuma diam aja, padahal aku berharap dia hampiri tuh cewek dan jambak rambutnya sambil bilang, "Lo apain laki gue??? Gue kasih tahu yha, sekali lagi lo sakitin hati pacar gue, gue cemplungin lo ke kali depan. NGERTI LO???"

Tapi, dia malah cuma bilang, "Sabar yha say. Senyum dong!" Aku tersenyum terpaksa, si Mel langsung lompat kegirangan dan bilang, "Duh kamu cakep bangeeeeetttt!!!" Jadi mirip kayak adegan San Chai merayu Tao Ming Tse yang lagi bete di Taman Hiburan.

"Untung deh aku dapat pacar yang cakep tapi lembut kayak kamu."

Aku dah males mikirin tuh cewek. So, kami langsung beranjak ke tumpukan lengkeng dan milih-milih lengkeng sebiji demi sebiji. Tuh cewek masih mutar-mutar nggak jelas. Adiknya ngikutin dan mulai nanya-nanya,

"Kak kalau grape itu apa kak?"
"Oh itu anggur" Tuh cewek jawab sambil nunjuk serenceng anggur.
"Kalau banana kak??"
"Banana itu pisang." sambil nunjuk sesisir pisang.
"Kalau apple kak?"
"Apple yha apel dong dek." sambil nunjuk sebuah apel merah.

Pas tuh cewek sadar bahwa aku dan Mel memperhatikan pembicaraan mereka, dia langsung cemberut, matanya melotot sinis. Aku dan Mel jadi takut, kami kembali pada tumpukan lengkeng. Nggak lama adiknya nanya lagi.

"Kak kalau watermelon itu apa kak???"

Muka tuh cewek bingung banget, sambil garuk-garuk kepala dia jawab, "Watermelon itu... em anu dek melon air." Sambil nunjuk tumpukan buah melon.

Sepontan aku dan Mel ketawa keceng banget ampe kami keluar air mata sambil geprak-geprak kotak lengkeng. Emang sengaja kami lebay-lebayin, sekalian balas dendam. Hehehehe.

Aku langsung mengambil semangka yang paling besar, menghampiri adiknya tuh cewek lalu bilang, "Dek watermelon itu artinya bukan melon air dek, tapi semangka."

Adiknya senyum, lalu nanya tuh cewek "Iya yah kak???" Tuh cewek cemberut, mukanya merah udah kayak orang kena gampar 38 kali. Dia langsung narik tangan adiknya, "Ayo pulang dek."

Cewek cantik itu ngeliatin aku dan Mel lagi sambil teriak jengkel "SOK TAHU LO SEMUA!!!"

Aku sama Mel cekikikan, rasa jengkel langsung hilang semua, malah Mel melambaikan tangan ramah, dengan lembut dia berkata: "See you miss watermelon!"

Nggak semua masalah mesti diselesaikan pake otot. Cukup otak dan taktik, maka kita mampu menaklukan semua musuh dengan tawa.

Selasa, Agustus 04, 2009

Pertengkaran dalam Rumah Tangga Part 2


Dalam posting kedua tentang pertengkaran dalam rumah tangga, kali ini penyebab pertengkaran kami adalah masalah perbedaan dalam cara menyelesaikan masalah. Mel adalah orang yang yang berprinsip bahwa masalah yang lalu biarlah berlalu, jadi dia paling ogah mengungkit masalah yang sudah lewat. Berbeda dengan aku yang justru lebih senang mengklarifikasi masalah. Jadi, setelah ribut biasanya aku selalu mencari waktu dan tempat yang tepat untuk membahas kembali mengapa pertengkaran bisa terjadi.

Perbedaan dua cara pandang ini akhirnya menimbulkan pertengkaran baru, pertengkaran susulan yang terjadi akibat klarifikasi pertengkaran sebelumnya. Beberapa waktu yang lalu kami bertengkar, masalah seh dah kelar, tapi aku tetep ngajak Mel bicara untuk mengklarifikasi masalah biar tidak ada pikiran jelek dan sakit hati yang tersimpan satu sama lain. So, untuk mengklarifikasi masalah aku mengajak Mel ngobrol sambil makan es podeng.

De Ni: Say, sorry yha soal kemarin. Aku gak sms atau telepon kamu.
Mel : Udahlah Hon, masalah yang udah lewat jangan dibahas lagi.
De Ni: Yha, aku cuma kalirifikasi aja biar nggak ada yang mikir macam-macam
Mel : Nggak kok, ribut mah wajar, yang penting kan aku dah maafin kamu. Jadi nggak usah dibahas lagi yha.
De Ni: Iya, tapi aku cuma pengen kamu tahu bahwa kemarin tuh sebenernya aku udah coba hubungi kamu loh say. Cuma HP kamu mati.
Mel : Iya seh, tapi kan mestinya kamu bisa dong telepon temanku kasih tahu kamu ada di mana.
De Ni: Aku dah telepon temen kamu kok, cuma dia nggak angkat.
Mel : Iya, tapi kan kamu juga bisa telepon kantor, bilang mau bicara sama Mel.
De Ni: Aku nggak tahu nomer telepon kantor kamu, serius deh.
Mel : Ya kamu turun dong dari motor, masuk dan tanya sama satpamnya. Jangan diam aja di pinggir jalan depan kantor. Aku mana tahu kalau kamu dah lama nungguin aku di situ.
De NI: Yha nggak mungkin dong aku ninggal motor, kalau hilang gimana hayo???
Mel : Aduh hon, yha kamu parkirnya jangan di pinggir jalanlah, parkir di basement kantorku dong.
De NI: Aduh repot banget parkir di sana, rame, desak-desakan. Setengah mati naruh motor di situ.
Mel : Yha apa susahnya seh kamu repot dikit. Kasihan dong aku nunggu lama banget di atas.
De NI: Yha udahlah say, masa masalah gini aja dibesar-besarin???
Mel : Loh yang besar-besarin itu siapa? Kan kamu yang ungkit lagi.
De Ni: Aku nggak ungkit kok, aku cuma mau klarifikasi.
Mel : Iya, tapi kamunya jangan sewot dong.
De Ni: lagian kamu seh, masa masalah gini aja aku harus ribet pake parkir motor ke basement segala.
Mel : Yha udah kalau nggak mau parkir. Aku nggak maksa kok.
De Ni: Iya, tapi kamu jangan marah-marah dong. Kemarin tuh aku cape banget tau, jadi aku udah nggak bisa mikir apa-apa.

(Mel berenti makan es podeng, mukanya udah merah)

Mel : Jadi kamu ngajak makan es podeng cuma mau berantem lagi yha? Kalau gitu aku pulang aja. (Mel beranjak dari kursinya. Ribut susulan sedang terjadi)
De Ni: Yha udah kita pulang, tapi bayar dulu es podengnya dong.

(Mendengar kata "es podeng," tukang es podeng langsung ngeliatin dan menjadi penonton setia pertengkaran kami)

Mel : Loh kamu yang ngajak, kamu yang bayar dong.
De Ni: Iya emang aku mau bayar kok, tapi dompetnya kan ada sama kamu. Siniin!!!
Mel : Kamu ambil uang aja di ATM sana!!!
De NI: Loh kok kamu ngambeknya aneh??? Kartu ATM juga kan ada di dompetku.
Mel : Yha udah ngutang aja!!
De NI: Gimana seh masa ngutang??? Mana ada makan es podeng ngutang. Lagian mana boleh sama tukangnya
Mel : Kita kan langganan di sini. Biarin aja ngutang. Pasti bolehlah!!!

Tiba-tiba Tukang Es Podeng Nyeletuk

Tukang Es podeng: Di sini nggak bisa ngutang mbak (Yaelah, kayaknya Tukang Es Podeng bener-bener takut kami beneran bakal ngutang. Hehehehe)

Melihat tukang es podeng nyeletuk, aku dan Mel saling memandang, tersenyum dan langsung tertawa terbahak-bahak spontan. Tukang es Podeng jadi kebingungan.

Mel : Kami lagi bercanda kok Bang (Mel ngeluarin uang sepuluh ribuan dari dompetku. Tukang Es Podeng langsung senyum. Mukanya kayak orang menang udian, lega, seneng)

Kami jadi baikan dadakan dan meninggalkan tukang es podeng dengan berjalan bergandengan. Kuhampiri telinga Mel untuk membisikan, "Maafin aku yha Beib." Mel mengedip-ngedipkan mata kayak orang cacingan pertanda dia udah maafin aku.

So... Ternyata ada banyak masalah yang tidak perlu klarifikasi. Cukup diam, saling terima, saling mengerti sebab cinta mampu mengklarifikasi berbagai masalah yang tak terselesaikan.

Senin, Agustus 03, 2009

Dalam Doa Kekasihku...



Dalam doa kekasihku, ada namaku disebut. Dengan penuh cinta dan sayang, dengan penuh sakit dan beban, dengan penuh harap dan permohonan.

Dalam doa kekasihku, air mata adalah sebuah kewajaran. Kekasihku, Tuhan, doa dan air mata adalah irama yang harmonis di pagi buta.

Setiap ia melipat tanganya, dan mulutnya menyebut namaku meski aku masih dalam lelap, entah mengapa damainya terasa hingga kepori-pori jantungku. Kekasihku adalah nyawa bagiku. Dalam ketidakwajaran yang kami lalui, dia tetap menjadi pemuja Tuhan.

Dalam doa kekasihku, ada namaku disebut. Nama seorang perempuan yang sangat dicintai dan diinginkannya. Hingga tak mampu ia meminta apapun dari Tuhan untuk dirinya sendiri selain meminta kebahagiaan untukku.

Dalam doa kekasihku, cintanya bermekaran. Menebar kemerbakan di pagi yang dingin. Pagi itu, tangannya berserah, hatinya berpasrah dan pintanya mengiba. Akankah Tuhan mengabulkan segala pinta?

Tuhan, pandanglah kekasihku yang tak pernah lalai menyapamu sebelum menjalani hari. Peluklah dia dalam kecemasannya dan berikan cinta-Mu dalam kegalauannya. Yakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Antara dia, Engkau dan aku akan baik-baik saja...

Dalam doa kekasihku, ada namaku disebut. Diucapkan dengan cintanya, dilafalkan dengan sayangnya dan divokalkan dengan kasihnya.

Dalam doa kekasihku, aku tahu bahwa ia sangat mencintaiku...

Kekasihku, aku memuja doamu. Aku jatuh cinta pada kecintaanmu kepada Tuhan.

Sabtu, Agustus 01, 2009

Pertengkaran dalam Rumah Tangga Part 1


Siapa bilang hubunganku dengan Mel adem ayem tentrem tanpa masalah. Meski Mel itu penyabar dan aku itu bijaksana, hehehehe!!!. Tapi tetep aja yang namanya ribut akan selalu ada dalam setiap hubungan. Seperti kata ibuku, "Den, dalam dunia ini nggak pernah ada pasangan yang bener-benar cocok. Kalau ada ya karena dicocok-cocokin." Jadi, kami juga bertengkar kok. Tapi seberapa sering aku dan Mel bertengkar? dan apa penyebabnya?

Kalau ditanya seberapa sering, ya sering banget. Hehehehe, Mel bahkan punya kalender khusus yang bakal dia lingkarin pada hari kami bertengkar. Kalau dihitung-hitung minimal seminggu dua sampai tiga kali. Eits, jangan langsung mikir macam-macam dulu, sebab semua masih dalam batas kewajaran secara kami kan tinggal serumah. Jadi gesekan mah wajarlah, yang penting adalah bagaimana segala perbedaan dan keributan itu dapat diselesaikan dengan baik.

Lalu apa penyebabnya? Waduh banyak boss. Makanya mungkin untuk urusan ribut ini, akan aku tulis dalam beberapa posting. Intinya penyebab keributan yang utama adalah cuma urusan sepele, misalnya cuma karena lupa naruh kacamata.

Kali ini penyebab keributan adalah masalah kecepatan dan ketepatan. Aku adalah tipe orang yang kerjanya cepat (meski aku juga suka menunda pekerjaan, hehehehe) tapi nggak pernah tepat, sedangkan Mel adalah tipe orang yang kerjanya lambat tapi tepat dan akurat.

Hal inilah yang menjadi cikal bakal penyebab keributan dalam rumah tangga kami. Misalnya dalam hal mandi dan berpakaian, Mel butuh waktu 30 menit hanya untuk mandi, dan 30 menit untuk memakai baju, body lotion, bedak dan nyisir. Coba bayangkan, Mel butuh 1 jam dari mulai dari mandi hingga siap berangkat kerja, sedangkan aku hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk mengerjakan semua hal itu. Tapi, mohon dimaklumi apabila ditemukan sisa sabun di rambut dan kupingku.

Atau misalnya dalam hal membuat materi untuk mengajar anak-anak, Mel biasanya membutuhkan waktu tiga hari untuk mengerjakannya, sedangkan aku hanya butuh waktu tiga jam untuk menyelesaikan. Tapi sekali lagi harap maklum kalau tiba-tiba ditemukan banyak ketikan yang salah pada hasil kerjaku, misalnya mau nulis "jengkel" jadi "jengkol".

Atau misalnya saat makan, Mel harus mengunyah makanan hingga 28 kali (sesuai dengan jumlah giginya, gigi grahamnya belum tumbuh loh hehhehehe), jadi dia membutuhkan waktu dua kali lipat lebih lama dariku yang mengunyah makanan hanya empat sampai tujuh kali. Tapi harap maklum kalau ditemukan Mel sedang menangis gara-gara aku yang lagi mengap-mengap ketelek tulang ikan.

Nah, di mana letak keributannya? Itu karena aku yang keseringan protes sama speed-nya Mel, dan Mel yang sering nyalahin keseleboranku. Nah, untuk bisa langsung memahaminya, mari simak percakapan di bawah ini.

De Ni : Say buruan dong telat neh kita!!! (aku udah di motor, udah memakai helm dan segala perlengkapannya pula, Mel masih di dalam rumah meriksa tas).
Mel : Sabar dong Hon, tar kalau ada yang ketinggalan gimana? aku mau periksa tas kamu dulu, jangan-jangan ada yang ketinggalan. (mel teriak dari dalam rumah)
De Ni : Nggak usah... cepetan ah kamu. Kamu mah lelet!!! (Teriak dari luar rumah)
Mel : (Mel keluar rumah langsung nangkring di motor) Loh kok kamu nuduh aku lambat? Aku kan cuma pastiin biar barang-barang kamu nggak ada yang ketinggalan. Tas kamu belum aku periksa loh.
De Ni : (Sambil narik tas) nggak usah, kita udah telat banget say. Aku tuh paling males ngebut-ngebut di jalan.
Mel : Loh? Jadi kamu marah???
De Ni : Kamu seh kalau dibilangin nggak ngerti-ngerti. Kan bahaya ngebut di jalan karena ngejar absen kantor. Kalau kecelakaan gimana hayo???
Mel : Kamu kan sering ninggal barang-barang, apa susahnya aku pastiin dulu.
De Ni : Iya kamu mau telat masuk kerja???
Mel : (Buang muka) duh kamu.... Apa susahnya seh periksa tas kamu dulu, mending periksa dulu deh. Paling cuma 5 menit.
De Ni : Duh ribet, bodo ah...
Mel : Ya udah kamu jawab pertanyaanku aja yha!!! Handphone, bawa?
De Ni : Bawa
Mel : Flasdisk, CD dan arsip kantor, bawa?
De Ni : Iya
Mel : Ompreng nasi bawa?
De Ni : itu mah penting, bawalah pasti
Mel : Minyak kayu putih, Teh hijau, obat pusing, suplemen vitamin, bawa?
De Ni : Iya iya
Mel : Handuk kecil, tisu basah, dom...
De Ni : (nyelak) ADUUUUUUUH UDAH DEH SAY... kita dah telat beneran.
Mel : Apa seh susahnya kamu periksa lagi, sini tasnya aku yang periksa. Cuma butuh waktu 5 menit kok say. Nggak bakal bikin telat...
De Ni : Aduh nggak usah deh say, TELAT TELAT TELAT!!! (Mel cemberut)
Mel : Hidung jambu lo dibawa nggak tuh? (Mel ngoceh ngasal, tanda dia dah bete abis)
De Ni : Tau ah!!! Lo mah kalau dah kesel bawa-bawa fisik!!!

Setelah 7 KM, artinya setelah kurang lebih 20 menit perjalanan, aku berenti mendadak, Si Mel yang lagi ngambek ampe kaget.
Mel : Kenapa seh???
De Ni : Gawat neh, kita mesti balik!!!
Mel : Loh??? Kenapa???
De Ni : Dompet ketinggalan...
Mel : GUBRAKKKK!!!! TUH KAN... TADI JUGA AKU BILANG APA, PERIKSA DULU OM DENIIIIIII. TELAT TELAT TELAT!!! INI SEH BENERAN TELAT OM....

Kamis, Juli 30, 2009

Sahabatku...


Sahabatku, aku ada di sini dan engkau ada di sana. Terbentang jarak ribuan mill, melewati laut, samudra dan benua. Tapi aku tahu, dalam jarak yang membentang kita selalu dekat dalam doa.

Sahabatku, aku berjumpa denganmu dalam siang dan kau menjumpaiku saat malam. Terbentang waktu yang panjang, melewati detik, menit dan jam. Tapi aku tahu, dalam perbedaan waktu yang membentang kita selalu dekat dalam harapan.

Sahabatku, aku tersenyum mengingatmu. Seorang andro yang sangat low profile. Kamu jauh lebih tua dariku, tapi selalu mendengar nasehatku dan mengangkatku dalam kedudukan yang setara denganmu. Kamu suka berbagi, tapi langsung bersembunyi karena takut ada orang yang melihat perbuatan baikmu. Kamu tak butuh sanjungan dan alergi pada ucapan terima kasih.

Sahabatku, di mataku kamu adalah perempuan aneh. Kamu punya sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Sesuatu yang sulit aku jelaskan, namun sering membuatku tersenyum. Sulit menebak apa yang kau pikirkan, tapi begitu mudah menyelami kebaikan hatimu.

Kau memang miterius dan tertutup seperti angin yang tak terlihat. Sudah hampir setahun kita bersahabat, tapi tak sedikit pun aku tahu tentangmu. Tapi, tak apalah. Karena bagiku yang terpenting adalah bisa membangun persahabatan yang sehat dan bisa belajar banyak darimu. Belajar tentang kemandirian, tentang cara berpikir positif, tentang semangat berjuang, tentang keberserahan kepada Tuhan.

Sahabatku, sedang apa kau sekarang? Sedang bersembunyi di balik selimut tebal atau sedang masak nasi goreng? Sedang menyanyi atau nonton DVD? Sedang kumpul dengan teman-temanmu atau sedang membantu sahabatmu pindah rumah? Entah apa yang sedang kau lakukan sekarang, yang jelas aku ingin berterima kasih padamu.

Terima kasih untuk perhatianmu pada masa depanku, terima kasih untuk semua harapan baik yang kau panjatkan untuk hubunganku dengan Mel, terima kasih untuk semua waktu dan nasehatmu. Memiliki sahabat sepertimu adalah sama dengan menggengam mutiara di tanganku.

Sekali lagi, untuk "perempuan aneh" yang terbang di dunia mayaku bagai angin, kuucapkan terima kasih untuk segalanya...

Karena Kamu adalah Cinta


Kekasihku, ingatkah kau kapan terakhir kali aku pulang kantor dan memberimu kejutan setangkai bunga yang sengaja aku sisipkan dalam jaket? Ingatkah kau kapan terakhir kali aku memberimu coklat yang bungkusnya aku ganti dengan kata-kata puitis? Kapan terakhir kali aku memainkan piano dan bernyanyi lagu cinta untukmu? Kapan terakhir kali aku mengajakmu berdansa? Kapan terakhir kali aku memuji kecantikanmu? Kapan terakhir kali aku mencetak fotomu lalu menghiasnya dalam sebuah album? kapan terakhir kali aku masak puding dan sayur buncis kesukaanmu? dan kapan terakhir kali aku menyuapimu vitamin dan membuatkanmu segelas susu?

Aku tahu, kamu sangat menyukai semua hal ini. Kau menyebutnya romantis dan selalu memujiku karena aku romantis. Sayangku, kau pun harus tahu bahwa justru aku sangat bersyukur punya kekasih yang bisa aku perlakukan romantis sepertimu.

Hanya, sekarang ingatkan aku, kapan terakhir kali aku melakukan semua itu?

Kusadari belakangan aku lupa romatis, meski tiap hari aku mencium dan memelukmu erat. Tapi ciuman dan pelukan itu lebih mengarah kepada ciuman dan pelukkan keresahan.

Bukan, bukan kesibukan yang telah melimpahkan segala keresahan. Tapi keberhargaanmu dihatiku yang telah membungkusku rapat dalam keresahan. Aku resah, cemas, takut, rapuh, sakit. Dan semua hal ini membuatku hanya bisa berkata, "Aku nggak mau kehilangan kamu Beib!" Kekasihku, hanya kata-kata itu yang mampu terucap setiap kali aku bersamamu.

Mestinya aku tidak berhati banci, mestinya aku tidak melankolis, mestinya aku lebih dewasa darimu, lebih kuat, lebih tegar, lebih bijak. Tapi dalam hal ini aku bukan siapa-siapa. Aku adalah orang yang baru mengerti arti cinta dan arti takut kehilangan.

Dulu aku selalu heran melihat orang menangis karena putus cinta. Dulu logikaku tak mampu menerima mengapa ada orang yang bunuh diri karena cinta, mengapa ada orang yang hidupnya hancur karena asmara. Sekarang, aku baru memahami apa arti cinta itu. Cinta itu adalah kekuatan yang mampu membahagiakan dan menerbangkanku setinggi langit, tapi kekuatannya juga mampu menyakiti dan menghempaskan aku ke jurang.

Kemarin temanku berkata: "Mencintai seseorang adalah kesakitan, jadi lebih baik dicintai." Tapi, aku sadar bahwa mencintai adalah anugerah. Sebab mencintaimu mengajarkanku arti memberi dalam ketidakmampuan, arti berkorban dalam ketidakberdayaan, arti bertahan dalam kerapuhan. Bersamamu, aku mengerti bahwa cinta begitu bernilai.

Sayang, siapkanlah dirimu karena hari ini aku akan membawakanmu setangkai bunga, mempersembahkan sebatang coklat yang berbungkus bait-bait asmara, menyanyikan lagu cinta dan berdansa denganmu dalam ribuan pujianku atas kecantikanmu, lalu kita akan makan sayur buncis dan puding coklat. Saat makan, liriklah meja makan kita karena ada fotomu berhias di sana. O.. iya, jangan lupa minum vitamin dan segelas susu coklatmu.

Karena kamu adalah cinta...

Dalam sakit maupun bahagia, dalam duka maupun suka, dalam tangis maupun tawa, cinta akan tetap berharga...

Senin, Juli 27, 2009

Waspada Bom!!!


Meskipun udah seminggu lebih Indonesia gempar bom J.W. Marriot dan Rizt Carlton (pelakunya perlu dihukum seberat-beratnya), tapi si Mel masih ngelarang aku ke sana sini, terutama ke tempat-tempat yang banyak orang bulenya. Kenapa Mel jadi parno??? Penyebab utamanya adalah JO. Sebab saat kejadian hotel JW. Marriot dan Rizt Carlton meledak, Jo adalah orang yang lolos dari maut. Dan sebagai orang yang lolos dari maut, dia serta merta langsung nge-warning sahabat-sahabatnya, termasuk neleponin Mel.

Berhubung Mel itu masih polos, tulus, baik hati dan rajin gosok gigi, maka Mel yang tadinya biasa aja, adem ayem dan penuh damai sejahtera, tiba-tiba jadi grusa grusu sehabis menerima telepon dari Jo. Dia jadi cerewet banget. Aku yang pada saat itu lagi ada di mall, jadi kecapean sendiri menerima telepon dan SMS Mel yang sebenernya isinya cuma nyuruh aku pulang buru-buru.

Ternyata ketakutan berbuntut panjang. Aku jadi nggak boleh pergi ke sembarang Mall, terutama ke mall yang dianggap Mel rawan. Padahal sereting jaketku udah jebol, jadi aku harus beli jaket baru. Dan masalahnya, jaket yang bener-bener bagus dan harganya rada murah tuh cuma ada disebuah mall yang menurut Mel daerah itu rawan. Jadi, aku harus menunda membeli jaket baru untuk beberapa saat sampai ketakutannya Mel redah.

Akibatnya, kemarin aku kedinginan banget. Ya gimana nggak kedinginan? lah wong jaket yang aku pake nggak bisa diseretingin. Yang ada sepanjang jalan perutku kelibas angin melulu. Akhirnya aku jadi mual, mules dan kembung. Nggak perlu dokter Jo buat mendiagnosa, aku udah tahu kalau aku masuk angin.

Sampai di rumah aku langsung lari ke WC (si mami ampe bengong), tapi nggak keluar juga sesuatu yang aku harapkan keluar itu. Akhirnya aku kembali ke kamar sambil ngegerutu, "Duh perutku nggak enak neh say." Si Mel yang lagi asik ngerjain tugas kuliah diam aja. Aku bolak balik nggak bisa diam. Jongkok, tiduran, guling-gulingn dan mukul-muluk perut yang jelas-jelas dalamnya angin semua.

Nggak lama setelah aku mukul-mukul perut, tiba-tiba terdengarlah sebuah ledakan ampe tiga kali "Duuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutttttttt, duuuuuuuuuuuutttttttttttttttt, duuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutttttttttttttttt." Ah aku lega, perutku udah nggak mual lagi, sebab mualnya udah pindah ke Mel. Dia langsung lari keluar kamar sambil nutup hidung.

Di luar kamar Mel teriak "Busyet deh say, ketut lo ya??? Bauuuuuuu tahu!!!"

Aku yang masih melongo menyahut dari dalam kamar "Ini kan gara-gara kamu nggak kasih aku beli jaket di mall XXX makanya aku jadi masuk angin."

"Ye, aku kan cuma nggak mau kamu kena ledakan bom say, salah yha???"

"Nggak seh, cuma lihat dong buktinya, bomnya jadi meledak di rumah kita sendiri kan???"

"Iya tapi kamu jangan lebay dong. di Marriot dan Rizt Carlton kan cuma meledak dua bom say. Di rumah kita kenapa bomnya meledak tiga kali???"

"Hehehehehe" Aku keluar kamar ingin memeluk Mel gemes, tapi Mel malah lari, "Sono, sono, sono, kamu bau, bauuuuuuuuuuuuuuuu."

Minggu, Juli 26, 2009

Siapa yang Mau Temanin Aku???


Thanks banget buat semua info temen-temen tentang siaran ulang konser Jacko di RCTI (bahkan ada yang ampe sms saat konser jacko, tapi sayang HP-ku disilent, hikh). Intinya Mel girang banget, aku apalagi, secara aku kan nggak perlu lagi repot-repot cari DVD di Glodok. Pokoknya punya banyak temen yang baik dan perhatian adalah hoki besar deh.

Hari Sabtu adalah hari yang mengembirakan buat Mel, dari pagi dia dah cengar cengir dan ingetin aku berkali-kali soal konser Jacko "Say, tar malam loh jangan lupa!"
"Iya!!!"
"Jam sepuluh malam ya say!"
"Iya, iya!!!"

So hari sabtu dilewati dengan sukacita, siangnya aku dan Mel sempet jalan ke mall, nonton, makan dan main games. Sampai di rumah dah jam sembilan malam. Mel langsung nongkrong di depan TV. Petir berbunyi berkali-kali, hujan akhirnya turun, deras banget. Mel langsung berdoa dengan sungguh-sungguh biar nggak mati lampu. Untungnya lampu nggak mati, padahal biasanya kalau hujan pasti mati lampu.

Jam sembilan malam saat udara dingin menyelimuti seiisi rumah. Nunggu konser Jacko masih lama. Aku mulai ngantuk, si Mel juga. Secara Jumat malam emang kami tidur jam 3 pagi, si Mel sibuk ngerjain tugas kuliah, aku sibuk kerja. So, demi memanfaatkan waktu luang, akhirnya kami putuskan buat tidur ampe jam 10 malam secara udara sejuk banget, lagian seharian ini aku dan Mel juga kecapean jalan.

Aku pasang alarm di HP Mel. Jam 10 tepat alarm di HP Mel bunyi. Aku terbangun duluan. Aku langsung bangunin Mel, tapi Mel tetep molor mungkin karena sakin capenya. Alarm masih bunyi, namun di antara alam mimpi dan alam nyata, aku malah matiin alarm HP dan langsung tidur lagi.

Tiba-tiba aku tersentak. Astaga!!! Ini kan konser Jacko kenapa aku nggak bangunin Mel? Aku langsung menggocang tubuh Mel. Mel bangun kelabakan.
"Say, konser Jacko, dah mulai yha? dah mulai? Dah jam 10 say?"
Aku melirik jam tangan, ASTAGA!!! Jam satu berarti konsernya sudah kelar. Si Mel langsung nyalahin TV.
"Say kok nggak ada? Kok nggak ada konsernya?"
"Say, aduh say, sorry... sorry banget. Sebenarnya aku berat banget ngomong ini"
"Ngomong apa???"
"Duh, berat..."
"IYA APAAAAA? Ngomong aja!!!"
"Say, maaf, sekarang udah jam satu pagi..."
"APA????? JAM SATU. SAY KOK KAMU NGGAK BANGUNIN AKU!!!" Mel langsung duduk lemas.
"Aku udah bangunin kok say"
"Iya, tapi pasti kamu banguninnya nggak sungguh-sungguh."
"Sungguh-sungguh kok."
"Tapi kok aku nggak bangun?"
"Ye, Meneketongseng."
"Kamu tuh kalau bangunin aku untuk urusan yang 'itu' aja, bisa bikin aku ampe bener-bener bangun. Ini kan lebih penting say. Konser Jacko say."
"Iya, nanti juga bakal diputar ulang lagi kok ma RCTI."
"NGGAK MUNGKIN AMPE TIGA KALI!!!"
Si Mel buang muka lalu molor lagi. Aku langsung melongo dan ngucek-ngucek mata, nggak percaya semua ini terjadi. Dua kali konser Jacko, dua kali gagal nonton. Tapi anehnya kali ini aku kok nggak ngerasa sedih ya??? Ngeliat Mel ngambek aku malah jadi ketawa. Kasihan, tapi lucu. Lucu banget!!! Hahahaha!!!

Tadi pagi, aku godain Mel, sambil sesekali berjoget ala Jacko "Yihii". Si Mel ngambek berat. Dia nggak mau siapin sarapan, nggak mau bikinin kopi, nggak mau dipeluk, nggak mau dicium. Pokoknya dia ngambek beraaaat. Meski si mami dah ngomel-ngomelin dia karena nggak mau keluar kamar dan ngurusin keperluanku, tapi Mel tetep aja ngerem di kamar. Bibirnya maju ampe lima senti bikin aku pengen banget ngejepit bibirnya pake jepitan baju.

Lucu banget kekasihku itu. Bolak-balik, buang muka, cemberut, ngegerutu, "Kenapa kamu nggak bangunin aku???" Itu terus yang dia omongin.

Sebenernya seh pengen ketawa, tapi kasihan juga kalau ada yang ngambek dicuekin. Jadi, dari pada pusing, besok aku ke Glodok deh. Siapa yang mau temenin aku cari DVD ke Glodok??? Tar aku traktir makan mie dech.

Jumat, Juli 24, 2009

Tetang Masa Depan...



Pergilah ke langit dan hitunglah berapa jumlah bintang yang berkelip di sana, berlarilah ke pantai dan hitunglah berapa butir pasir yang bertebaran di sana, nikmatilah makananmu dan hitunglah berapa jumlah butir nasi dalam setiap piringnya, karena aku butuh kepastian.

Aku ingin semuanya pasti supaya aku bisa melangkah kepada tujuanku. Sebab waktu sedang mengejarku, ia berlari demikian cepat, secepat kilat menghantarkan anak perempuan yang barlari dengan kolor ke sana kemari menjadi perempuan dewasa. Rasanya baru kemarin aku lahir dan sekarang aku akan segera mati.

Aku sudah lelah pada sekelumit ritual. Bangun pagi, sarapan, kerja, makan, tidur lalu bangun lagi. Lama-lama aku akan menjadi lesbian bodoh yang membusuk dalam rutinitas. Aku ingin bangkit dan memandang matahari, melihat hari esok, dan berjalan dalam kemantapan. Jadi berikanlah aku sebuah kepastian supaya aku tidak galau, limbung, resah, gelisah dan gila.

Berikanlah kepastian tentang dunia masa depan kita, dunia di mana segala cita-citaku terwujud. Berikalah kepastian apakah kau akan ada di sana, tersenyum bersamaku, di puncak segala kesuksesanku.

Sebab jika kau tetap berdiri di sana. Menjadi orang pertama yang tersenyum atas segala keberhasilanku, maka kusebut diriku makhluk terbahagia di dunia ini. Namun jika kepastianmu adalah bahwa kau tidak akan berdiri di sana, bahwa kau akan berdiri di samping yang lain untuk mendampingi keberhasilannya, maka ijinkan aku berdiam hari ini.

Jangan kau suruh aku membencimu, sebab aku tidak akan pernah melakukan sesuatu yang tidak mungkin aku lakukan. Ijinkan aku tetap mencintaimu dalam persembunyianku, sebab sama seperti dulu aku mengagumimu dan mencintaimu dari jauh, aku pun ingin mengakhirinya dengan cara demikian.